Jumlah korban tewas masih simpang siur, tetapi diperkirakan 88.000 sampai 110.500 orang sejak konflik berdarah pecah Maret 2011. Angka korban tewas termasuk 5.000 perempuan dan 6.000 anak-anak. Korban cedera jauh lebih banyak lagi, sementara pengungsi sekitar 2 juta orang atau sekitar 10 persen dari 21 juta penduduk. Kebanyakan mereka mengungsi ke negara tetangga Lebanon, sebagian lagi mengadu nasib ke negara-negara Barat.
Amukan konflik yang tak kunjung surut itu juga meminta kerugian harta benda tidak kecil. Rangkaian ledakan bom menambah tragis konflik antara pasukan pemerintahan Presiden Bashar al-Assad dan kekuatan pihak oposisi Suriah. Belum segera diketahui kapan kekonyolan konflik berdarah ini akan berakhir. Keprihatinan justru meningkat karena konflik antara kaum pendukung dan penentang Presiden Assad cenderung meluas.
Berbagai upaya perdamaian selama ini gagal menghentikan konflik. Suriah sebagai negara dan bangsa dipandang tidak mampu mengatasi krisis yang dihadapinya. Juga organisasi regional, seperti Liga Arab, tidak efektif menjembatani para pihak yang bertikai di Suriah. Dunia internasional, termasuk PBB, gagal pula menghentikan konflik Suriah. Persoalan bertambah rumit karena kekuatan besar dunia terpecah. Rusia dan China cenderung mendukung pemerintahan Presiden Assad, sementara Barat mendukung gerakan pihak oposisi.
Harapan penyelesaian damai kini diletakkan pada pertemuan di Geneva, yang dijadwalkan tanggal 23 November mendatang. Pertemuan itu diharapkan akan memberikan jalan keluar yang damai dan adil atas konflik Suriah. Pertemuan Geneva diharapkan berhasil karena kegagalan dikhawatirkan hanya akan menambah kekecewaan, rasa putus asa, frustrasi, bahkan mungkin dendam. Lebih dikhawatirkan lagi, konflik akan semakin berkecamuk, yang terus meminta korban jiwa.
Konflik berdarah di Suriah dan berbagai kasus kekerasan serta perang di dunia memperlihatkan pertikaian sangat mudah dihasut dan dimulai, tetapi tidak gampang untuk dihentikan. Serangan pertama akan selalu diikuti dengan serangan lanjutan. Kalaupun perang akhirnya dapat dihentikan, korban jiwa manusia sudah berjatuhan dan kerusakan sudah terjadi. Atas dasar itu, jauh diperlukan semangat memelihara perdamaian dan ketenangan.
Lebih baik menghabiskan dana, yang lazimnya lebih terkendali, untuk membangun kesadaran dan perilaku tentang perdamaian dan toleransi ketimbang membuang- buang dana untuk mengakhiri konflik berdarah, yang pasti meminta korban jiwa dan kerugian harta benda.
Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000002744644
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tidak ada komentar:
Posting Komentar