Khobragade yang ditangkap 13 Desember lalu sudah dibebaskan dengan jaminan, tetapi ketegangan diplomatik cenderung memuncak. Diplomat di perwakilan India di New York itu dituduh melakukan kejahatan berupa pemalsuan visa kerja dan membayar upah pembantu rumah tangga di bawah ketentuan. Gelombang protes muncul karena perempuan diplomatik itu dilaporkan mendapat perlakuan buruk, bahkan ditelanjangi seperti penjahat.
Pihak India merasa dipermalukan dan dilecehkan. Sebagai diplomat, Khobragade semestinya diperlakukan secara khusus karena memiliki kekebalan diplomatik seperti diatur dalam konvensi internasional. Namun, AS tetap berargumentasi, penangkapan Khobragade sesuai dengan hukum AS yang berlaku tanpa pandang bulu. Khobragade ditangkap pada 13 Desember atas tuduhan memalsukan dokumen untuk mendapat visa kerja bagi Sangeeta Richard, yang menjadi pembantunya.
Khobragade juga dituduh membayar upah Richard sebagai pembantu di bawah ketentuan. Upah rata-rata 3 dollar AS per jam atau 24 dollar AS per hari untuk kerja delapan jam dinilai terlalu rendah jika dibandingkan upah standar yang sudah di atas 10 dollar AS per jam. Namun, pihak India menilai pembayaran gaji sebesar itu layak bagi Richard. Apalagi, di luar gaji, Richard tinggal dan makan di rumah majikan sebagai praktik biasa di India.
Segera terlihat perbedaan persepsi dan budaya yang memengaruhi penilaian atas kasus Khobragade, yang bukan badai diplomatik antara India dan AS. Tentu menjadi pertanyaan, mengapa persoalan Richard sampai terendus aparat keamanan AS. Tidak begitu jelas bagaimana prosesnya Richard akhirnya berhubungan dengan lembaga nirlaba Safe Horizon, yang memiliki program antara lain menentang penyelundupan manusia.
Penguasa India menilai kasus Richard dieksploitasi sebagai bagian dari konspirasi internasional. Sementara penangkapan Khobragade sebagai upaya menghina dan mempermalukan India di panggung dunia. Ekspresi kemarahan India diperlihatkan secara demonstratif, seperti pencabutan kartu identitas untuk kekebalan diplomatik bagi diplomat AS. Selain itu, diminta juga daftar gaji staf India yang bekerja di perwakilan AS. Barikade beton di kompleks Kedubes AS disingkirkan dan dicabut perizinan khusus impor makanan dan minuman oleh perwakilan AS.
Reaksi India yang demonstratif merefleksikan hubungan dengan AS tak harmonis meski era Perang Dingin sudah berlalu. Walaupun disebut negara demokrasi terbesar di dunia dan termasuk kekuatan nuklir, India tetap dipandang sebelah mata oleh AS sebagai negara yang masih miskin.
Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000003784057
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tidak ada komentar:
Posting Komentar