Cari Blog Ini

Bidvertiser

Jumat, 22 Juni 2012

Ciri-ciri negara paling gagal sedunia


Publik dikejutkan hasil survei lembaga The Fund for Peace (FFP) yang berpusat di Ibu Kota Washington DC, Amerika Serikat. Pada penelitian itu, Indonesia berada di urutan ke-63, menandakan negara ini termasuk nyaris gagal menjalankan fungsinya.

Berdasarkan analisis majalah Foreign Policy yang melansir hasil survei itu pada edisi Senin (18/6), cara FFP mengukur keberhasilan atau kegagalan sebuah negara menggunakan perspektif filsuf John Locke.

Dalam pendangan sang filsuf, negara merupakan penyedia jasa. Negara berhasil apabila mampu menyediakan kebutuhan infrastruktur, fungsi sosial seperti kesehatan dan pendidikan, serta menjamin keamanan.

Poin penegakan hukum merupakan indikator utama penentu peringkat negara dalam survei FFP. Pendekatan ini diakui Direktur FFP Krista Hendry dalam pernyataan pers kemarin. "Penilaian kami berdasarkan cara sebuah negara mengelola tantangan dengan penegakan hukum yang mantap di alam demokrasi," ujar dia.

Buat FFP, ketika negara tidak bisa menghadirkan keamanan, maka kemakmuran dan fungsi sosial sudah pasti ikut runyam. Hal ini menjelaskan mengapa Somalia berada di posisi terbawah dari 178 negara yang disurvei. Inilah negara paling gagal sedunia.

FFP menilai peringkat Somalia terburuk karena tiadanya keamanan dan kepastian hukum. Perompak merajalela, terorisme terjadi nyaris di seluruh wilayah, dan pemerintah resmi seakan tidak mampu menghentikan semua kekacauan.

Lima peringat terbawah dalam survei FFP ditempati negara dengan kondisi serupa Somalia.

Tepat di atas Somalia, ada Republik Kongo yang dianggap jauh dari aman karena perang saudara tidak usai-usai. Milisi memiliki senjata setara angkatan bersenjata resmi.

Sudan yang baru saja berpisah dengan Sudan Selatan juga dianggap gagal karena masih ada jutaan pengungsi selepas perang saudara tahun lalu, merenggut nyawa jutaan orang. Perebutan kilang minyak menambah runyam persoalan negara Afrika Tengah itu.

Indeks Negara Gagal ini ditentukan lewat 12 indikator dan 100 sub-indikator, termasuk sosial, politik, ekonomi, dan hukum. Setiap indikator bernilai 1-10 lewat analisa jutaan dokumen publik dan data kuantitatif lain. Seluruhnya dinilai oleh analis terbaik dunia. Berada di posisi lebih dari 50 besar dalam indeks itu, bisa dibilang sebuah negara menuju kehancuran.

Lantas, apakah Indonesia saat ini memang semakin tidak aman?



Sumber: merdeka | Berita Terbaru

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger