
Prita H. Ghozie
Sebagai karyawan, gaji adalah sumber pemasukan utama bagi keuangan rumah tangga. Namun, mengapa gaji setiap bulan terasa tidak pernah cukup? Masalah klasik ini sering dirasakan banyak masyarakat, terutama yang tinggal di kota-kota besar. Keluhan akibat gagal menabung pun kerap dilontarkan karena untuk hidup sehari-hari saja mungkin terpaksa berutang. Bagaimana sebenarnya pengelolaan penghasilan bulanan yang baik?
Berdasarkan pengalaman saya sebagai perencana keuangan di ZAP Finance, bagi kebanyakan masyarakat kelas menengah di Indonesia, pengeluaran untuk menyokong gaya hidup merupakan salah satu penyebab sulitnya menabung dan berinvestasi. Tak bisa dimungkiri, memiliki gaya hidup tinggi adalah godaan masyarakat yang tinggal di kota besar. Susah sekali tidak mengikuti perkembangan gaya hidup alias lifestyle. Di berbagai kesempatan, saya katakan bahwa gaji tidak berhubungan dengan kaya atau miskinnya seseorang, tetapi berhubungan dengan gaya hidup yang dapat diraih.
Saat penghasilan terbatas, tetapi pengeluaran seperti tak ada habisnya, maka membuat pos-pos pengeluaran dalam mengelola penghasilan bulanan menjadi sebuah keharusan. Berikut ini adalah cara ideal dalam mengelola penghasilan.
Pertama, pos untuk kebutuhan berzakat dan sosial. Bagi kaum Muslim yang sudah wajib zakat, setiap bulan dapat mengalokasikan penghasilan untuk membayar zakat. Selain itu, kebutuhan untuk membantu keluarga besar, sosial, dan lainnya sebaiknya disisihkan dalam pos terpisah. Alokasinya bisa hingga 5 persen dari penghasilan bulanan.
Kedua, pos untuk dana darurat dan pembayaran proteksi. Dana darurat adalah dana yang dicadangkan untuk kebutuhan tak terduga, seperti musibah dan pengeluaran yang tidak diposkan sebelumnya. Selain itu, penting juga bagi setiap rumah tangga memiliki proteksi keuangan minimal dalam bentuk kepesertaan BPJS Kesehatan dan kepemilikan polis asuransi jiwa. Alokasi untuk pos pengeluaran tak terduga dapat mencapai 10 persen dari penghasilan bulanan.
Ketiga, pos pengeluaran rumah tangga. Setiap rumah tangga sebaiknya melakukan skala prioritas pengeluaran berdasarkan pos yang wajib, diperlukan, dan sebaiknya ditunda atau dihindari. Pengeluaran wajib contohnya adalah belanja dapur dan pengeluaran listrik. Pengeluaran yang diperlukan contohnya pengeluaran biaya kesehatan dan investasi untuk mewujudkan keinginan. Adapun pengeluaran yang dapat dihindari, misalnya biaya asisten pribadi yang berlebihan, tergoda promosi belanja bulanan, boros listrik, dan pengeluaran transportasi.
Untuk menjaga pengeluaran transportasi agar masih di kisaran 5 persen dari penghasilan bulanan, sebaiknya tanyakan dulu beberapa hal sebelum membeli kendaraan. Apakah keluarga perlu membeli kendaraan pribadi, bagaimana dengan harga dibandingkan fungsi, bagaimana dengan konsumsi bahan bakarnya, serta bagaimana dengan biaya perawatannya.
Pos rumah tangga juga sebaiknya memberikan prioritas kepada pengeluaran anak apabila sudah ada. Saya sarankan untuk kembali melakukan prioritas atas pengeluaran anak menjadi hal yang utama, penting, dan tambahan. Pengeluaran utama contohnya biaya makanan dan pakaian anak. Pengeluaran penting contohnya biaya sekolah dan biaya mainan anak. Adapun pengeluaran tambahan adalah biaya les anak, hiburan anak, serta biaya barang elektronik untuk anak.
Alokasi untuk pos pengeluaran rumah tangga idealnya antara 30 persen dan 60 persen dari penghasilan bulanan.
Apabila dalam rumah tangga masih ada cicilan pinjaman, pengeluaran untuk biaya hidup harus dibatasi hanya berkisar 30 persen dari penghasilan bulanan.
Keempat, pos pengeluaran cicilan pinjaman. Bijak menyikapi pinjaman apabila Anda mengutamakan untuk kebutuhan yang baik, seperti pinjaman rumah dan usaha. Jumlah cicilan per bulan sebaiknya di bawah 30 persen dari penghasilan bulanan. Apabila sudah melebihi angka tersebut, sebaiknya pembelian lain ditunda terlebih dahulu. Alternatif lain adalah menjual barang yang telah dibeli dengan utang yang konsumtif. Untuk menjaga agar belanja tidak kebablasan, maka untuk belanja dapat diutamakan menggunakan kartu debit atau uang elektronik sebagai alat pembayaran.
Kelima, pos untuk tabungan dan berinvestasi. Setidaknya 15 persen dari penghasilan bulanan harus disisihkan untuk kebutuhan hidup di masa nanti. Saya sarankan 5 persen dari penghasilan bulanan dapat digunakan untuk menabung guna pembelian barang dalam jangka di bawah 1 tahun. Sementara itu, 10 persen dari penghasilan bulanan harus diinvestasikan untuk berbagai tujuan keuangan di masa depan, seperti dana pendidikan kuliah anak dan dana pensiun keluarga.
Keenam, pos pengeluaran gaya hidup. Setiap rumah tangga memiliki prioritas berbeda dalam hal kesukaan terhadap kegiatan kuliner, mode, hobi, dan lainnya. Apa pun pilihannya, saya sarankan agar hanya mengalokasikan 10 persen dari penghasilan bulanan untuk berbagai kebutuhan gaya hidup.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar