Cari Blog Ini

Bidvertiser

Sabtu, 27 Juni 2020

CATATAN URBAN: Selain Tangkal Covid-19, Ini Dampak Pemakaian Sabun dan Detergen (NELI TRIANA)


KOMPAS/HERU SRI KUMORO

Fasilitas mencuci tangan yang dilengkapi sabun disediakan di banyak titik oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di sepanjang trotoar Jalan Sudirman, Jakarta, Jumat (27/3/2020).

Setiap hari, berbagai alat penangkal virus korona jenis baru penyebab Covid-19 mengakrabi kita. Masker, pelindung muka, cairan pembersih tangan, dan tentunya sabun untuk mencuci tangan di air mengalir. Kita juga menjadi cenderung lebih banyak mandi dan keramas alias mencuci badan, lagi-lagi dengan sabun dan sampo. Mencuci pakaian dengan detergen pun makin sering dilakukan karena makin sering berganti pakaian bersih demi mencegah virus tersebut melekat lama dan berpotensi masuk ke tubuh kita.

"Masyarakat, terutama di perkotaan, memiliki akses informasi dan tingkat ekonomi yang lebih baik dari perdesaan. Mereka berupaya mematuhi anjuran Kementerian Kesehatan dan Organisasi Kesehatan Dunia. Mereka paham soal hidup higienis, jadi ada peningkatan pola hidup bersih, seperti mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir, banyak juga mencuci baju dan perabotan dengan detergen," kata Etty Riani, profesor yang juga dosen Manajemen Sumber Daya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor, Rabu (26/6/2020), dalam seminar daring "Kota Sehat yang Tangguh dan Berkelanjutan dalam Tatanan Kehidupan Baru" yang diselenggarakan Universitas Terbuka.

Etty menambahkan, tidak heran jika permintaan terhadap produk perawatan tubuh dan rumah tangga pencegah penyakit semakin tinggi.

Secara kasatmata di pusat-pusat perbelanjaan, pasar tradisional, dan supermarket, pasokan sabun cuci tangan, sabun mandi, sampai sampo dan detergen semakin banyak dan mudah ditemukan. Mau kemasan kecil untuk dibawa dalam kantong baju atau tas kerja, ada banyak jenisnya. Untuk kemasan 1 liter, 5 liter, bahkan lebih pun ada. Cocok buat isi ulang di rumah, di kantor, di tempat kerja, atau di sekolah.

KOMPAS/NELI TRIANA

Etty Riani, Guru Besar Manajemen Sumber Daya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB

Permintaan tinggi akan cairan pelenyap virus itu memicu orang untuk mencoba-coba membuat produk serupa dalam skala kecil atau rumah tangga. Tak ketinggalan perusahaan besar ikut menambah lini produknya dengan produk baru cairan pembersih tangan, masker, sampai sabun cuci tangan secara massal.

Secara historis, kebutuhan akan bahan pembunuh virus dan bakteri ada sejak lama. Sebelum pandemi Covid-19, menurut Etty, penyakit akibat gaya hidup kurang higienis sudah banyak menjangkiti sekaligus memakan korban jiwa. Diare, misalnya, sejak lebih dari seabad silam sudah dilaporkan ada dan sampai sekarang tetap menghantui.

"Itulah sebabnya, pemerintah memiliki program Kota Sehat dan di dalamnya ada program sanitasi total berbasis masyarakat atau STBM. Di STBM, ada anjuran mencuci tangan sering-sering dengan air mengalir, membangun jaringan sanitasi yang baik, higienis, agar kesehatan kota hingga desa terjamin," kata Etty yang juga Sekretaris Klaster Pengelolaan Sumber Daya Alam/Lingkungan di Asosiasi Profesor Indonesia.

Hingga tahun 2020, belum semua target STBM terpenuhi. Diare, muntaber, dan penyakit lain masih ada. Namun, Indonesia dipaksa berhadapan dengan momok wabah lain, yaitu Covid-19.

Etty menyebut penyakit ini virulen alias ganas, penyebaran dan penularannya lebih cepat serta tingkat kematiannya cukup membuat seluruh dunia kacau balau. Di tengah masih banyak orang yang abai disiplin menerapkan protokol pencegahan Covid-19, sebagian lagi khawatir melihat kondisi ini dan memilih semakin tertib hidup higienis dengan harapan dapat selamat dari serangan virus korona jenis baru.

KOMPAS/BNPB

Peta Sebaran Penularan Covid-19 di Indonesia Per 26 Juni 2020

Akibatnya, ada peningkatan konsumsi rumah tangga, termasuk belanja produk pembersih untuk tubuh dan perabotan, seperti terekam dalam Laporan Bulanan Data Sosial Ekonomi Edisi 121 Juni 2020 Badan Pusat Statistik (BPS). BPS menyebutkan struktur perekonomian Indonesia dari sisi pengeluaran pada triwulan I-2020 didominasi Komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga dengan kontribusi sebesar 58,14 persen. Sisanya dari Pembentukan Modal Tetap Bruto serta Ekspor Barang dan Jasa.

Ada peningkatan konsumsi rumah tangga, termasuk belanja produk pembersih untuk tubuh dan perabotan, seperti terekam dalam Laporan Bulanan Data Sosial Ekonomi Edisi 121 Juni 2020 Badan Pusat Statistik.

Berdasarkan kelompok pengeluarannya, laporan BPS itu memaparkan bahwa pada bulan Mei 2020 ada sembilan kelompok yang mengalami kenaikan indeks harga. Kelompok Perlengkapan, Peralatan, dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga masuk peringkat ketiga dalam kenaikan indeks harga, yaitu 0,20 persen. Di atasnya ada kelompok Pakaian dan Alas Kaki (0,70 persen) serta Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya (0,33 persen).

Di bawah ketiga tertinggi itu ada kelompok Kesehatan (0,11 persen); Rekreasi, Olahraga, dan Budaya (0,09 persen); Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran (0,09 persen); Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga (0,08 persen); Transportasi (0,07 persen); serta Informasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan (0,02 persen).

Masih dari laporan BPS Juni ini, ada kenaikan Indeks Konsumsi Rumah Tangga atau IKRT tahun kalender 2020 (Mei 2020 terhadap Desember 2019) sebesar 1,59 persen dan kenaikan IKRT tahun ke tahun (Mei 2020 terhadap Mei 2019) sebesar 2,82 persen.

KOMPAS/NELI TRIANA

Tangkapan layar Laporan Bulanan Data Sosial Ekonomi BPS, Juni 2020.

Masif yang buruk

Masifnya penggunaan sabun dan detergen tidak hanya berdampak baik dalam hal menangkal penyakit. "Apa-apa yang berlebihan ada dampak buruknya. Sama dengan pemakaian sabun dan detergen yang mengandung bahan-bahan kimiawi ini," lanjut Etty.

Sabun, menurut Etty, berbahan asam lemak dan soda kaustik-sintetik, yang ditambah antiseptik dan triclosan. Persamaan sabun dan detergen, antara lain, ada pada struktur molekul dan tambahan parfum, antiseptik, dan pemutih. Perbedaannya, molekulnya lebih mudah terdegradasi dan lebih aman untuk kulit manusia. Sementara detergen lebih sulit terdegradasi dan tidak aman untuk kulit. Dengan bahan pembentuknya itu, sabun dan detergen mampu membersihkan lemak dan kotoran lain.

Etty menegaskan, semakin bagus, alami—dan biasanya makin mahal—bahan pembuat sabun dan detergen akan lebih mudah terdegradasi di lingkungan alam. Sayangnya, produk yang banyak di pasaran saat ini berkualitas lebih rendah sehingga produk tersebut bisa dijual dengan harga terjangkau banyak orang.

Efek samping dari seringnya bebersih diri dan peralatan menggunakan sabun serta detergen setidaknya mengerucut pada dua isu besar. Pertama, pemakaian air bersih meningkat disertai melimpahnya air buangan tercemar sabun dan detergen. Sesuai standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), seperti dipaparkan WHO Kantor Regional Asia Tenggara, kebutuhan air bersih rumah tangga untuk minum, memasak, membersihkan diri, mencuci pakaian, dan membersihkan rumah setidaknya 50 liter per hari.

KOMPAS/NELI TRIANA

Tangkapan layar paparan Etty Riani dalam webinar yang digelar Universitas Terbuka pada Rabu (26/6/2020).

Saat ini, khususnya di perkotaan atau kawasan dengan kepadatan tinggi, penggunaan air dipastikan meningkat. Peningkatan penggunaan air bisa jelas dilihat dari diri kita sendiri, sesering apa sekarang mencuci tangan, mandi, hingga mencuci peralatan rumah tangga. Selain itu, bisa dicermati dari menjamurnya tempat cuci tangan portabel lengkap dengan tangki airnya, mulai di lingkungan tempat tinggal, fasilitas publik, jalan, pasar, hingga sudut-sudut kota.

Isu kedua, pemakaian sabun dan detergen yang turut naik berkali-kali lipat berimbas pada makin banyaknya zat kimiawi yang mencemari lingkungan. "Dari sisi estetika saja, gangguan muncul ketika semakin banyak limbah sabun dan detergen yang tidak terdegradasi dan menyebabkan permukaan air jadi berbusa. Ini biasa ditemukan di saluran air kita, di sungai, sampai ke laut," tambah Etty.

Dari sisi estetika saja, gangguan muncul ketika semakin banyak limbah sabun dan detergen yang tidak terdegradasi dan menyebabkan permukaan air jadi berbusa. Ini biasa ditemukan di saluran air kita, di sungai, sampai ke laut.

Limbah sabun dan detergen tercatat pula sebagai penyumbang terjadinya eutrofikasi. Dalam laman resmi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, eutrofikasi adalah proses pengayaan nutrisi dan bahan organik dalam air atau pencemaran air yang disebabkan munculnya nutrisi yang berlebihan ke dalam ekosistem perairan.

Limbah nutrisi bisa berasal dari proses alamiah di lingkungan air itu sendiri, industri, detergen, pupuk pertanian, limbah manusia, dan peternakan. Limbah nutrisi akan merangsang pertumbuhan fitoplankton atau alga dan meningkatkan produktivitas perairan.

Pada kondisi berlebih, ada potensi meledaknya alga. Alga ini tidak berbahaya, tetapi ketika populasinya amat besar sampai mampu menutupi permukaan perairan yang luas, secara bersama-sama mereka menghirup oksigen. Berebut oksigen sumber kehidupan semua makhluk, ikan-ikan pun akan mati massal karena kekurangan oksigen. Ini beberapa kali terjadi di perairan Indonesia, termasuk di perairan Jakarta Utara.

KOMPAS/NELI TRIANA

Tangkapan layar paparan Etty Riani dalam webinar yang digelar Universitas Terbuka pada Rabu (26/6/2020).

Sementara antiseptik disebut dapat mengganggu perkembangan hormon dan memicu resistensi pada bakteri. Menurut Etty, ada beberapa penelitian yang hasilnya menunjukkan saat residu antiseptik atau air tercemar sabun dan detergen yang mengandung antiseptik masuk ke dalam tubuh dan menumpuk, ada peluang menyebabkan gangguan kelenjar tiroid, memengaruhi hormon testosteron menjadi estrogen, mengganggu sistem reproduksi dan respirasi, serta memicu kanker.

"Ada kemungkinan ada lelaki yang lebih seperti perempuan karena ada unsur gangguan terkait masalah ini," katanya.

Ada kemungkinan ada lelaki yang lebih seperti perempuan karena ada gangguan terkait masalah ini.

Hemat dan pilih bahan alami

Hadi Susilo Arifin, Kepala Program Studi S-2 Ilmu Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan IPB, dalam seminar daring yang sama mengatakan, pengelolaan kawasan urban secara berkeseimbangan menjadi faktor kunci selamat dari berbagai bencana, termasuk pandemi kali ini yang termasuk bencana non-alam.

Guru besar ahli lanskap urban itu menegaskan, keberimbangan dapat dicapai dengan menerapkan kota ramah lingkungan yang bertujuan mereduksi semua limbah, menghasilkan sumber-sumber energi terbarukan, dan memasukkan aspek keberlanjutan lingkungan ke dalam kota.

"Namun, kota ramah lingkungan ini juga bertujuan merangsang pertumbuhan ekonomi, mengurangi kemiskinan, mengelola kota dengan kepadatan populasi tinggi, sehingga makin efisien dan meningkatkan kesehatan," kata Hadi.

KOMPAS/NELI TRIANA

Hadi Susilo Arifin, Kepala Program Studi S-2 Ilmu Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan IPB

Menyikapi kondisi saat ini yang memang membutuhkan alat dan sarana mencegah penyebaran Covid-19 dan di sisi lain mencoba tetap menjaga lingkungan demi kehidupan manusia di masa depan, Hadi mengatakan perlunya ada intervensi kebijakan yang efektif menjawab tuntutan kondisi. Pendapat serupa disampaikan Ake Wihadanto, doktor bidang lingkungan yang juga Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Terbuka.

Jika dorongan kepada para pemegang kebijakan dilakukan seperti disampaikan para akademisi dan peneliti tersebut, apa yang bisa dilakukan segera oleh warga di masa yang tengah dijalani bersama ini? Jawaban singkatnya, tetap berhemat memakai air dan bijak menggunakan sabun serta detergen.

Tutup atau matikan keran air setelah membasahi tangan dan saat masih mencuci tangan pakai sabun. Buka kembali keran untuk membasuh tangan dengan air secukupnya. Hal serupa dilakukan ketika mandi. Etty bahkan menyarankan sabun bisa diencerkan di dalam mangkuk atau ember kecil jika di rumah untuk diambil seperlunya secara berkala untuk membersihkan tangan atau peralatan lain.

Etty bahkan menyarankan sabun bisa diencerkan di dalam mangkuk atau ember kecil jika di rumah untuk diambil seperlunya secara berkala untuk membersihkan tangan atau peralatan lain.

Tangkapan layar paparan Hadi Susilo Arifin dalam webinar yang digelar Universitas Terbuka pada Rabu (26/6/2020).

KOMPAS/NELI TRIANA

Tangkapan layar paparan Etty Riani dalam webinar yang digelar Universitas Terbuka pada Rabu (26/6/2020).

Selain itu, bagaimana jika mulai disiplin diri mengurangi gerakan tangan memegang area wajah, lalu juga mengurangi interaksi dengan orang lain semaksimal mungkin. Apalagi sampai akhir Juni ini kasus positif Covid-19 di Indonesia maupun dunia masih terus bertambah. Selanjutnya, mencari bahan pengganti yang lebih alami, kalau perlu membuat ramuannya sendiri di rumah.

Yang lebih penting, menyadari dampak setiap tindakan kita dan mulailah dengan mengambil langkah kecil untuk mengurangi efek buruknya. Caranya, mari memulai dari diri sendiri dulu

Kompas, 27 Juni 2020

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger