Pernyataan duka mengalir dari seluruh pelosok dunia atas kepergian pahlawan penentang apartheid dan mantan Presiden Nelson Mandela, yang meninggal dalam usia 95 tahun, Kamis lalu, di Johannesburg, Afsel, akibat infeksi paru-paru dan usia lanjut. Seluruh dunia tampak bersedih atas kepergian seorang tokoh besar awal abad ke-21 yang namanya melambung tinggi karena cita-cita serta perjuangannya untuk perdamaian dan keadilan.
Sebagai ungkapan berkabung, Amerika Serikat dan Perancis bahkan mengibarkan bendera setengah tiang. Ekspresi kehilangan dirasakan pula di kalangan pemerintah dan rakyat Indonesia. Paling tidak Mandela dua kali berkunjung ke Indonesia dan dikenal sangat menyukai kemeja batik. Bangsa Indonesia juga tergugah oleh perjuangan Mandela yang menekankan rekonsiliasi.
Kepergian Mandela hampir bersamaan dengan pemutaran perdana filmnya di Inggris, yang diangkat dari buku Mandela, Long Walk to Freedom (Mandela, Jalan Panjang Menuju Kemerdekaan). Perjalanan panjang Mandela dalam kenyataannya tak hanya berakhir pada pembebasannya tahun 1990 setelah 27 tahun dipenjara. Tak berakhir juga setelah sistem apartheid tumbang. Perjalanannya terus melaju, melampaui batas negara, ras, dan warna kulit.
Tidaklah mengherankan, mantan tahanan Nomor 46664 yang menjadi Presiden Afsel tahun 1994-1999 itu tidak hanya dipandang sebagai pejuang kemanusiaan Afsel, tetapi juga dunia. Mandela menjadi inspirasi dan nurani dunia bagi gerakan menentang diskriminasi. Dengan tegas, Mandela menolak dominasi kulit putih ataupun dominasi kulit hitam. Atas perjuangannya, Mandela tidak hanya meraih penghargaan bergengsi Nobel Perdamaian tahun 1993, tetapi juga kehormatan dan penghormatan luar biasa dunia dari kalangan masyarakat dunia.
Terlepas dari segala keterbatasannya, Mandela bahkan dianggap orang suci karena tidak menyimpan dendam atas derita dan penindasan di penjara Pulau Robben. Namun, Mandela menolak disebut orang suci dengan menyatakan, "Saya bukanlah santo, tetapi pendosa yang terus berusaha." Selepas dari penjara, Mandela ibarat nabi menjadi kampiun penentang diskriminasi dan pendorong rekonsiliasi yang memang sangat dibutuhkan sebuah bangsa, termasuk bangsa Indonesia yang bersifat majemuk.
Semangat rekonsiliasi diperlihatkan dari dirinya sendiri dengan berani mengaku bersalah, mea culpa, tidak suka menyalahkan orang lain, dan bersedia memaafkan (forgive) meski tidak harus melupakan (not forget) berbagai kesalahan di masa lalu. Alangkah besar jiwa seorang Mandela, yang mampu memberikan keteladanan dalam menghilangkan sikap dendam karena masa depan bangsa yang baik tidak akan lahir dari dendam, tetapi dari semangat rekonsiliasi, perdamaian, dan persaudaraan sejati.
Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000003543018
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tidak ada komentar:
Posting Komentar