Cari Blog Ini

Bidvertiser

Jumat, 24 April 2020

SURAT BERHARGA NEGARA: Dipojokkan Investor Asing (M FAJAR MARTA)


KOMPAS/PRIYOMBODO

Petugas menyiapkan uang rupiah di Cash Center PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, di Jakarta, Kamis (3/10/2019).

Nilai tukar rupiah dalam tren menguat selama dua pekan terakhir dan berada di posisi Rp 15.567 per dollar AS pada Rabu (22/4/2020) berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate. Tren penguatan nilai tukar ini melegakan karena, sejak awal Maret 2020 hingga pekan pertama April 2020, rupiah terjerembab begitu dalam.

Kejatuhan rupiah terjadi karena investor asing beramai-ramai melepas aset-aset domestik dalam rupiah, seperti saham dan Surat Berharga Negara (SBN). Kemudian, investor mengalihkannya ke aset-aset safe-haven dalam dollar AS, sepertitreasury bonds atau treasury billsyang diterbitkan Pemerintah Amerika Serikat. Berdasarkan data Kementerian Keuangan, pada Maret 2020, investor asing melepas SBN Rp 112,74 triliun.

Kejatuhan kurs terjadi karena investor asing beramai-ramai melepas aset-aset keuangan dalam denominasi rupiah.

Kondisi ini mengakibatkan permintaan dollar AS di pasar keuangan Indonesia meningkat tajam sehingga nilai tukar dollar AS terhadap rupiah melonjak signifikan. Nilai tukar yang pada 4 Maret masih Rp 14.171 per dollar AS sempat menyentuh Rp 16.741 per dollar AS pada 2 April 2020.

Untuk mencegah pelemahan lebih dalam, Bank Indonesia mengintervensi valuta asing senilai 7 miliar dollar AS atau sekitar Rp 112 triliun selama Maret 2020. Tentu tidak hanya rupiah yang terpuruk. Semua mata uang negara-negara berkembang terperosok seiring pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian dunia.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Ilustrasi dollar AS.

Di tengah krisis ekonomi yang penuh ketidakpastian seperti saat ini, berdasarkan konsensus investor global, risiko investasi di negara-negara berkembang meningkat sehingga tak sebanding lagi dengan imbal hasil yang mereka peroleh. Oleh karena itu, investor asing ramai-ramai melepas portofolio investasi mereka di negara berkembang dan memindahkannya ke aset-aset safe-haven.

Investasi portofolio pada obligasi AS mungkin yang paling aman, tetapi sebenarnya paling tidak menguntungkan. Pasalnya, imbal hasil yang ditawarkan obligasi AS jauh lebih kecil dibandingkan dengan negara-negara berkembang, apalagi dibandingkan dengan Indonesia yang imbal hasil surat utangnya relatif tinggi.

Berdasarkan data Bloomberg per 17 April 2020, yield treasury bonds 10 tahun hanya 0,64 persen, turun 192 basis poin dalam setahun terakhir. Karena menawarkan imbal hasil kecil, investor asing tentu tak ingin berlama-lama menaruh dananya di obligasi AS. Mereka menunggu pemerintah negara-negara berkembang menerbitkan obligasi dengan yield yang sudah naik, sesuai ekspektasi pasar.

Seiring aksi jual SBN secara besar-besaran oleh investor asing, credit default swap (CDS) Indonesia melonjak tajam. Sebelum wabah covid-19 melanda, CDS surat utang global Indonesia bertenor 5 tahun hanya sekitar 67 basis poin. Namun, pada April 2020, CDS melonjak menjadi 258 basis poin.

Secara bersamaan, lembaga pemeringkat global S&P menurunkan peringkat outlook utang jangka panjang Indonesia dari stabil menjadi negatif. Kenaikan CDS dan penurunan rating ini mengindikasikan peningkatan yield akibat lonjakan risiko.

Artinya, jika pemerintah Indonesia menerbitkan obligasi dengan imbal hasil yang lebih tinggi sesuai kenaikan CDS, investor asing dengan senang hati akan kembali menanamkan dananya di pasar negera berkembang. Begitulah memang pasar global bekerja.

Pemicu krisis


Di sisi lain, Indonesia sangat concern dengan kurs rupiah. Wajar saja, kita masih trauma dengan krisis 1998 yang awalnya dipicu oleh gejolak kurs.

Pada krisis 1997 – 1998, perbankan nasional luluh lantak, yang awalnya dipicu oleh merosotnya nilai tukar rupiah secara tajam, menyusul gejolak pasar keuangan di beberapa negara Asia. Nilai tukar rupiah yang sepanjang 1996 rata-rata hanya Rp 2.383 per dollar AS meningkat hampir 4 kali lipat menjadi rata-rata Rp 8.025 per dollar AS sepanjang 1998, dengan kurs rupiah sempat menyentuh Rp 16.650 per dollar AS.

KOMPAS/PRIYOMBODO

Ilustrasi perbankan

Dampaknya, korporasi domestik yang memiliki utang luar negeri dalam dollar AS, harus menyediakan rupiah yang berlipat-lipat untuk membayar utangnya mengingat sebagian besar tidak melakukan lindung nilai (hedging). Banyak korporasi yang akhirnya kolaps sehingga perbankan pun harus menanggung kredit bermasalah yang menggunung.

Perbankan makin terjepit karena pada saat yang sama, mereka pun memiliki banyak utang dalam dollar AS. Derita bank mencapai puncaknya ketika nasabah berbondong-bondong menarik dananya akibat jatuhnya kepercayaan masyarakat terhadap perbankan. Sekuat apapun bank, tak akan sanggup bertahan jika terjadi bank rush.

Akibat krisis 1997-1998, sejumlah bank ditutup dan pemerintah harus menyuntik modal melalui penerbitan obligasi rekapitalisasi sebesar Rp 430 triliun untuk menyelamatkan perbankan nasional.

Baca juga: Nasib Perbankan dan Bantuan Kredit Pemerintah

Apalagi, pasar keuangan Indonesia masih sangat tergantung asing. Sekitar 40 persen SBN dan 50 persen saham yang diperdagangkan di BEI, dimiliki investor asing.

Akibat pandemi Covid-19, pemerintah pun membutuhkan utang yang sangat besar untuk menutup defisit fiskal yang melebar. Karena tak semua utang bisa dipenuhi dari dalam negeri, pemerintah pun membutuhkan dana dari luar negeri.

Pendek kata, ketergantungan pemerintah saat ini terhadap investor asing makin berlipat-lipat. Karena itu, investor asing harus ditarik kembali masuk ke pasar domestik. Pemerintah tak punya pilihan selain menawarkan obligasi dengan yield yang diinginkan investor asing.

Karena itulah, untuk menarik kembali investor asing, pada 7 April 2020, Pemerintah Indonesia menerbitkan obligasi global senilai total 4,3 miliar dollar AS atau setara Rp 70 triliun dengan imbal hasil yang relatif lebih tinggi. Surat utang global yang diterbitkan terdiri dari 3 tenor, yakni 10,5 tahun, 30,5 tahun, dan 50 tahun.

KEMENKEU

Penerbitan global bonds

Untuk yang berjangka waktu 10,5 tahun, nilai yang dilepas 1,65 miliar dollar AS dengan imbal hasil 3,9 persen. Imbal hasil ini lebih tinggi dibandingkan dengan imbal hasilglobal bond 10 tahun RI pada Januari 2020 yang sebesar 2,88 persen.

Seiring kenaikan imbal hasil surat utang global RI, imbal hasil SBN dalam denominasi rupiah juga meningkat. Imbal hasil surat utang negara (SUN) 10 tahun yang pada Januari 2020 sekitar 6,68 persen, melonjak menjadi 7,94 persen per 15 April 2020. Pemerintah pun menaikkan kupon SBN sesuai imbal hasil agar surat utangnya diserap pasar.

Terbukti, dengan penyesuaian imbal hasil surat utang ini, rupiah perlahan-lahan mulai kembali menguat. Selama periode 13-20 April 2020, dana investor asing yang masuk ke SBN tercatat Rp 4,37 triliun.

Sejatinya, investor global hanya melihat keuntungan semata. Mereka tahu, pasar keuangan Indonesia masih membutuhkan pasokan dollar AS. Dengan melepas SBN dan saham, mereka sebenarnya sedang meminta keuntungan yang lebih besar, yang sudah pasti akan dipenuhi. Begitulah selalu terulang, investor asing lari, imbal hasil SBN naik, investor asing masuk kembali. Kita memang selalu dipojokkan investor asing.

Kompas, 23 April 2020

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger