Selama hampir dua tahun, komunikasi langsung lewat sambungan telepon itu terputus karena Korut enggan mengaktifkannya. Selama periode itu, komunikasi di antara mereka dilakukan secara tidak langsung, yakni lewat pernyataan yang dibacakan dalam siaran televisi.
Telepon yang menjadi sarana komunikasi langsung Korsel-Korut berada di kawasan perbatasan kedua negara. Pada sisi Korsel, perangkat telepon berada di sebuah bangunan yang dilengkapi pula dengan mesin faksimile.
Dibukanya kembali saluran komunikasi langsung diawali saat Pemimpin Korut Kim Jong Un menyampaikan pidato Tahun Baru. Ia, seperti biasa, mengeluarkan ancaman nuklir terhadap Amerika Serikat. Namun, kali ini, Kim mengusulkan dilakukan negosiasi langsung antara Seoul dan Pyongyang guna mengurangi ketegangan militer serta menjajaki kemungkinan atlet Korut berlaga dalam Olimpiade Musim Dingin di Korsel, bulan depan.
Presiden Korsel Moon Jae-in segera meresponsnya dengan mengusulkan pembicaraan antarpejabat di desa perbatasan Panmunjom. Moon juga meminta Korut mengaktifkan kembali saluran telepon di perbatasan kedua negara. Korut menyanggupinya dan, Rabu lalu, dua petugas di kedua negara sudah berkomunikasi lewat telepon untuk mengecek sarana tersebut.
Kesediaan Kim Jong Un membuka lagi komunikasi langsung terjadi di tengah menguatnya tekanan terhadap Korut. Sanksi ekonomi yang diterapkan komunitas internasional tergolong sangat berat sehingga diperkirakan sangat memukul perekonomian negara itu. Sanksi bertujuan mencegah Korut memiliki kemampuan untuk mengembangkan senjata nuklir ataupun rudal balistik antarbenua.
AS menilai langkah Korut itu bertujuan "merenggangkan" hubungan Seoul dengan Washington. Menurut analis, jika Korsel menjadi rekan dialog Korut, aliansi AS-Korsel akan terganggu. Jika penilaian ini benar, kesediaan Kim untuk mengaktifkan kembali saluran telepon di Panmunjom tidak tulus. Pembukaan kembali jalur komunikasi langsung antarkeduanya hanya sasaran antara untuk mengurangi tekanan terhadap Korut.
Akan tetapi, kesediaan Pyongyang untuk menjalin komunikasi langsung sampai saat ini tetap harus diberi respons positif. Bukan tidak mungkin, sambungan telepon di Panmunjom itu betul-betul menjadi awal bagi terciptanya dialog sejati di antara kedua belah pihak.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar