
Kepanikan sempat berlangsung di Jakarta dan sekitarnya kala gempa M 6,1 mengguncang, Selasa (23/1). Suatu hal yang tak perlu terjadi jika kita siap menghadapi gempa.
Guncangan gempa memang tidak selalu terasa sehingga bisa menurunkan kewaspadaan menghadapinya. Sejumlah media mengabarkan, para karyawan di gedung bertingkat berhamburan turun dan berkumpul di halaman atau di ruas jalan. Bahkan, seorang siswa SMK di Kabupaten Cianjur panik dan meloncat dari lantai dua gedung sekolah hingga terluka.
Kita bersyukur tak ada korban jiwa akibat gempa yang berpusat di Samudra Hindia, tepatnya pada jarak 67 kilometer arah barat daya Kabupaten Sukabumi itu. Akan tetapi, ada banyak hal yang patut dibenahi dalam hal pemahaman dan kesiagaan agar tidak lagi memunculkan respons yang berlebihan. Apalagi, saat-saat seperti ini ada saja yang menambah kepanikan dengan menyebarkan hoaks alias kabar bohong.
Dilihat dari frekuensi gempa, Indonesia sebenarnya tidak jauh beda dengan Jepang. Indonesia merupakan wilayah rawan gempa karena menjadi jalur pertemuan tiga lempeng tektonik, yakni Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik. Tingkat kegempaan ini makin tinggi dengan ancaman gempa vulkanik, mengingat Indonesia merupakan negeri cincin api. Namun, dalam hal mitigasi dan siaga bencana, Indonesia jauh tertinggal dari Jepang.
Ketika gempa melanda Kobe pada 1995 dan menewaskan lebih dari 6.000 orang, evaluasi bencana segera dilakukan. Inilah gempa terburuk setelah gempa Kanto pada 1923 yang menewaskan 140.000 orang. Hasil evaluasi membuat pemerintah menetapkan standar bangunan tahan gempa hingga skala 6 MMI, selain memetakan semua daerah rawan gempa dan tsunami.
Masyarakat pun diajari siaga menghadapi gempa sejak usia dini, dengan memasukkan kesiagaan bencana dalam kurikulum sekolah. Di setiap gedung tinggi, baik apartemen maupun perkantoran, ada latihan teratur menghadapi bencana. Bahkan, di seluruh kantor Pusat Pemberitaan Bencana dan Keselamatan Nippon Hoso Kyokai, setiap pukul 21.00, ada pelatihan siaga bencana, terutama gempa.
Di Indonesia, semangat untuk belajar dari bencana ini belum kelihatan. Gempa dan tsunami Aceh, gempa Yogyakarta, bahkan Tasikmalaya dan Garut, tidak menjadi titik tolak pembelajaran. Terbukti dari kacaunya respons gempa dua hari lalu.
Kenyataannya ada banyak sumber gempa baru yang belum teridentifikasi, termasuk di Jakarta. Batavia yang menjadi cikal bakal Jakarta sesungguhnya pernah dilanda gempa berkekuatan M 8-9, yang merusak, pada 1699 (Kompas, 20 Oktober 2015). Sementara di kota-kota besar, antara lain Surabaya, Semarang, Bandung, dan Cirebon, baru diidentifikasi ada sumber sesar baru. Selama ini, di kota-kota itu jarang ada edukasi perihal gempa karena siklus gempanya panjang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar