Pesawat dengan nomor penerbangan MH370 itu hilang dalam penerbangan dari Kuala Lumpur menuju Beijing, Sabtu (8/3) dini hari. Mengangkut 227 penumpang dan 12 awak, pesawat dijadwalkan tiba di Beijing pukul 06.30, tetapi baru sekitar satu jam terbang, pesawat hilang dan hingga Minggu sore kemarin belum ditemukan.
Kita bersimpati kepada keluarga penumpang pesawat yang berasal dari 13 negara ini, termasuk tujuh di antaranya berasal dari Indonesia. Kita berikan apresiasi pula kepada otoritas negara-negara yang segera turun tangan guna membantu pencarian pesawat ini. Kita berharap pesawat segera ditemukan dan ada kejelasan mengenai penumpang dan awak pesawat.
Memang setiap kali ada musibah penerbangan, segera muncul dorongan untuk menduga-duga mengenai penyebab terjadinya musibah, dalam hal ini menyangkut hilangnya pesawat milik Malaysia ini. Namun, pihak maskapai meminta siapa pun untuk tidak berspekulasi.
Memang, dengan melihat durasi penerbangan, sebagian memperkirakan, pesawat hilang di perairan Vietnam. Namun, apa persisnya yang jadi penyebab, pihak berwenang belum bisa memastikan.
Belajar dari musibah pesawat Air France dengan nomor penerbangan AF 447, diperlukan waktu dua tahun hingga kotak hitam yang memberi petunjuk ditemukan, dan ternyata sebagian dugaan awal meleset.
Selama ini orang memercayai bahwa setidaknya ada tiga faktor penyebab kecelakaan, yakni cuaca buruk, kerusakan pesawat, dan kesalahan manusia. Beberapa waktu terakhir, seiring dengan maraknya terorisme, hal terakhir ini juga lalu masuk di dalam faktor penyebab. Selain itu, sebagian pakar penerbangan juga menyebut adanya faktor manajemen.
Guna menjawab spekulasi inilah negara memiliki badan penyelidik, yang di Indonesia dikenal dengan nama Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
Menyimak jenis pesawatnya, Boeing 777 dikenal sebagai pesawat yang andal dan dewasa ini menjadi salah satu tulang punggung utama dalam industri penerbangan sipil dunia. Karena larisnya, pabrik pembuatnya telah memutakhirkan tipenya dari waktu ke waktu, dari 777-200 ke 777-300, bahkan yang tipe ER (Extended Range) seperti yang dibeli Garuda Indonesia. Boeing bahkan mempersiapkan generasi yang lebih modern lagi.
Namun, seiring dengan kemajuan teknologi penerbangan, kini juga berkembang faktor baru, seperti halnya terorisme. Mau tidak mau pengelola industri penerbangan harus semakin meningkatkan keamanan dan keselamatan, selain kenyamanan.
Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000005354619
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tidak ada komentar:
Posting Komentar