Cari Blog Ini

Bidvertiser

Selasa, 16 Juli 2013

Mengamankan Mudik Lebaran (Kompas)

Hampir semua jalur keluar Provinsi Jawa Barat menuju Jawa Tengah dari Jakarta rusak. Kondisi jalan berlubang, aspal terkelupas dan bergelombang.

Hal lain, pasar tumpah ke jalan, dan perbaikan jalan terjadi di beberapa tempat.

Berbeda dengan menangani bencana alam atau musibah, mengamankan mudik Lebaran bisa dipersiapkan jauh sebelumnya. Sarana jalan memang bukan satu-satunya faktor kelancaran arus mudik. Masih ada sejumlah prasyarat lain, termasuk sarana transportasi dan keamanan.

Namun, sarana jalan yang nyaman-mulus bisa dipersiapkan sebelumnya. Di samping perlu dipersiapkan, mengamankan mudik juga merupakan tugas intrinsik pelayanan publik yang termasuk esensial amat penting karena melibatkan faktor ekonomi, sosial, budaya, dan agama, termasuk emosi dan jumlah massa yang besar. Padahal, selain memerintah, tugas pemerintah adalah juga melayani.

Memerintah dan melayani, makna pejabat publik sebagai servus servorum populi (pelayan dari abdi rakyat). Etik moral dan makna pejabat publik dinilai dari seberapa jauh memberikan pelayanan kepada rakyat. Pepatah klasik kita kutip untuk menggarisbawahi filosofi dasar pejabat publik itu melayani, dalam hal ini menyelenggarakan kelancaran arus mudik dan arus balik Lebaran.

Dari tahun ke tahun mudik Lebaran selalu kacau. Seloroh "mudik tanpa macet kurang komplet" sekadar memperolok ketidakbecusan, sementara kelancaran mudik tetap jadi harapan bersama. Pun kenyataannya dari tahun ke tahun jumlah pemudik terus bertambah sehingga tingkat kerumitan semakin besar.

Artinya, kalau salah satu faktor persoalan mudik ditangani lebih dini, satu langkah progresif-maju dilakukan. Salah satu faktor itu adalah kesiapan sarana infrastruktur jalan. Berita tentang jarak 50 kilometer harus ditempuh dalam waktu 12 jam, rusaknya jalan di Jawa Tengah dan Jawa Barat, sekadar informasi agar perbaikannya ditangani sebagai pekerjaan yang mendesak.

Mengapa Jawa Tengah dan Jawa Barat? Karena pergerakan arus mudik Lebaran berjubel di kedua provinsi itu, termasuk sarana dan obyek-obyek pariwisatanya, seperti DI Yogyakarta yang memperoleh lubernya pendatang.

Karena pemudik dari Jakarta umumnya kaum urbanisator dengan tujuan utama mencari pekerjaan, bukan tidak mungkin pergerakan massa arus mudik juga terjadi di Jawa Timur. Sebab, Surabaya mulai menjadi kota satelit warga kawasan kota dan pedesaan di sekitarnya.

Catatan ini menawarkan beberapa hal. Pertama, mengamankan mudik Lebaran merupakan tugas mendesak yang harus ditangani pejabat publik. Kedua, memperbaiki sarana jalan merupakan faktor terpenting kelancaran mudik. Ketiga, semakin cepat sarana kepentingan arus mudik dipersiapkan, semakin tinggi bobot keberhasilan pejabat publik.

(Kompas cetak, 16 Juli 2013)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger