Cari Blog Ini

Bidvertiser

Selasa, 19 Maret 2013

Venezuela, Brasil, dan Indonesia (R William Liddle)

R William Liddle
Bagi banyak orang Indonesia, mendiang Presiden Venezuela Hugo Chavez termasuk negarawan Amerika Latin yang paling terpuji selama abad ke-21.
Ia dianggap berpihak kepada wong cilik sedunia, terutama sikapnya yang menentang kesewenangan Barat. Namun, bagi saya, prestasi mantan Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva, yang juga mewakili sayap kiri, jauh lebih patut dihargai dan diteladani.
Lula lahir pada 1945 dari keluarga miskin di Pernambuco, salah satu provinsi termiskin di Brasil. Tak sempat lulus SD, ia mulai bekerja sebagai buruh pabrik pada umur 14 tahun.
Beberapa tahun kemudian, ia menjadi aktivis serikat buruh dan pernah dipenjarakan pemerintahan militer. Ia ikut mendirikan Partido dos Trabalhadores, Partai Buruh, pada 1980 dan terpilih menjadi anggota parlemen enam tahun kemudian. Dalam proses transisi ke demokrasi, Lula dan partainya berhasil memperkuat hak buruh tatkala UUD diamendemen. Dia calon presiden dari partainya pada Pemilu 1990, 1994, dan 1998, tetapi baru menang pada 2002 dan terpilih kembali empat tahun kemudian.
Di mana keistimewaan Lula? Kebijakan ekonominya mengandung tiga unsur pokok yang saling menopang. Pertama, dia melanjutkan semua kebijakan makroekonomi pendahulunya, termasuk pembayaran kembali utang negaranya kepada IMF. Perbuatan itu penting demi menjamin kestabilan ekonomi Brasil mengingat reputasi lama Lula selaku aktivis kiri yang garang.
Kedua, program pengentasan orang miskin serius ditangani. Program terbesar, Bolsa Familia (Tunjangan Keluarga) berbentuk bantuan untuk keluarga miskin yang punya anak bersekolah. Fome Zero (Zero Kelaparan) menggabungkan sejumlah program khusus menghapus kelaparan.
Ketiga, program sosial itu diberi landasan kukuh melalui program pembangunan infrastruktur besar-besaran (350 miliar dollar AS selama masa jabatan kedua) bernama PAC (Programa de Aceleracao do Crescimento/Program Akselerasi Pertumbuhan). Modalnya diperoleh dari anggaran pemerintah pusat, BUMN, dan swasta. Proyek konstruksi bidang sanitasi, energi, pengangkutan, dan logistik diprioritaskan agar sektor swasta terdorong bertumbuh lebih cepat.
Kebijakan ini berhasil. Menurut Bank Dunia, ekonomi Brasil kini tergolong maju dan stabil selaku ekonomi terkaya ketujuh di dunia. PAC berdampak cukup besar bagi laju pertumbuhan yang mencapai 7,5 persen pada 2010. Setahun kemudian, ketika pasar global terguncang, ekonomi Brasil mampu bertumbuh 2,7 persen. Kemiskinan ekstrem (pendapatan di bawah 1,25 dollar AS per hari) berkurang dari 10 persen pada 2004 menjadi 2 persen pada 2009.
Tak kurang penting, sukses ini terjadi di negara demokratis. Menurut ukuran baku Freedom House, Brasil terhitung negara bebas seperti Indonesia. Namun, tingkatnya sedikit lebih tinggi dari Indonesia dengan freedom rating 2,0 lawan 2,5. Pers dan tingkat kebebasan sipil dinilai lebih baik ketimbang Indonesia. Freedom House menggunakan skala 1-7 dengan 1 sebagai tingkat paling bebas atau demokratis.
Bagaimana kebijakan Chavez di Venezuela? Menurut Bank Dunia, kemiskinan ekstrem dikurangi dari 32 persen pada 1995 menjadi 19 persen pada 2005. Keberhasilan itu disebabkan program perawatan kesehatan gratis, makanan pokok yang disubsidi, pembagian tanah kepada ratusan ribu petani miskin, dan pembentukan 100.000 koperasi yang memberi pekerjaan kepada 1,5 juta anggotanya.
Tak sulit dicapai
Selain itu, sulit mencari berita bagus tentang ekonomi Venezuela, yang kian banyak dimiliki negara sejak Chavez jadi presiden. Masalah utamanya mungkin bukan ideologi sosialisnya, tetapi ketergantungannya kepada minyak yang merupakan 30 persen dari produk domestik bruto dan 90 persen dari hasil ekspor. Selama ia berkuasa, laju pertumbuhan ekonomi Venezuela tidak pernah stabil dan sering negatif, termasuk pada 2009 dan 2010.
Lebih berat lagi, politik Venezuela kacau-balau di bawah Chavez. Statusnya, menurut Freedom House, hanya partly free, sebagian bebas. Hak politik dan kebebasan sipil diberi ukuran 5, jauh di bawah Brasil dan Indonesia. Para hakim tak berani melawan kehendak pemerintah. Pers disensor dan diintimidasi.
Akhirulkata, posisi Indonesia sebagai negara terbesar di Asia Tenggara dan terbesar ketiga di dunia tak banyak berbeda dengan Brasil sebagai negara terbesar di Amerika Latin dan terbesar kelima di dunia. Jadi, tingkat keberhasilan Brasil seharusnya tak sulit dicapai di Indonesia asal masyarakatnya pinter memilih pemerintahan yang tepat.
R William Liddle Profesor Emeritus Ilmu Politik, Ohio State University, AS
(Kompas cetak, 19 Maret 2013)
Powered by Telkomsel BlackBerry®













Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger