Cari Blog Ini

Bidvertiser

Selasa, 01 April 2014

TAJUK RENCANA: Ukraina, Permainan Belum Selesai (Kompas)

REFERENDUM di Crimea oleh etnis Rusia yang secara sepihak memisahkan diri dari Ukraina dan memilih bergabung dengan Rusia berbuntut panjang.
Krisis di Ukraina tidak berhenti sampai di sini. Rusia, yang mendukung referendum dan dengan senang hati menerima kembali Crimea, harus menghadapi realitas baru dalam pergaulan internasional meski sudah menyatakan tidak akan masuk ke wilayah Ukraina lain dan menarik pasukannya dari perbatasan antara Rusia dan Ukraina.

Negara-negara Uni Eropa dan Amerika Serikat menjatuhkan sanksi kepada Rusia. Bahkan, Majelis Umum PBB pun menyatakan, referendum yang dilakukan di Crimea itu tidak sah dan menolak aneksasi Rusia atas Crimea. Dalam pemungutan suara, pekan lalu, di Majelis Umum PBB, sebanyak 100 suara mendukung keputusan PBB, 11 menentang, dan 58 abstain.

Inilah harga yang harus dibayar—dalam bahasa Presiden AS Barack Obama—oleh Rusia karena dianggap melanggar hukum internasional. Memang, AS dan Eropa tidak "berani" melangkah lebih jauh untuk "menghukum" Rusia. Beberapa negara Eropa secara ekonomi bergantung kepada Rusia, juga dalam hal kebutuhan energi minyak dan gas. Karena itu, kita melihat tindakan negara-negara Eropa seperti setengah-setengah dalam menyikapi tindakan Rusia di Crimea.

Realitas di lapangan seperti itu yang barangkali membuat Rusia masih tetap berdiri tegak, pun dengan kepala tegak. Meski Washington menyatakan bahwa Moskwa harus diisolasi karena tindakannya di Crimea, kiranya amat sulit untuk benar-benar mengisolasi Rusia, terutama seperti di atas sudah disinggung, karena negara-negara Eropa masih membutuhkan Rusia.

Sebagai semacam "silih" atau imbangan, Eropa dan juga IMF akan segera menggelontorkan bantuan kepada Ukraina. Menurut berita yang beredar, IMF akan memberikan bantuan sekitar 18 miliar dollar AS selama dua tahun. Washington memberikan bantuan satu miliar dollar AS. Dan, apabila ditambah dari Eropa, bantuan yang akan mengalir ke Ukraina mencapai 27 miliar dollar AS.

Pemberian bantuan itu tentu sebagai wujud perhatian Barat terhadap Ukraina, sekaligus sebagai ungkapan sikap Barat bahwa mereka mendukung Ukraina. Bantuan keuangan memang sangat dibutuhkan oleh Ukraina agar segera bisa membangun perekonomiannya kembali dan bisa membangun demokrasi. Pemberian bantuan itu juga sebagai semacam "ikatan" agar Ukraina tidak jatuh ke Rusia, seperti yang diputuskan pemerintah terguling.

Yang perlu kita catat, dampak dari krisis Ukraina adalah lahirnya kembali hubungan yang tidak nyaman, entah berapa lama, antara Barat dan Rusia. Barangkali akan berlangsung selama Vladimir Putin berkuasa.

Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000005793244
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger