Cari Blog Ini

Bidvertiser

Sabtu, 05 November 2016

Penjelasan dari JATAM//Rendahnya Pendidikan Kita (Surat Pembaca Kompas)

Penjelasan dari JATAM

Kami telah mempelajari jawaban Redaksi Kompas atas surat Saudari Harwati pada rubrik Surat kepada Redaksi, Kompas edisi cetak tanggal 4 Juli 2016 halaman 7.

Jawaban Kompas tersebut sungguh mengecewakan karena bernada arogan dan kembali menyalahkan Saudari Harwati sebagai sumber informasi yang dituliskan wartawan Kompas, Saudari Runik SA.

Sekali lagi kami sampaikan bahwa pemberitaan tersebut menyesatkan. Masalah yang warga hadapi sejak 29 Mei 2006 sampai dengan sekarang adalah jauh lebih berat daripada kehilangan petak dan bangunan tempat tinggal. Di samping masalah kesehatan warga, terutama kelompok usia rentan, yang bahkan kurang sekali menjadi perhatian, warga juga mengalami derita sosial dan kerusakan permanen, yaitu hilangnya kepastian penghidupan serta hilangnya ingatan sosial, sejarah kampung, dan situs-situs penting termasuk pemakaman keluarga.

Jerih payah warga di wilayah luapan lumpur untuk bertahan hidup serta untuk memulihkan trauma jauh lebih berat dan tak bisa dibandingkan dengan ganti rugi atas kehilangan petak lahan tempat tinggal semata.

Sebagai tanggapan atas jawaban Kompastersebut, kami kembali menegaskan sebagai berikut:

Pertama, peristilahan jual beli lahan yang digunakan dalam artikel tersebut menyesatkan dan membentuk citra warga di wilayah bencana seakan-akan adalah pelaku bisnis transaksi lahan dalam industri properti.

Kedua, artikel telah mencoreng nama baik Saudari Harwati yang secara khusus disoroti sebagai calo tanah. Bukan saja informasi tersebut tidak benar, melainkan juga hal ini bertentangan dengan peran sosial yang bersangkutan dalam perlawanan terhadap ketidakadilan dan terlalu piciknya kerangka mitigasi bencana lumpur tersebut.

JATAM telah melakukan pemeriksaan silang dan verifikasi atas setiap frase yang digunakan dalam artikel Kompas,termasuk bagaimana artikel tersebut mengedepankan profil Saudari Harwati sebagai calo beserta atribut personal lainnya.

Atas perhatian dan tanggapannya, kami sampaikan terima kasih.

MERAH JOHANSYAH KOORDINATOR NASIONAL JARINGAN ADVOKASI TAMBANG (JATAM)

Catatan Redaksi:

Kami menyampaikan permohonan maaf kepada pembaca dan Ibu Harwati. Kami juga menyampaikan terima kasih kepada JATAM yang telah mengoreksi kesalahan kami. Terima kasih

Rendahnya Pendidikan Kita

Membaca usulan Bapak Daoed Joesoef di harian Kompas (14/10/2016) yang berjudul "Sekolah 24 Jam, untuk Apa", saya sangat setuju. Memang sudah 30 tahun lamanya sistem pendidikan kita ini morat-marit, setiap ganti menteri ganti sistem. Murid selalu menjadi korban karena mereka jadi kelinci percobaan.

Kenyataannya, hasil survei Programme Internationale for Students Assessment (PISA) tahun 2012 dari 64 negara yang disurvei menunjukkan, Indonesia urutan ke-60 dengan angka rata-rata di bawah level 1, sementara level tertinggi adalah 6.

Survei Programme for the International Assessment of Adult Competencies (PIAAC) tahun 2016 pada 34 negara yang menguji tingkat literasi, numerasi, dan kemampuan memecahkan masalah pada cakupan usia 16-55 tahun, Indonesia di peringkat ke-34. Nilai rata-rata di bawah 1 dengan 5 sebagai angka tertinggi.

Kemudian di kolom Surat Pembaca Harian Kompas, Bapak Sugeng Hartono menulis "Pendidikan Kita", bercerita tentang keprihatinannya karena bertemu seorang siswa SMA yang tidak tahu letak Pulau Kalimantan. Apakah kenyataan ini merupakan gambaran dari selama 30 tahun bongkar pasang sistem setiap penggantian menteri? Apalagi selama beberapa tahun terakhir ada target kelulusan sekolah 100 persen, yang ditempuh dengan berbagai cara?

Maka, menurut saya, sekarang yang harus dicari adalah bagaimana solusi persoalan serius ini dalam waktu sesingkat-singkatnya karena mereka yang muda akan menjadi calon pengganti yang tua.

Sebentar lagi kita akan masuk era "bonus demografi". Jangan sampai yang muncul adalah angkatan kerja yang tidak terampil sehingga akhirnya hanya menjadi tenaga kerja murahan.

DRS KUSUMO SUBAGIO, MANTAN DOSEN ITB

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 5 November 2016, di halaman 7 dengan judul "Surat Kepada Redaksi".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger