Rangkaian persoalan itu bukan lagi hanya bersifat kasuistik, melainkan juga menjadi fenomena permanen yang mengancam Jakarta untuk jangka panjang, lebih-lebih jika tidak segera diambil terobosan. Apa yang tampak pada permukaan sebagai fenomena, seperti banjir atau kemacetan, sesungguhnya menggambarkan kompleksitas dan realitas berlapis-lapis yang berakar jauh dalam sejarah kebijakan penguasa dan perilaku semua pemangku kepentingan di Ibu Kota dan sekitarnya.
Persoalan banjir dan kemacetan, yang semakin membawa penderitaan, merupakan akibat, bukanlah penyebab, causa prima. Penyebabnya, antara lain, bersifat struktural yang terletak pada kebijakan penguasa yang telah mengabaikan dan mengorbankan tata ruang dalam proses perizinan penuh kandungan kepentingan pragmatis. Tidak kalah seriusnya persoalan kultural yang terikat kuat pada perilaku yang tidak peduli terhadap lingkungan. Sampah masih tetap saja dibuang di sembarang tempat, yang boleh jadi merefleksikan kebiasaan dan budaya "membuang sampah" ketimbang "mengelola sampah".
Tentu saja penting mencari akar persoalan yang mengepung Jakarta, tetapi jauh lebih penting sebenarnya mengidentifikasi program nyata yang diperlukan untuk sebuah terobosan yang berbasis pada visi yang berjangkauan jauh ke depan. Semakin terdengar pertanyaan, apa dan bagaimana yang dilakukan para pemangku kepentingan, terutama pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi DKI, dalam upaya menjadikan Jakarta sebagai ibu kota yang aman dan nyaman secara sosial dan lingkungan. Lebih-lebih lagi persoalan banjir dan kemacetan bukanlah persoalan yang baru muncul dalam satu dua tahun terakhir, melainkan sudah bersifat kronis.
Semakin menjadi pertanyaan tentang nasib Jakarta pada tahun-tahun mendatang. Sangatlah ironis, sebagaimana sering diangkat, kemacetan dan banjir berada di depan mata para petinggi negara, para menteri, anggota parlemen, pebisnis, dan akademisi, tetapi mereka terkesan tidak tergerak melakukan tindakan terpadu untuk membebaskan Jakarta dari kepungan banjir dan kemacetan.
Timbul kekhawatiran, jangan-jangan sikap tidak peduli menguasai hati dan pikiran semua pemangku kepentingan di Ibu Kota. Semestinya setiap tantangan dapat menggerakkan tindakan untuk melakukan terobosan, tetapi selama bertahun-tahun hal itu tidak terlihat jelas dalam kasus Jakarta. Sekiranya tidak ada terobosan, bencana lebih serius akan mengancam Jakarta. Tentu saja terobosan tidak seperti membalikkan telapak tangan, tetapi bagaimanapun perlu langkah konkret sebagai isyarat awal bagi perbaikan untuk menjaga agar harapan tidak sirna.
Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000004605851
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Tidak ada komentar:
Posting Komentar