Perluasan zona itu akan membuat sebagian tumpang tindih dengan Zona China. Dengan demikian, kini sudah tiga negara di Asia Timur yang menegakkan ADIZ (Zona Identifikasi Pertahanan Udara) yang efeknya—seperti kita ikuti beritanya—meningkatkan ketegangan di wilayah itu, yakni China, Jepang, dan Korea Selatan. Masalahnya adalah yang tercakup dalam zona-zona tersebut juga meliputi pulau-pulau yang kini tengah dipersengketakan.
Reaksi AS sebenarnya juga keras, tetapi baik AS maupun China tampaknya tidak mau terlalu eksplisit karena saat itu Wakil Presiden AS Joe Biden tengah berkunjung ke China.
Kita juga bisa membandingkan reaksi China terhadap langkah Korsel dan Jepang. Terhadap Korsel, China seperti tidak terlalu mempermasalahkan, sementara China tampak cenderung bersikap keras terhadap Jepang.
Para pengamat tidak sulit menerka alasannya. Selain menganggap Jepang sebagai pesaing di kawasan, China juga masih memendam kegetiran atas apa yang terjadi selama Perang Dunia II dan keduanya terlibat dalam tumpang tindih klaim teritorial atas pulau-pulau di Laut China Timur, yang oleh China disebut Diaoyu dan oleh Jepang disebut Senkaku.
Terhadap penegakan zona udara China, Jepang sejauh ini coba menggalang dukungan internasional untuk menentangnya. Hal itu misalnya melakukan pertemuan dengan mitra luar negeri. Menteri Pertahanan Jepang Itsunori Onodera dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Australia Julie Bishop, mengatakan masyarakat internasional harus bertemu untuk menanggapi soal ini bersama-sama. Lebih jauh lagi, seperti dikutip Reuters, Menhan Jepang menambahkan, aksi sepihak dengan cara memaksa (koersif) harus ditentang.
Kita pun menyimak bahwa masing-masing pihak tentu tidak ingin melihat kebijakannya kosong semata. China yang menegakkan ADIZ pasti akan menopangnya dengan peralatan memadai. Identifikasi meniscayakan adanya radar canggih dan masif, dan kalau menurut pendapatnya, ada pihak lain melakukan penerbangan atau aktivitas
lain yang melanggar, ia bisa mengambil langkah penindakan.
Kondisi seperti ini tentu meningkatkan kecemasan karena di lapangan pelatuk di tangan yang siap akan lebih mudah ditarik.
Kita berharap bahwa perkembangan isu keamanan Asia Timur Laut dapat dikelola dengan prinsip mengedepankan perundingan dan komitmen bersama untuk menjaga perdamaian. Kebijakan asertif yang disertai dengan semangat koersif jelas lebih mengandung risiko.
Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000003601265
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tidak ada komentar:
Posting Komentar