Cari Blog Ini

Bidvertiser

Kamis, 07 Januari 2016

Ketegangan di Laut Tiongkok Selatan (Kompas)

Tiongkok mengukuhkan kehadirannya di Laut Tiongkok Selatan dengan mendaratkan pesawat terbang di pulau buatannya di perairan itu.

Dengan dioperasikannya landasan pacu di pulau buatan yang dibangun Tiongkok di perairan Laut Tiongkok Selatan itu, 2 Januari lalu, praktis Tiongkok dapat mengendalikan perairan dan wilayah udara di kawasan itu.

Pulau buatan itu dibangun Tiongkok di gugusan karang Fiery Cross di Kepulauan Spratly, Laut Tiongkok Selatan, yang menjadi area tumpang tindih klaim wilayah antara Tiongkok, Filipina, dan Vietnam. Itu sebabnya, begitu pesawat terbang Tiongkok mendarat di pulau buatan itu, Vietnam langsung mengajukan nota protes secara resmi kepada Tiongkok. Filipina pun akan melakukan langkah serupa.

Namun, seperti di masa-masa lalu, nota protes itu diabaikan Tiongkok, yang menganggap perairan itu sebagai wilayah kedaulatannya. Dari keterangan yang diberikan para pejabat Tiongkok, tampak jelas bahwa Tiongkok tidak menganggap pulau buatan yang dibangunnya itu dibangun di atas wilayah sengketa. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Hua Chunying, menegaskan, pulau buatan itu berada di wilayah yang benar-benar dalam kedaulatan Tiongkok.

Itu sebabnya, tidak berlebihan jika kita menilai bahwa Filipina dan Vietnam tertinggal satu langkah mengingat Tiongkok telah hadir secara fisik di sana. Mengusir Tiongkok dari sana dengan menggunakan kekuatan militer pasti bukan pilihan. Yang paling mungkin adalah membawa penyelesaian tumpang tindih klaim wilayah di perairan itu ke Mahkamah Internasional. Meski demikian, efektivitas langkah itu juga dipertanyakan mengingat Tiongkok tidak mau mengakui keberadaan lembaga internasional itu.

Yang kita perkirakan akan terjadi adalah ketegangan akan meningkat di perairan itu. Bahkan, bukan tidak mungkin akan terjadi gesekan-gesekan karena Filipina dan Vietnam pasti tidak mau tunduk pada aturan yang diterapkan Tiongkok di perairan itu. Beberapa waktu lalu, pesawat patroli Filipina terbang mendekati pulau buatan itu dan langsung mendapat peringatan untuk menjauhi wilayah kedaulatan Tiongkok.

Tidak dapat dimungkiri bahwa Amerika Serikat adalah satu-satunya negara yang dapat mengimbangi agresivitas Tiongkok di kawasan ini. Kekhawatiran terbesar kita adalah peningkatan kehadiran Tiongkok di Laut Tiongkok Selatan akan membuat Amerika Serikat kembali hadir secara mendalam di kawasan ini atas permintaan negara-negara anggota ASEAN. Hal itu mengingat ada empat negara ASEAN yang memiliki tumpang tindih klaim di Laut Tiongkok Selatan, yakni Brunei, Filipina, Malaysia, dan Vietnam.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 7 Januari 2016, di halaman 6 dengan judul "Ketegangan di Laut Tiongkok Selatan".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger