Surplus perdagangan pada Oktober-Desember 2013 membangun optimisme. Sebelumnya, Indonesia defisit perdagangan. Defisit tersebut memengaruhi transaksi berjalan sehingga menambah kerentanan Indonesia terhadap gejolak keuangan dunia. Salah satunya terlihat saat bank sentral Amerika Serikat mengurangi insentif moneter ke pasar uang dunia yang berdampak terhadap pelemahan nilai tukar mata uang negara-negara dengan defisit transaksi berjalan besar, antara lain Indonesia.
Surplus perdagangan, seperti diperlihatkan data Badan Pusat Statistik, dihasilkan melalui ekspor nonmigas. Meski demikian, kinerja perdagangan keseluruhan pada 2013 masih defisit lebih dari 4 miliar dollar AS.
Karena itu, optimisme yang terbangun tetap perlu disertai kewaspadaan karena gambaran ekspor keseluruhan belum terlalu menggembirakan. Ekspor hasil industri, misalnya selama Januari-Desember, turun 2,67 persen dibandingkan dengan periode sama tahun 2012.
Tidak berlebihan apabila Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta momentum surplus perdagangan dipertahankan. Terlebih jika dikaitkan dengan akan semakin berkurangnya fokus sejumlah menteri pada tugasnya karena aktivitas di dalam politik menjelang pemilu.
Dalam jangka menengah, kita dapat lebih optimistis bahwa neraca perdagangan akan terus membaik. Pulihnya ekonomi Amerika Serikat adalah peluang membaiknya perekonomian dunia. Hal ini berarti juga peluang meningkatnya ekspor Indonesia.
Selain itu, tekad pemerintah mendorong ekspor bahan tambang olahan dalam jangka menengah juga akan mengurangi dampak risiko gejolak harga komoditas primer. Nilai ekspor batubara dan minyak sawit mentah, misalnya, masih dapat ditingkatkan apabila diolah lebih lanjut di dalam negeri.
Pada sisi lain, perbaikan neraca perdagangan belum tecermin pada penguatan nilai tukar rupiah. Pasar tampak masih menunggu apakah surplus perdagangan akan berkelanjutan. Persoalannya bukan semata pada penguatan rupiah, melainkan nilai tukar harus berada dalam kendali pemerintah dengan suatu tujuan yang direncanakan. Kajian Harvard Kennedy School Indonesia Program, misalnya, mengonfirmasi bahwa nilai tukar rupiah yang terlalu kuat dibandingkan dengan mitra dagang utama, antara lain China, membuat produk Indonesia kehilangan daya saing.
Sejumlah langkah pemerintah melalui stimulus fiskal, antara lain perpajakan, dan langkah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan mulai memberikan hasil. Yang diperlukan konsistensi dan kesabaran melihat kebijakan tersebut berjalan dan memberikan dampak sebelum terburu-buru mengubah kebijakan yang boleh jadi dianggap tak populer.
Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000004584229
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Tidak ada komentar:
Posting Komentar