Dalam pidatonya di Knesset (Parlemen Israel), Schultz juga menegaskan bahwa adalah hak rakyat Palestina untuk hidup damai dan menikmati kebebasan dengan dapat bergerak tanpa hambatan.
Ia melanjutkan pidatonya itu dengan mengisahkan, seorang pemuda Palestina bertanya kepadanya, mengapa warga Israel bisa mengonsumsi air 70 liter sehari, sementara warga Palestina hanya 17 liter. "Saya belum mengecek kebenaran keluhan pemuda Palestina itu. Maka, saya bertanya kepada Anda, apakah keluhan itu benar?" ujarnya.
Bisa diduga pidato kontroversial itu mendapatkan reaksi keras dari partai garis keras Israel yang bergabung dalam kabinet yang dipimpin Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Bahkan, anggota Partai Bayit Yehudi dan Menteri Perekonomian Israel Naftali yang berasal dari partai itu langsung meninggalkan ruangan (walk out) saat Schultz menyampaikan pidatonya itu.
Apalagi, hubungan Israel dan Uni Eropa saat ini tengah mengalami gangguan karena negara-negara anggota Uni Eropa melakukan aksi pemboikotan secara luas terhadap produk-produk dari area permukiman Yahudi.
Secara keseluruhan, sesungguhnya, Schultz memihak Israel. Itu bisa dilihat dari sikapnya yang tidak menyetujui aksi boikot yang dilakukan oleh lembaga dan perusahaan Eropa itu. Schultz menanggapi positif permintaan Pemerintah Israel agar pemerintah negara Eropa menerbitkan undang-undang yang melarang lembaga dan perusahaan Eropa memboikot produk-produk dari area permukiman Yahudi.
Akan tetapi, kritik Schultz bahwa permukiman Yahudi menghambat tercapainya perdamaian dan blokade atas Jalur Gaza yang lebih mengancam, daripada memperkuat, keamanan Israel serta konsumsi air yang tidak merata itu membuat sikap pro-Israelnya tidak terlihat. Dalam wawancara dengan harian Jerman, Die Welt, yang dikutip harian The Jerusalem Post, Schultz menyatakan terkejut atas kerasnya reaksi yang diterima. Ia menilai bahwa pidatonya pro-Israel.
Permukiman Yahudi menuntut permintaan maaf Schultz atas pidatonya. Bahkan, PM Netanyahu pun menimpali dengan menuduh Schultz terlalu cepat mengecam tanpa mengecek kebenaran lebih dulu. Ia mengkhawatirkan kecaman Schultz itu akan diterima sebagai kebenaran oleh berbagai kalangan di Eropa. Menarik untuk melihat bagaimana Schultz menyelesaikan masalah yang ditimbulkannya, mengingat misi utama kedatangannya adalah untuk menanggapi permohonan diakhirinya boikot terhadap produk-produk dari permukiman Yahudi.
Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000004886867
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tidak ada komentar:
Posting Komentar