Cari Blog Ini

Bidvertiser

Kamis, 01 Oktober 2020

EPILOG: Anak-anak Pelipur Umur (PUTU FAJAR ARCANA)


Putu Fajar Arcana, wartawan Kompas

Anak-anak mengajarkan cara bertahan kepada orangtua. Meski memiliki 44 anak pada usia 39 tahun, Mariam Nabatanzi tak kenal lelah bekerja keras.

Ia menghabiskan hari-harinya mengurus anak, memasak 25 kilogram tepung singkong, mencuci baju, bekerja mencari uang, dan mengerjakan hampir seluruh pekerjaan rumah tangga tanpa pernah mengeluh.

Anak-anak, baginya, penjelmaan malaikat Tuhan yang telah menjadi pelipur umur sebagai ibu tunggal. Suami yang dinikahinya pada usia 12 tahun kabur sejak tiga tahun lalu, entah ke mana.

Kisah perempuan tabah dari Uganda itu, aku yakin, mengingatkanmu pada sajak populer dari penyair Lebanon, Kahlil Gibran. Gibran berucap: //Anak adalah kehidupan/ Mereka sekedar lahir melaluimu tetapi bukan berasal darimu/ Walaupun bersamamu tetapi bukan milikmu/ Curahkan kasih sayang tetapi bukan memaksakan pikiranmu/ karena mereka dikaruniai pikirannya sendiri// Berikan rumah untuk raganya, tetapi tidak jiwanya/ karena jiwanya milik masa mendatang/ yang tak bisa kau datangi/ Bahkan dalam mimpi sekalipun…// (Anakmu Bukanlah Milikmu)

Anak-anak mengajarkan cara bertahan kepada orangtua.

Sebagaimana ditulis oleh Nationalgeographic.co.id, Mariam melahirkan tiga kembar empat, empat kembar tiga, dan enam pasang anak kembar. Setelah melahirkan anak kembar pertamanya, Mariam mendatangi dokter dan memintanya untuk menghentikan kelahiran. Tetapi, dokter menolak mengingat penggunaan pil penyetop kelahiran bisa mengakibatkan gangguan kesehatan pada diri Mariam. Dokter juga memberi tahu bahwa rahim yang dimiliki Mariam sangat besar, yang menyebabkannya bisa melahirkan banyak anak.

Pada usia 23 tahun, ketika sudah memiliki 25 anak, Mariam kembali mengunjungi dokter yang sama. Sekali lagi dokter menggelengkan kepalanya, bahwa upaya menghentikan kelahiran dengan pil akan berakibat buruk bagi Mariam sendiri. Katanya, rahim Mariam terlalu besar bagi ukuran rata-rata rahim seorang ibu.

NATIONAL GEOGRAPHIC

Mariam Nabatanzi dan Anak-anaknya

Sejak itu ia pasrah, berserah pada karunia yang diberikan Tuhan. Uganda memang dikenal sebagai negara yang para perempuannya rata-rata melahirkan 5-6 anak. Kenyataan itu membuat negara ini menjadi negara dengan tingkat kelahiran sangat tinggi menurut data World Bank.

Mariam sendiri terobsesi memiliki keluarga besar saat ia berusia 7 tahun. Lima saudara kandungnya meninggal karena diracun oleh ibu tirinya. Mariam luput dari perbuatan keji itu karena ia sedang berkunjung ke rumah kerabatnya. Sejak itu ia berpindah-pindah menumpang hidup kepada orang lain. Kendati begitu, sejatinya ia tetaplah seorang gadis kecil yang mempertahankan hidup sebatang kara.

Sekarang, "Sepanjang hidup saya, habis untuk mengurus anak-anak dan bekerja mencari uang," kata Mariam.

Perempuan ini pernah bekerja sebagai penata rambut, pembuat dekorasi pertunjukan, mengumpulkan barang rongsokan, menyuling minuman keras, dan menjual obat-obatan herbal untuk menghidupi puluhan anaknya.

Ia menatap bangga foto beberapa anaknya berkalung medali tanda kelulusan sekolah. Sayangnya, Ivan Kibuka (23), anak pertamanya, harus berhenti bersekolah karena membantu Mariam mengurus adik-adiknya.

"Ibu amat sibuk, pekerjaan membuat dia lelah. Kami membantu sebisa mungkin, memasak, mencuci, tetapi sebagian besar beban keluarga masih ditanggungnya," kata Ivan.

KOMPAS/RADITYA HELABUMI

Perawatan bayi di ruang Neo-Natal Intensive Care Unit Siloam Hospitals Kebon Jeruk, Jakarta, Selasa (19/3/2013). Kelahiran bayi membutuhkan perawatan dari ibu dan keluarga.

Lewat puisi, Gibran telah menyodorkan dimensi spiritual tentang kehadiran seorang anak di dunia. Kau bahkan tak bisa bertanya, mengapa seorang anak hadir di hadapan kita, kecuali bahwa ia lahir melalui rahim para perempuan yang kau kasihi. Ia bukanlah sekadar timbunan tulang, daging, dan bahkan darah, tetapi kekuatan spiritual yang menjelma ke dunia.

Kelahiran seorang anak ke dunia tak berhenti pada proses reproduksi untuk melanjutkan generasi. Kelahiran lebih-lebih adalah bukti kegaiban kekuatan semesta. Oleh sebab itu, seorang anak hanya hadir melalui dirimu dan mereka bukanlah duplikasi atas dirimu.

Sepasang suami istri bernama Pan Brayut dan Men Brayut telah memiliki 18 anak. Kisah-kisah naratif dalam lukisan Kamasan, terutama yang digambar secara anonim pada abad ke-19, menunjukkan bahwa keluarga Brayut mencapai dimensi spiritual justru ketika mereka berhasil membesarkan anak-anaknya.

Penelitian Peter Worsley dari University of Sydney Australia tentang keluarga Brayut dalam lukisan Kamasan, Bali, mencatatkan beberapa hal penting. Sebagai keluarga dari golongan jaba (rakyat jelata) yang memiliki banyak anak, Pan Brayut dan Men Brayut selalu distigma tak tahu diri, nekat sekaligus naif. Anak banyak dalam kelompok-kelompok bangsawan di masa itu dianggap beban hidup.

Hari-hari Men Brayut selalu habis untuk mengurus 17 anak dan jabang bayi dalam kandungannya. Ia sering kali kelelahan dan tertidur di balai-balai dengan anak-anak yang bercengkerama di sekitar dirinya.

Kelelahan Men Brayut dan anak-anak yang bercengkerama digambar secara halus dan liris oleh maestro I Gusti Nyoman Lempad sekitar tahun 1930-an. Lukisan dari kertas ini kemudian menjadi salah satu karya masterpiecedari Lempad, yang banyak dikoleksi oleh para kolektor kelas dunia.

REPRO BUKU/ARSIP JEAN COUTEAU

Lukisan I Gusti Nyoman Lempad tentang Brayut diambil dari buku A Timeless Balinese Painteroleh Jean Couteau, 2014.

Bukan hanya lukisan, kisah keluarga Brayut kemudian menjadi amat terkenal. Peter Worsley bahkan harus pergi ke Tropenmuseum di Amsterdam, Belanda, untuk menemukan koleksi Charlie Sayer. Ia kemudian menemukan koleksi yang diperkirakan berasal dari abad ke-19 berupa lukisan bergaya Kamasan, yang sepenuhnya dilukis dengan pewarna alami.

Lukisan berkisah itu menggambarkan perjuangan hidup keluarga Brayut mengatasi berbagai rintangan hidup, sampai akhirnya anak-anaknya menikah. Suami istri itu kemudian menemukan pencerahan setelah melepaskan segala keterikatan duniawi dan diberkati oleh Dewi Uma.

Pada dasarnya keberadaan anak-anak di tengah-tengah dirimu bagai gema kidung syukur yang menyentuh dimensi spiritual. Kisah keluarga Brayut kemudian dijadikan landasan pijak lompatan spiritual sebagai peneguhan keberadaan manusia di dunia. Di beberapa tempat di Bali, Brayut diwujudkan dalam bentuk artefak kultural untuk memuja dan mensyukuri kesuburan yang dilimpahkan semesta.

Walau sangat terbuka kemungkinan memberinya tafsir yang berbeda. Sejak masa-masa klasik dahulu, keluarga-keluarga rakyat jelata di Bali disarankan untuk mengurutkan nama anak-anak menjadi: putu/gede/wayan, made/kadek, nyoman/komang, dan ketut.

Keempat "penanda" ini dilekatkan di depan nama anak-anak sebagai pengingat urutan kelahiran. Anak pertama diberi penanda putu/gede/wayan, anak kedua made/kadek, anak ketiga nyoman/komang, dan anak keempat ketut.

Tak ada penanda untuk anak kelima. Adaptasi yang terjadi, jika memiliki lebih dari empat anak, maka pilihannya kembali ke penanda awal atau meneruskan menggunakan penanda ketut.

KOMPAS/HARIS FIRDAUS

Putri Mahkota Kerajaan Denmark Mary Elizabeth (duduk ketiga dari kiri) berfoto bersama, Selasa (3/12/2019). Kunjungan Putri Mary bertujuan memperingati 70 tahun kerja sama bilateral Indonesia dan Denmark sekaligus meninjau program keluarga berencana dan kesehatan reproduksi.

Banyak tafsir yang berkembang dan menyebutkan bahwa kesadaran untuk membatasi kelahiran di Bali sudah dimulai sejak masa-masa klasik dahulu. Biasanya, negara/kerajaan merasa terganggu dengan kehadiran banyak anak dalam keluarga-keluarga rakyat jelata yang miskin. Tetapi, kehadiran kisah keluarga Brayut dianggap sebagai subversif, perlawanan rakyat terhadap kuasa kerajaan, yang semena-mena mengurus tatanan domestik rumah tangga.

Sekarang kau sedikit mendapatkan gambaran bahwa kehadiran anak-anak bukan sekadar menjadi bukti bahwa sebagai makhluk manusia terus "berkembang biak" dan setiap saat meningkatkan kecerdasannya untuk bersiasat dengan hidup, tetapi jalan berliku menuju pencerahan.

Keluarga Brayut memperoleh pencerahan ketika putra bungsu mereka, Ketut Subaya, menikah. Pan Brayut dan Men Brayut selanjutnya meneruskan laku spiritual sebagai pengabdi di jalan ketuhanan.

Mariam Nabatanzi tak sekadar menerima takdir dirinya sebagai perempuan yang subur. Bisa jadi ia adalah serpih-serpih kepercayaan manusia yang purbawi, di mana seorang ibu direpresentasikan sebagai Ibu Pertiwi, asal dari segala yang hidup.

Ibu Pertiwi tak lain adalah Bumi, yang memberi ruang hidup bagi segala makhluk Tuhan, termasuk anak-anak manusia. Oleh sebab itulah, Gibran menyebut bahwa anak-anak bukan berasal dari dirimu, tetapi menjelma melalui dirimu. Anak-anak adalah "titipan" semesta, putra-putra Ibu Pertiwi.

Dalam bahasa kosmologis, kau pasti ingat sesuatu yang disebut sebagai lingga dan yoni. Di banyak situs, termasuk di Candi Cetho, Jawa Tengah, lingga yoni dipergunakan sebagai simbol sangkaning dumadi(asal mula) atau dalam filosofi Jawa disebut sebagai tumbu oleh tutup (keterbukaan yang mendapatkan penutupnya). Maka lingga yoni telah menjadi tumpuan dasar yang menebarkan gairah spiritual dalam kehidupan manusia sejak berabad-abad silam.

KOMPAS/ANGGER PUTRANTO

Dokter spesialis kebidanan dan kandungan Rumah Sakit Umum Abdul Moeloek, Lampung, Taufiqurrahman Rahim, memeriksa kondisi seorang ibu pasca-kematian anak di dalam kandungannya, di RSUD Abdul Moeloek, Bandar Lampung, Sabtu (3/10/2015).

Kepercayaan ini juga telah menempatkan seorang ibu sebagaiarcapada, ruang bumi, sedangkan ayah adalah kaendran yang merujuk pada langit. Pertemuan keduanya telah menjelmakan anak-anak sebagai representasi dari kehadiran makhluk manusia di bumi sehingga kita bisa bercakap-cakap seperti saat ini.

Kau dan aku adalah dumadi, lahir atau sesuatu yang "terjadi" karena pertemuan arcapada dan kaendran. Di antara langit dan bumi itulah makhluk hidup, termasuk manusia, sejak zaman purba sampai kini di abad modern meneruskan cita-cita hidupnya, yakni sangkan paraning dumadi. Kita semua sesungguhnya sedang mencari kesejatian hidup melalui anak-anak.

Anak-anak bukan beban yang mempersulit kehidupanmu, tetapi dari mereka kau bisa belajar tentang cara bertahan....

Kisah Mariam dan legenda keluarga Brayut menjadi semacam pengingat manusia bahwa kehadiran anak-anak ibarat anak tangga menuju ketinggian spiritual, yang makin mendekatkan manusia pada jalan ketuhanan.

Anak-anak bukan beban yang mempersulit kehidupanmu, tetapi dari mereka kau bisa belajar tentang cara bertahan, mengendalikan indriya (hawa nafsu), serta perasaan kesedihan yang membuatmu merasa menanggung takdir.

KOMPAS/KORNELIS KEWA AMA

Kemiskinan menjadi salah satu penyebab tindak kekerasan terhadap perempuan. Kesulitan ekonomi dalam rumah tangga kerap membuat perempuan sebagai sasaran kemarahan suami karena dinilai sebagai beban keluarga.

Dengan segenap kemiskinannya, Mariam tak pernah menyerah. Satu hal yang ia sayangkan, lelaki seharusnya memikul beban tanggung jawab lebih besar dibandingkan dengan seorang perempuan seperti dirinya. "Tetapi ia pergi," katanya.

Pan Brayut mengambil seluruh beban rumah tangga, termasuk memasak dan mempersiapkan upacara, dan memberikan kesempatan Men Brayut untuk mengurus seluruh anaknya.

Pada dasarnya, Mariam dan Brayut punya dasar spiritualitas yang sama mengenai kehadiran anak-anak di hadapan mereka. Bukan soal jumlahnya yang melebihi batas kemampuan melahirkan seorang ibu, melainkan anak-anak adalah untaian bait-bait puisi yang mengantarkan dirimu pada kesejatian hidupmu: memelihara takdir sebagai pelipur umur.

Kompas, 30 September 2020

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger