Cari Blog Ini

Bidvertiser

Selasa, 13 Desember 2011

"Lonely Song" of SBY


 
From: Al Faqir Ilmi <alfaqirilmi@yahoo.com

LONELY SONG OF SBY

SBY
semakin bingung harus bersikap apa. Kejadian demi kejadian tidak ada
yang terselesaikan. Malahan bertambah kejadian baru yg makin
mengenaskan.

Sementara skandal Bank Century dimati-surikan, skandal petinggi2 Demokrat mencuat.

Tanggal 23 Mei 2011 ternyata Nazarudin sudah menghadap SBY dan melaporkan semuanya, termasuk keterlibatan Ibas dan Anas, dkk.

Rakornas
Demokrat di Sentul pun berlangsung alot hingga hampir subuh. Keputusan
diambil walau berat. Anas dilengserkan
untuk membersihkan nama PD. Ditugaskan dua orang. Andi Malarangeng
untuk menghadap SBY dan Ahmad Mubarok untuk menyampaikan kepada Anas
sekaligus mencari format yg elegan n bijak bagi semua pihak. Tentu ini
kemauan kubu Marzuki Ali dan Andi Malarangeng yang mau membalas dendam
atas
manipulasi uang yang memenangkan Anas sebelumnya.

Subuh, Andi
Malarangeng sudah di Cikeas. Sarapan pagi bersama SBY dan kebetulan ada
Ibu Sarwo. Baru satu kalimat Andi menyampikan keputusan Rakornas soal
dilengserkannya Anas, tiba-tiba Bu Sarwo nyeletuk: "Nek iku
dilaksanakan, putuku mlebu bui" (Kalau langkah itu diambil, cucuku masuk
penjara). Gagal lah tugas Andi Malarangeng. Semua juga tahu, SBY itu
jongos di keluarga besar Sarwo Edhi, makanya sama sekali tidak bergeming
atas celetukan mertuanya itu.

Konon, akhir2 ini, SBY sering
terdiam merenungi nasibnya yang demikian tragis. Ditinggalkannya istri
(keturunan Filipina) dan kedua anak perempuannya demi meraih cita-cita
masa depan gemilang, namun apa dikata jatuh ke pangkuan ibu Ani yang
menempatkan SBY kayak jongos seumur-umur. Sempat selingkuh sebentar
dengan Sri Mulyani Indrawati, namun terhempas skandal Century yang
mengharuskan SMI diusir ke luar negeri atas perintah Ibu Ani yang
cemburu habis kepada SMI yang cantik dan cerdas. SBY kembali salah
langkah dan kembali ke ketiak Ibu Ani.

Apalagi kalau SBY
merenungi pilihannya pada skenario manipulasi pemilu, yang waktu itu
diambilnya tanpa banyak pemikiran mendalam, SBY makin stres.

Sebagaimana
kebiasaan seorang jongos yang sudah mengabdi kepada isterinya puluhan
tahun, sudah terbiasa tidak bisa menolak, demikian pula waktu memutuskan
skenario pemenangan pemilu itu, hanya pesan Ani Sby yang terngiang2:
"Kalau incumbent tidak menang mutlak, itulah sebodoh2nya orang. Kan
semua kekuasaan ada di tangan". Memang menang mutlak, menghalalkan
segala cara. Sekarang, ibarat nasi sudah menjadi bubur.
Kalau stres, kompensasinya dia mengarang lagu.

"SBY
sudah ditinggalkan kroni2nya. Lebaran tahun sebelumnya, antrian masih
amat, panjang, tapi lebaran kemarin, di ruang VIP, hanya ada saya dan
seorang menteri, itupun kami buru2 pulang, makanan utuh tidak
tersentuh", demikian
seorang jenderal bintang empat, kerabat dekat cikeas menggambarkan.

Di
lingkaran satu pun sudah tinggal beberapa sosok oportunis yg
mengelilinginya, seperti Hartati Murdaya, yg bakalan hancur bersama
hancurnya kekuasaan SBY. "Hartati Murdaya itu yang selalu menyampaikan
yang bagus2 kepada Bu Ani dan Pak Sby shg informasi versi lain dari
kami-kami yg lebih obyektif sudah tidak ada gunanya", demikian salah
seorang kepercayaan Cikeas.

Awalnya, Ani Sby tidak menyetujui
Aliya sebagai menantu. Pacar Ibas di Australia, yg dibelikan Ferari oleh
Anggoro, ketika sama-sama kuliah, dianggap lebih tepat untuk
mendampingi putranya. Aliya dianggap terlalu mandiri dan kurang
"njawani".

Namun apa yang membuat Ani Sby berubah pikiran? Segra meminang Aliya Rajasa?
Pertama,
adalah diagnosa tumor otak di kepala SBY, yg membuatnya pingsan dan
lalu diinfus vitamin C, karena memang tidak ada obatnya. Kalau
dikemoterapi di kepala akan amat
berbahaya.

Maka, tidak heran kalau kemudian RS kecil di dekat
Cikeas segra dibeli dan diperlengkapi dg peralatan tercanggih dg dokter
jaga kepresidenan, untuk berjaga-jaga kalau setiap saat terjadi sesuatu.

Kedua,
tidak ada yg lebih kuat dari ikatan keluarga, apabila terjadi sesuatu.
Apalagi Hatta Rajasa sudah terbukti menyetorkan suara poros tengah
secara bulat. Buy 1 Get 1. Beli Hatta Rajasa dapat juga Amien Rais.
Demikianlah kalkulator di kepala Ani Sby segra bekerja. Tapi kalau tidak
diikat bisa saja menjadi bumerang.

Hatta Rajasa bagai disambar
petir. Untung rambutnya sudah putih semua, seandainya masih ada yg
hitam, kontan langsung jadi putih total. Bagai menghadapi buah
simalakama. Dimakan mati, tidak dimakan ibu mati. Aliya Rajasa, gadis
cerdas itu, akhirnya harus menyetujui dijodohkan dengan Pangeran Teler,
yang diajak ngomong saja tidak nyambung. Adalah Amien Rais yang
menghibur, mungkin saking penginnya berkuasa: "Ambil
saja hikmahnya. Siapa tahu ini Jalan Allah SWT untuk mendapatkan amanah
memimpin NKRI selanjutnya".

Padahal, seandainya tidak ada ikatan
keluarga, jelas manuver Hatta Rajasa dan Poros Tengah akan bisa lebih
leluasa di masa depan. Namun takdir sudah diterima sebagai besan.

Adalah
Hartati Murdaya yang sibuk. Seperti biasa. Bagaimana mengamankan
bisnisnya secara nyata dengan menaruh orang-orang kunci. Seperti Dahlan
Iskan yang sudah membuktikan diri berbakti mengamankan kepentingan
Murdaya di PLN, tugas selanjutnya adalah agar Dahlan mengamankan
kepentingan Murdaya di Telkomsel yang sempat gonjang ganjing.

Apalagi,
kembalinya kroni2 lama Aburizal Bakrie, seperti Djan Faridz dan Cicip
Syarif Sutardjo dalam Kabinet membuat gerah Kelompok Murdaya.

Karena
katakutan kepada ARB, maka langkah beberapa konglomerat menggandeng
Arifin Panigoro untuk menjual Sri Mulyani dengan Partai SRI nya pun
didanai besar2an. Yang digerakkan adalah
para profesional dan akademisi kampus2. Lalu di Jatim mulai masuk ke
Pesantren2 untuk memenangkan Gub Jatim sebagai exercise. Mau mengulangi
keberhasilan Demokrat melalui ujicoba manipulasi sistem pilgub jatim
(Cak Karwo vs chofifah). Termasuk mendorong kakak kandung SMI, yaitu
Nining Susilo untuk maju sbg Ketua IA ITB. Namun kalah.

Hanya
saja, usaha menjual SMI dgn PSRI memang agak berat, karena ada gerakan
tandingan yg begitu santer untuk KPK segra menangkap TRIO perampok Bank
Century dan Pajak Fiktif Puluhan Trilyunan (Boediono, SMI, Darmin
Nasution) yg disponsori oleh Jenderal Sutanto (mantan Ka BIN) yang
dijanjikan oleh SBY untuk menjadi capres PD setelah SBY tidak bisa maju
lagi. Tugasnya menghambat agar SBY bisa aman sampai 2014 atau setidaknya
TRIO itu saja yang diseret. Jangan sampai menyentuh Cikeas.

Kesulitan
menjual SMI dan PSRI, sempat dicoba dilansir dagangan baru oleh kubu
konglomerat yakni menjual Dahlan Iskan. Sempat panas
sebentar, namun ternyata hanya euforia karena banyak kalangan yang tahu
rekam jejak Dahlan Iskan ketika menghabisi Grup Koran ternama di Jatim
dengan mendirikan Jawa Pos yang didukung beberapa pihak yg terganggu
oleh pemberitaan Koran ternama tersebut yang tidak mau berkompromi. "Ini
orang dari dulunya sudah jadi boneka, masak mau dijadikan presiden,
yang bener saja lah. Apa tidak mengulang episode SBY di rewind",
demikian sumber BIN mengatakan.

Bingung mencari jago, akhirnya
beberapa meminta Hutomo Mandala Putra Suharto untuk tampil di 2014.
Hanya saja, HMP tidak ada komentar sampai kini. Usaha membuat Partai
Nasrep yg dimotori Mayjen Edi Waluyo juga tidak menggelora, malah
seperti setengah hati.

Selain Sutanto, Prabowo juga dijanjikan
oleh SBY. Bahwa PD akan bersama Gerindra di 2014 untuk mencalonkan
Prabowo sbg capres. Hanya saja, selain menjanjikan, juga secara
bersamaan, semua bank dikunci agar tidak mengucurkan kredit kepada
Prabowo,
sehingga likuiditas Prabowo tersendat. Ini yg membuat Prabowo takluk
dan mendukung Panja Pajak Pro Demokrat.

Joko Suyanto, sang
Jenderal AU, seangkatan SBY, juga dijanjikan. Namun dia tidak tinggal
diam. Apalagi dia, bersama Hatta Rajasa, sudah jelas sebagai distributor
dana Skandal Century. Selain mau menyelamatkan diri, juga sedang
memanuver agar kekuasaan SBY jatuh sebelum waktunya. Sehingga jatuhnya
ke tangan Menko Polhukam. Untuk selanjutnya akan memudahkan urusan.

Tak
pelak lagi, beberapa Jenderal AD yang dekat kekuasaan menjadi berang
karena berbagai macam isu dilansir untuk menjauhkan SBY dari teman2nya
yang AD. Dengan isu Dewan Jenderal AD, SBY berhasil diisolasi oleh Djoko
Suyanto, sehingga teman2nya Jenderal AD tidak lagi dekat dengan SBY.
Djoko Suyanto bersama para perwira tinggi AU yang siap menduduki Jakarta
melalui jalur udara, sudah menyiapkan skenario semacam "supersemar"
agar jatuhnya kekuasaan SBY ke tangan Djoko
Suyanto. Krn kalau lewat Pemilu normal tidak ada jaminan, nasib dirinya
akan aman. Mengingat semua bisa saling mengkhianati untuk menyelamatkan
diri.

Hal "siaga 3" ini pulalah yang dibahas dalam rapat
terbatas para Jendral purnawirawan AD baik senior maupun yang masih
aktif, karena merasa dikhianati oleh Djoko Suyanto, yang berhasil
mengisolasi SBY. Tidak ada satupun Jenderal AD yang dulu hotline dg SBY,
sekarang semua lewat Djoko Suyanto. Shg bisa discreening.

"Inilah
kebodohan SBY, krn dia orang yg tidak tahu terima kasih. Semua hubungan
selalu berdasar kepentingan semata, dia buta, tidak bisa membedakan
mana kawan, mana lawan. Tidak sedikit orang setia yg dia korbankan. Spt
Kolonel Azis kasus Kedutaaan Indonesia di Korea, Bachtiar Chamzah malah
SBY memilih oportunis/pedagang Si Suryadarma Ali, Hafidz Anshari ketua
KPU sudah disuruh manipulasi macam2 dan sekarang dikorbankan, dll.
Padahal dalam saat kritis dan krisis, kuncinya adalah
teman sejati, dan ini dia tidak punya. Dia kira semua orang punya
kepentingan. Celakalah SBY", demikian seorang Jenderal senior yang
mengenal SBY sejak jaman dulu.

"Memangnya Djoko Suyanto tolol.
Untuk menjadikan dirinya pahlawan, ya kemudian SBY yang akan diadili di
depan rakyat, sekaligus untuk membersihkan diri", demikian lanjutnya
berapi-api.

Bagaimana kekuatan dukungan untuk SBY di POLRI
Jenderal? Dijawab sbb: "POLRI yang penting untung saja. Lihat saja kasus
Gayus. Ito Sumardi sudah ditugaskan oleh SBY, sampai Ito menjemput
Gayus ke Singapore, namun dalam perjalanannya, dengan amat mudah kendali
operasi diambil alih oleh Salempang (wakilnya), sehingga Tim nya Ito
dan Deny Indrayana hancur berantakan, sedangkan Gayus kan bicaranya
tergantung siapa yang menang pertempuran saat itu, ya diatur saja
kalimatnya sesuai pesanan. Polisi itu yang penting dapat Job, ya jalan,
tapi juga harus jelas mengawalnya agar tidak belok kalau dapat
tawaran yg lebih tinggi/ lebih baik. Bohirnya Polisi itu banyak. Tidak
hanya SBY",demikian Sang Jenderal Senior.

Ruhut Situmpul dan
Sutan Butogana yang biasa muncul sebagai corong SBY pun mulai kendor.
Dimintai komentar soal para tokoh DEPAN yang meluncurkan buku berisi
daftar abused pemerintahan SBY-BOED, reaksinya adem ayem saja: "ya
silahkan saja, ini negara demokrasi, semua bebas berekspresi, tidak
seperti biasanya yang banyak membela disana sini. Lebih jelas lagi
adalah Marzuki Ali, sang Ketua DPR yang merasa sbg pendiri Demokrat dari
sejak awal, namun selalu disingkirkan oleh SBY dalam penentuan posisi
menteri, ditambah didzalimi ketika bersaing melawan Anas, sudah siap
siaga berperan sebagai layaknya Harmoko di tahun 1998. Miring sedikit,
akan segera menyeberang. Lebih baik jadi pahlawan daripada sebagai
bersama masuk jurang. Lain lagi Taufik Kiemas. Dia memang oportunis.
Siapa yg menang pasti ikut, apalagi kalau diberi peran. Segra saja
siap beraksi. Yg penting dagangannya (Puan Maharani) jangan
ditinggalkan.

"Jenderal Marciano itu tadinya komandan paspampres.
Hampir tidak punya latar belakang pengalaman dunia intelejen. Di
seluruh dunia, dipahami bahwa dunia intelejen adalah seperti negara
dalam negara. Tidak peduli pemerintah ganti berkali-kali, dunia
intelejen jalan terus. Dan harus dipimpin oleh yang berpengalaman di
bidang intelejen, by training dan by expereince, tidak bisa ujug-ujug.
Kalau ini sih sudah pertanda siaga 3, yang penting Pak Marciano siap
melarikan presiden n keluarganya kalau terjadi apa2. Itu saja fokusnya.
Kalau memimpin BIN, sulitlah. Kalau soal pengamanan presiden n keluarga,
beliau sudah teruji. Ditaruh di BIN krn info A1 adanya di BIN, jd bisa
cepat siap2", salah seorang intel muda menjelaskan.

Kini, kembali
SBY dibikin pusing. Mau berkata apa lagi. Semua langkahnya sudah salah
lagi dan salah lagi. Tiba-tiba dunia dihentakkan seorang mahasiswa
semester akhir Fakultas Hukum UBK yang membakar diri di depan
istananya. Nyawa TKW yang dipancung tidak ada harganya, nyawa korban
jembatan Kutai, tsunami, longsor, tanggul jebol, gempa demi gempa,
gunung meletus, tabrakan, terus korban nyawa, sampai dijuluki Susilo
Bambang Nyudo Nyowo (mengurangi nyawa).

Adalah amat sangat mudah
untuk Abraham Samad menepati janjinya, karena semua bukti2 sudah
komplit. Century tinggal panggil Boed, SMI, Darmin, sebelum mengarah ke
SBY. Bukti2 skandal Petinggi PD juga sudah komplit, tinggal panggil Anas
n Ibas. Nunun juga sudah tertangkap. Cuma butuh keberanian saja. Semoga
arwah Sondang Hutagalung si pemberani, merasuk ke dalam jiwa Abraham
Samad.

Kini SBY menyesali nasibnya tanpa tahu harus berbuat apa, ini salah itu salah:

Sendiri......
Kini aku, sendiri lagi.......

Tiada kawan, tiada teman kutemui
Semua orang menghindari
Siap-siap menyelamatkan diri.
Tinggallah ku
sendiri

Sendiri.........
Kini aku, sendiri lagi ..........

Judul "The Lonely Song of SBY"

DEPAN NEWS
Disarikan dari obrolan informal para tokoh DEPAN dengan berbagai kalangan (Sipil, Militer, Polisi, Intelejen, Cikeas, dll).

Mengutip
pernyataan Prabowo kepada SBY: "Jakarta ini sempit. Kita tahu sama tahu
lah. Ngapain pakai jaim-jaim, sampai kolorpun kita saling tahu. Ndak
usahlah begitu".

__,_._,___

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger