Selama ini Gerakan Pramuka memiliki reputasi baik. Bukan hanya yang berkaitan dengan alam dan cinta lingkungan bagi anggotanya, melainkan juga melatih kepemimpinan, kemandirian, disiplin, toleransi, dan berbagai hal baik lainnya.

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO

Para anggota Gerakan Pramuka mengikuti Apel Besar Hari Pramuka ke-58 di Bumi Perkemahan Pramuka, Cibubur, Jakarta Timur, Rabu (14/8/2019). Bertindak sebagai Pembina Upacara adalah Presiden Joko Widodo. Peringatan Hari Pramuka kali ini mengambil tema "Gerakan Pramuka Bersama Segenap Komponen Bangsa Siap Sedia Membangun Keutuhan NKRI".

Ini sejalan dengan cita-cita pembentukan Gerakan Pramuka. Ketika Indonesia belum meraih kemerdekaan, sebenarnya sudah ada Gerakan Kepanduan. Melalui Keputusan Presiden Nomor 238 Tahun 1961, pada 14 Agustus 1961 Gerakan Kepanduan menjadi Gerakan Pramuka atau Praja Muda Karana. Artinya Jiwa Muda yang Suka Berkarya.

Presiden Soekarno sebagai Pramuka Agung saat itu bahkan menyebut Pramuka sebagai "soko guru hari kemudian (masa depan) bangsa Indonesia". Soekarno pun menyiapkan Markas Besar Pramuka yang cukup megah dan tak jauh dari Istana, tepatnya di Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta. Penghargaan dan pengharapan yang luar biasa terhadap Pramuka. Dalam perjalanannya, Kwartir Nasional Gerakan Pramuka juga pernah mengelola Bank Pramuka, toko sepatu, peternakan, dan sebagainya.

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO

Para anggota Gerakan Pramuka mengabadikan Presiden Joko Widodo dengan telepon seluler saat menghadiri Apel Besar Hari Pramuka ke-58 di Bumi Perkemahan Pramuka, Cibubur, Jakarta Timur, Rabu (14/8/2019). Peringatan Hari Pramuka kali ini mengambil tema "Gerakan Pramuka Bersama Segenap Komponen Bangsa Siap Sedia Membangun Keutuhan NKRI".

Dari sisi keanggotaan, jumlah anggota Pramuka terus berkembang. Kini jumlah anggota Pramuka sekitar 17,2 juta orang atau terbesar dari 162 negara anggota Organisasi Kepanduan Dunia (World Organization of the Scout Movement/WOSM). Menurut data WOSM 2017, anggota kepanduan dunia sekitar 22 juta orang.

Besarnya jumlah anggota Pramuka di satu sisi membanggakan. Namun, di sisi lain, angka bisa membuat terlena dan bangga berlebihan karena merasa unggul dibandingkan dengan negara lain. Padahal, yang lebih penting adalah substansi atau isi kegiatan Kepramukaan.

Jumlah 17,2 juta orang adalah jumlah yang sangat besar. Bandingkan dengan jumlah pelajar di Indonesia saat ini, yakni 25,4 juta siswa SD, 10,1 juta siswa SMP, 4,7 juta siswa SMA, dan 4,8 juta siswa SMK. Artinya hampir 40 persen dari total 45 juta pelajar Indonesia adalah anggota Pramuka.

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO

Atraksi ketangkasan anggota Gerakan Pramuka menyemarakkan Apel Besar Hari Pramuka ke-58 di Bumi Perkemahan Pramuka, Cibubur, Jakarta Timur, Rabu (14/8/2019). Bertindak sebagai Pembina Upacara adalah Presiden Joko Widodo. Peringatan Hari Pramuka kali ini mengambil tema "Gerakan Pramuka Bersama Segenap Komponen Bangsa Siap Sedia Membangun Keutuhan NKRI".

Jumlah yang besar ini tentu sangat efektif untuk pendidikan dan penanaman karakter, menyangkut kepemimpinan, kejujuran, gotong royong, disiplin, toleransi, kemandirian, dan sebagainya. Tugas terpentingnya adalah menyusun materi dalam kegiatan Pramuka yang sesuai dengan kebutuhan siswa, sesuai dengan kebutuhan bangsa, dan sesuai dengan perkembangan global. Materinya harus membuat gembira anggotanya, tetapi sarat pendidikan karakter.

Tugas berikutnya adalah semua pihak, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, harus bersama-sama bertanggung jawab untuk mengembangkan Gerakan Pramuka. Keluhan yang sering terdengar saat ini antara lain sulitnya mencari lahan terbuka yang layak dan nyaman untuk menjalankan aktivitas Pramuka. Keluhan yang layak diperhatikan dan dicarikan solusinya bersama.

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO