Salah satu faktor yang membuat G-7 kehilangan tradisinya untuk merumuskan landasan bersama adalah sikap Presiden AS Donald Trump yang impulsif dan berubah-ubah sehingga membuat bingung pemimpin lain. Apalagi dalam pertemuan G-7 tahun lalu Trump meninggalkan pertemuan dan menolak menandatangani pernyataan bersama.
Pertemuan di Biarritz menjadi lebih pelik karena dilatarbelakangi perang dagang AS-China yang makin meruncing, demikian juga konfrontasi AS-Iran. Para pemimpin lain mencoba untuk menjaga agar temperamen Trump terjaga. Maklum, banyak contoh menunjukkan Trump menganggap kritik terhadap kebijakannya sebagai serangan pribadi.
Tak mengherankan, saat China menaikkan tarif 75 miliar dollar AS terhadap produk AS sebagai balasan atas kebijakan tarif Trump awal Agustus, Trump langsung murka. Saat murka, sulit mengontrol apa yang akan dilakukannya.
Trump tak hanya memuntahkan kemarahannya melalui Twitter, antara lain menyebut Presiden Xi Jinping sebagai "musuh AS", tetapi juga memerintahkan agar perusahaan-perusahaan AS memutuskan hubungan dengan China.
Dalam kegalauannya, Trump juga mengancam tuan rumah Perancis. Ia akan menaikkan pajak bagi minuman anggur Perancis sebagai respons terhadap pajak digital di Perancis. Dia juga mengancam akan menaikkan tarif bagi produk Eropa, Kanada, dan Jepang kalau ketiganya tidak membuka pasarnya bagi manufaktur AS. Singkatnya, gertakan, ancaman, adalah senjata yang dibawa Trump menuju pertemuan G-7.
Nyatanya, para pemimpin G-7 solid untuk menghadapi Trump. Bahkan, PM Inggris Boris Johnson yang kerap dijuluki "Trump-nya Inggris" menyatakan, mereka semua tidak menginginkan perang dagang, tetapi perdagangan damai. Sejenak, Trump teryakinkan dan menyatakan akan mempertimbangkan kembali soal deklarasi darurat. Namun, sikap itu berubah lagi Minggu malam dan berubah lagi Senin (26/8) siang.
Sikap yang berubah-ubah dalam waktu singkat itu tidak hanya terkait perang dagang AS-China, tetapi juga soal Iran. Seusai Presiden Perancis Emmanuel Macron mengumumkan bahwa G-7 meminta Iran mengendurkan ketegangan, Trump langsung membantahnya dan mengatakan AS punya cara sendiri untuk menghadapi Iran. Dalam soal Rusia pun terjadi perbedaan besar. Trump ingin Rusia dimasukkan kembali sebagai anggota G-8, tetapi pemimpin lain menolaknya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar