Cari Blog Ini

Bidvertiser

Sabtu, 07 Desember 2013

TAJUK RENCANA Akankah Desakan Raja Didengarkan? (Kompas)

DALAM pidato pada ulang tahunnya yang ke-86, Kamis (5/12), Raja Bhumibol Adulyadej mendesak agar rakyat Thailand saling mendukung demi negara.
Kepada rakyat Thailand, ia menegaskan, selama ini Thailand damai karena rakyatnya bersatu. Pidato Raja Bhumibol itu menjadi menarik karena disuarakan di tengah-tengah aksi protes ribuan pengunjuk rasa antipemerintah, yang menuntut Perdana Menteri Yingluck Shinawatra mundur.

Sejak 24 November lalu, kelompok antipemerintah mengadakan aksi turun ke jalan dan menuntut PM Yingluck mundur dari jabatannya. Pemerintahan Yingluck dianggap berupaya memulangkan kembali mantan PM Thaksin Shinawatra (kakak Yingluck), dengan mengajukan Rancangan Undang-Undang Amnesti yang memungkinkan hal itu bisa dilakukan.

RUU tersebut sempat diloloskan oleh Majelis Rendah, tetapi ditolak oleh Senat. Walaupun Senat telah menolak RUU itu, aksi turun ke jalan tidak berhenti. Padahal, setelah ditolak Senat, Yingluck langsung menyatakan tidak akan mengajukan kembali RUU Amnesti itu.

Aksi turun ke jalan yang dilakukan kelompok antipemerintah itu sempat menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya konflik horizontal, karena kelompok propemerintah juga turun ke jalan. Namun, untunglah kelompok propemerintah langsung membubarkan diri ketika diminta pulang ke rumah. Sementara kelompok antipemerintah tetap bertahan di Monumen Demokrasi.

Untuk menghormati hari ulang tahun ke-86 Raja Bhumibol, 5 Desember, ribuan pengunjuk rasa antipemerintah menghentikan sementara aksi protes mereka. Hal itu menunjukkan bahwa betapa rakyat Thailand menghormati dan mencintai raja mereka.

Kita berharap mereka juga mau mendengarkan desakan Raja Bhumibol agar mereka bersatu dan saling mendukung bagi negara. Harapan ini disuarakan karena pengunjuk rasa antipemerintah sebelumnya bertekad akan melanjutkan kembali aksi protes mereka hingga PM Yingluck mundur dari jabatannya.

Yingluck sendiri menyatakan tidak akan memenuhi tuntutan kelompok antipemerintah untuk mundur dan menyerahkan kekuasaannya kepada Dewan Rakyat, yang tidak dipilih oleh rakyat. Oleh karena, itu inskonstitusional.

PM Yingluck terpilih melalui pemilihan umum tahun 2011, dan beberapa hari lalu ia lolos dari mosi tidak percaya di Majelis Rendah. Bagaimana mungkin seseorang yang dipilih secara konstitusional mengalah kepada parlemen jalanan.

Kita masih menunggu, apakah desakan Raja Bhumibol itu didengarkan atau tidak?

Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000003542941
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger