Cari Blog Ini

Bidvertiser

Sabtu, 19 Oktober 2013

Berharap Damai dari Geneva (Tajuk Rencana Kompas)

APAKAH Konferensi Geneva 2, yang akan dilaksanakan minggu ketiga bulan November, akan mampu melahirkan perdamaian di Suriah?
Konferensi Geneva 2—Geneva 1 dilaksanakan pada Juni 2012—dimaksudkan sebagai sebuah terobosan terhadap kebuntuan krisis di Suriah, yang telah menewaskan lebih dari 120.000 orang. Selama ini, usaha mencari solusi damai terhadap krisis Suriah, baik yang dilakukan Liga Arab maupun Perserikatan Bangsa-Bangsa, belum membuahkan hasil. Usaha Amerika Serikat (AS) dengan sekutunya menekan Suriah pun tidak membuahkan hasil karena Rusia tetap berdiri di pihak Suriah.

Jadi, konferensi di Geneva, Swiss, merupakan jalan keluar dari kebuntuan tersebut, untuk mempertemukan kedua kekuatan besar yang berpengaruh atas masa depan Suriah—AS dan Rusia—yang selalu berseberangan pendapat dan sikap tentang cara mencari solusi atas Suriah.

Akan tetapi, mengingat bahwa hasil Konferensi Geneva 1 (2012), dapat dikatakan, tidak "berpengaruh positif" terhadap krisis di Suriah—perang masih terus berkobar, jumlah korban tewas terus bertambah, jumlah pengungsi makin meningkat, dan belum ada tanda-tanda reda—wajar muncul pertanyaan seperti di atas, yang mengawali ulasan singkat ini.

Kalangan yang pesimistis akan dengan tegas menjawab pertanyaan tersebut di atas dengan mengatakan, sangat kecil kemungkinan Konferensi Geneva 2 akan menghasilkan suatu kesepakatan yang mendorong tercapainya perdamaian di Suriah.

Ada banyak alasan mengapa jawaban seperti itu dikemukakan, antara lain tidak semua pihak yang terlibat konflik di Suriah, pecah sejak Maret 2011, bersedia ikut dalam konferensi tersebut. Karena itu, bagaimana mungkin, kalau pihak-pihak yang berseteru tidak semua terlibat dalam konferensi, akan lahir sebuah kesepakatan damai? Apakah negara-negara peserta konferensi dapat memaksakan kehendak agar semua menerima hasil Geneva 2 nanti?

Mereka yang bersikap optimistis akan menjawab, apa salahnya dicoba. Bukankah tidak akan pernah ada perdamaian kalau usaha mewujudkan perdamaian itu tidak pernah dilakukan? Namun, memang, kelompok ini pun mengakui realitas di lapangan memberikan gambaran betapa sulitnya mengupayakan perdamaian di Suriah yang sudah dicabik-cabik perang saudara, sektarian. Suriah sudah terbelah-belah, bukan hanya ada perang antara pasukan pemerintah dan kelompok oposisi, melainkan juga antara oposisi dan oposisi, yakni yang berhaluan keras dan moderat.

Memang, pelaksanaan konferensi masih November mendatang. Karena itu, sejumlah kemungkinan masih bisa terjadi, situasi di lapangan bisa berubah. Karena itu, apa pun, kita mengapresiasi usaha pencarian perdamaian itu.

Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000002709397
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger