Namun, tantangan yang dihadapi kian berat. Salah satu tantangan adalah pertambahan jumlah penduduk, khususnya di negara berkembang. Meski pertumbuhan penduduk di dunia melambat, di sejumlah kawasan hal sebaliknya justru terjadi, khususnya di Afrika. Hal itu tertuang dalam laporan PBB, "Prospek Populasi Dunia: Revisi 2012", Jumat (14/6).
Pertumbuhan penduduk dunia lebih tinggi daripada perkiraan dua tahun lalu. Penduduk dunia sekarang, pada tahun ini, adalah 7,2 miliar jiwa. Jumlah ini diperkirakan menjadi 8,1 miliar pada 2025 dan 9,6 miliar tahun 2050. Sebelumnya, pada pertengahan abad ini, jumlah penduduk diperkirakan "hanya" 9,3 miliar. Indonesia bersama 25 negara menyumbang 75 persen populasi dunia.
Isu yang segera terbayang manakala kita membicarakan jumlah penduduk adalah daya dukung Bumi dan kemampuan pemerintah mengelola urusan, terutama yang terkait dengan penyediaan pangan dan kebutuhan lain.
Seperti kita baca berita di harian ini, 4,1 persen dari penduduk dunia yang ada pada 2050 akan kekurangan gizi, 62 juta di antaranya di Asia Timur. Pada 2025, diperkirakan 1,8 miliar penduduk dunia akan mengalami kekurangan air parah. Ya, itulah yang merisaukan kita, peningkatan jumlah penduduk akan menghadapkan kita pada peningkatan kebutuhan akan sumber daya. Padahal, dari apa yang kita lihat sekarang saja kondisi tampak sudah berat.
Indonesia akan menghadapi tantangan masif. Karena itu, Indonesia harus melancarkan program darurat menanggulangi pelbagai tantangan yang terkait dengan prospek peningkatan jumlah penduduk, yang pada 2025 diperkirakan akan mencapai 282 juta, dan pada 2050 menjadi 321 juta, dari 240 juta sekarang ini.
Program keluarga berencana harus menjadi salah satu prioritas. Kita menyambut baik berita, penyuluhan KB kini mulai digalakkan lagi. Kita sering diingatkan, jumlah penduduk yang diunggulkan sebagai keunggulan komparatif sudah tidak relevan lagi.
Kita juga harus memperbaiki kemampuan penyediaan pangan dan energi. Kita masih kurang memanfaatkan inovasi iptek untuk meningkatkan kapasitas kita. Justru ketika jumlah penduduk semakin banyak, kita semakin bergantung pada impor pangan dan energi. Bagaimana kalau eksportir berubah pikiran dan menutup keran ekspor ke Indonesia?
Tak kalah pentingnya adalah kemampuan kita mengelola alam sebagai daya dukung populasi. Selama ini, di sini pun kita masih kurang arif. Alih-alih mempertahankan hutan, yang terjadi justru kita mendengar laju deforestasi yang meningkat.
Laporan PBB tentang populasi di atas sudah sepantasnya menjadi lonceng peringatan yang keras bunyinya untuk membangkitkan kesadaran dan tekad kita bertindak. Itu jika kita tidak ingin melihat populasi menjadi sumber bencana di kemudian hari.
(Tajuk Rencana Kompas, 17 Juni 2013)
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Tidak ada komentar:
Posting Komentar