Bidvertiser

Selasa, 03 Juli 2018

Repotnya Mengurus SIM//Lebaran Ketupat (Kompas)

KOMPAS/HERU SRI KUMORO

Warga antre memperpanjang surat izin mengemudi di layanan bus SIM keliling di Jalan Ciledug Raya, Petukangan Selatan, Jakarta Selatan, Kamis (1/3/2018). Keberadaan layanan di tempat-tempat strategis, seperti di pinggir jalan raya, mal, dan pasar memudahkan warga untuk mengurus perpanjangan SIM yang dekat dengan tempat tinggalnya.

Repotnya Mengurus SIM

Tanggal 30 Mei 2018, saya memperbarui SIM C yang kedaluwarsa di Polres Wonosobo, Jalan Bhayangkara. Saya membayar Rp 40.000 untuk cek kesehatan, mengisi formulir, kemudian antre sekitar 1,5 jam untuk foto. setelah itu, saya dipanggil mengikuti tes teori. Lulus tes teori, saya diminta kembali esok hari untuk tes praktik karena kata petugas hari itu tidak ada tes praktik.

Tes praktik berkeliling kota dengan motor diikuti polisi penguji, berbeda dengan tes praktik yang pernah saya jalani. Saya dinyatakan tidak lulus, dianggap menyetir membahayakan orang lain dan diminta tes ulang seminggu kemudian. Apabila tidak mau tes ulang, oknum polisi menyuruh saya membayar Rp 350.000 dan menjamin SIM C jadi hari itu juga.

Padahal, ada spanduk besar bertuliskan "Tidak Menerima Suap, Pemberi dan Penerima Suap Sama-sama Bersalah". Beberapa peserta yang tidak mau membayar harus kembali 4-5 kali hingga dinyatakan lulus. Sebanyak apa waktu yang harus saya luangkan untuk mengurus SIM dengan tanpa suap? Apakah penduduk Indonesia itu tidak punya urusan lain selain mengurus SIM?

Saya banyak sekali membaca keluhan masyarakat mengenai tes SIM yang tidak wajar dan pungutan liar bertahun-tahun lalu. Namun, ini, kan, tahun 2018, 20 tahun pascareformasi, mengapa saya masih mengalami masalah yang sama?

WS Yudha
Sukabumi Utara, Kebon Jeruk,
Jakarta Barat 11540

 

Lebaran Ketupat

Idul Fitri menjadi titik balik manusia ke fitrahnya: terlahir kembali dalam keadaan fitri (suci). Di Indonesia, momen Idul Fitri selalu diikuti dengan lebaran ketupat yang diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga.

Untuk sebagian masyarakat Indonesia, biasanya tradisi lebaran ketupat dilaksanakan satu minggu setelah Idul Fitri, sebagai wujud apresiasi kepada mereka yang berpuasa enam hari di bulan Syawal. Umumnya ketupat disajikan dengan opor ayam, tetapi di Madura disajikan bersama soto dan rujak.

Saat lebaran ketupat itu pula, masyarakat berbagi ketupat dengan tetangga dan mereka yang berkekurangan. Orang Madura menyebutnya ter-ater yang berarti mengantar makanan.

Dalam filosofi Jawa, ketupat bukan sekadar hidangan Lebaran. Ketupat memiliki makna khusus, kependekan dari ngaku lepat yang berarti mengakui kesalahan dan laku papat yang berarti empat tindakan: lebaran, luberan, leburan, dan laburan.

Makna ketupat adalah jujur kepada diri sendiri dan orang lain. Kejujuran merupakan kunci dari kepercayaan. Namun, di era informasi siber, kejujuran menjadi langka. Berita-berita yang memuat hoaks, ujaran kebencian, stereotip, dan adu domba bertebaran, dan dipercaya begitu saja.

Oleh karena itu, nilai kejujuran dan kepedulian sosial yang terkandung dalam lebaran ketupat harus diimplementasikan dalam kehidupan sebagai upaya merawat persaudaraan dan keharmonisan sosial.

Di era globalisasi, modal kejujuran dan kesadaran sosial sangat dibutuhkan untuk menjaga stabilitas dan ketenteraman bangsa yang plural. Mari bersama-sama kita istiqomah introspeksi diri dan jujur dengan mengakui kesalahan diri.

Momen lebaran ketupat juga menganjurkan kepada kita untuk melakukan empat hal (laku papat). Pertama, Lebaran bermakna memaafkan kesalahan orang lain. Memaafkan adalah cara utama untuk menjalin persaudaraan yang harmonis.

Kedua, luberan yang bermakna meluber atau melimpah. Ketupat menjadi ajang untuk bersedekah bagi fakir miskin.

Ketiga, leburan bermakna habis dan melebur. Setiap pribadi melebur dosanya dengan saling memaafkan sekaligus bersilaturahim.

Keempat, laburan yang berasal dari kata labor atau kapur. Artinya lebaran ketupat mengajak kepada setiap insan agar menjaga kesucian dirinya.

Mari kita bumikan makna dan nilai lebaran ketupat dalam kehidupan kita bersama.

Rahmat Hidayat
Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam,

Yogyakarta

Kompas, 3 Juli 2018

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar