Cari Blog Ini

Bidvertiser

Rabu, 21 Agustus 2013

Meredam Kecemasan Pasar (Tajuk Rencana Kompas cetak)

Pasar membutuhkan sinyal yang jelas dan kuat dari pemerintah dalam menenangkan pasar uang dan pasar saham dalam negeri yang kembali merosot kemarin.
Pemerintah sudah mengidentifikasi penyebab pelemahan itu, yaitu faktor eksternal dan faktor di dalam negeri. Faktor eksternal adalah rencana bank sentral Amerika mengurangi stimulus moneter karena ada tanda perbaikan ekonominya. Hal ini membuat investor portofolio asing meninggalkan negara berkembang. Faktor dari dalam negeri, pemerintah mengakui penyebab defisit transaksi berjalan adalah defisit neraca perdagangan.

Dalam situs Bank Indonesia, Gubernur BI Agus Martowardojo menyatakan, bauran kebijakan BI menurunkan defisit neraca pembayaran dari 6,6 miliar dollar AS pada triwulan I menjadi 2,5 miliar dollar AS pada triwulan II. Pada saat bersamaan, defisit transaksi berjalan meningkat. Surplus ekspor tergerus terutama untuk impor bahan baku dan konsumsi. Defisit juga terjadi pada neraca jasa karena meningkatnya pembayaran jasa transportasi barang seiring kenaikan impor dan perjalanan ke luar negeri saat libur sekolah. Defisit makin lebar sebab pembayaran utang luar negeri dan transfer keuntungan kepada investor asing.

Persoalan lain yang menghantui adalah inflasi tinggi akibat kenaikan harga BBM berbarengan dengan bulan puasa yang dalam siklus tahunan selalu memicu inflasi. Untuk meredam inflasi, BI menaikkan suku bunga Fasilitas Simpanan BI (Fasbi) dan BI Rate yang menjadi acuan perbankan serta menerbitkan obligasi valas. Transaksi modal dan finansial mencatat surplus 8,2 miliar dollar AS pada triwulan II melalui penarikan simpanan perbankan domestik di luar negeri yang memanfaatkan fasilitas term deposit dan lindung nilai valas oleh BI.

Meski begitu, langkah tersebut direspons negatif. Sejumlah pengusaha mencemaskan penurunan tajam nilai tukar rupiah dan indeks saham gabungan. Yang terjadi saat ini adalah akumulasi sikap pemerintah yang terlena sehingga bekerja rutin meskipun ada sejumlah peringatan ekonomi Indonesia akan mengalami guncangan.

Untuk menenangkan pasar, inflasi harus dikendalikan. Perlu koordinasi dan kepemimpinan untuk berani memilih kebijakan, apakah menaikkan BI Rate atau mempertahankan pada tingkat saat ini agar biaya kredit perbankan tetap relatif murah. Produksi pangan dalam negeri harus ditingkatkan karena pangan menjadi penyebab inflasi.

Pemerintah tidak boleh bekerja rutin dalam mendorong ekspor, terutama ke pasar nontradisional, karena sejumlah eksportir produk industri mengaku mendapat keuntungan dari melemahnya nilai tukar rupiah. Impor harus ditekan, terutama BBM. Pembatasan pemakaian BBM bersubsidi harus segera dilakukan, energi alternatif segera diwujudkan, dan transportasi publik diperbaiki dan diperluas.

Semua sudah ada dalam rencana pemerintah. Yang kita butuhkan adalah pemimpin yang mampu meyakinkan masyarakat, pemerintah mengerti persoalan dan tahu langkah yang harus dilakukan.

( Tajuk Rencana Kompas cetak, 21 Agustus 2013)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger