Cari Blog Ini

Bidvertiser

Rabu, 14 Mei 2014

RENUNGAN WAISAK: Kerukunan Dasar Keutuhan (Bhikkhu Jotidhammo Mahathera)

Kerukunan itu indah pada awalnya, indah pada pertengahannya, dan indah pula pada akhirnya.
Prinsip kerukunan mencakup tiga hal: sikap batin rukun, pencegahan konflik, dan persaudaraan. Awalnya berupa sikap batin rukun, pertengahannya berbentuk pencegahan konflik, dan akhirnya terjadilah persaudaraan atau keutuhan.

Sikap batin rukun adalah pengendalian nafsu-nafsu keinginan egois yang menimbulkan pertikaian ego seseorang atau sekelompok orang dengan kepentingan pihak lain sehingga menimbulkan konflik dan
ketegangan dalam masyarakat. Pencegahan konflik adalah
mencegah segala perilaku
yang bisa mengganggu keselarasan dan ketenangan masyarakat. Persaudaraan atau
keutuhan akan menjadikan keselarasan hidup masyarakat bersama.

Konflik sosial kemasyarakatan merupakan ancaman yang dapat menghancurkan berbagai pihak yang terlibat. Buddha mengatakan, banyak orang yang tidak tahu bahwa dalam pertengkaran mereka sebenarnya dapat saling binasa. Bagi yang menyadari kebenaran, mereka dengan segera akan mengakhiri pertengkaran.

Pengendalian egoisme
Perlu disadari, konflik bermuara dari tiga sebab utama, yaitu munculnya nafsu keta-
makan, kebencian, dan keakuan. Ketamakan akan menimbulkan perampasan hak milik orang lain sehingga menimbulkan konflik antara orang yang diuntungkan dan dirugikan.

Hasrat serakah akan menimbulkan kesengsaraan bagi orang lain dan di situlah benih konflik timbul, seperti halnya saat orang melakukan penipuan ataupun korupsi, tanpa menghiraukan terjadinya kesengsaraan hidup orang lain.

Selain ketamakan, penyebab konflik adalah kebencian. Ketidaksukaan mendalam di dalam pikiran kita akan menimbulkan nafsu keinginan egois untuk menyusahkan ataupun membinasakan orang yang tidak kita sukai.

Kebencian dapat disebabkan berbagai bentuk perbedaan atau pandangan yang tidak dapat diterima dengan lapang dada sehingga sangat berbahaya bagi kehidupan bersama. Konflik yang ditimbulkan dari kebencian dapat berlangsung lama karena masing-masing yang saling bertikai akan berusaha saling menghancurkan.

Dalam pesta demokrasi pemilu, ada yang terpilih dan ada yang tidak, ada yang memperoleh suara banyak dan ada yang sedikit. Potensi konflik akibat penolakan hasil pemilihan tersebut harus dicegah. Apabila terjadi berbagai keganjilan dalam proses pemilihan, hendaknya diselesaikan secara adil sesuai hukum yang berlaku.

Penyebab lain konflik adalah keakuan atau arogansi. Arogansi kekuasaan, kekayaan, dan kepandaian akan menimbulkan konflik karena nafsu kesewenang-wenangan yang ditimbulkan oleh arogansi akan menyusahkan orang lain. Salah satu bentuknya adalah sikap keras kepala bahkan anti toleransi.

Keras kepala karena kekuasaan, kekayaan, dan kepandaian selalu membuka munculnya pertikaian dengan orang lain. Kehidupan bersama dalam perbedaan atau kemajemukan agama dan budaya sulit terwujud di tengah sentimen keagamaan dan kebudayaan.

Pencegahan konflik
Oleh karena itu, sangat penting memiliki kesadaran akan potensi konflik karena kehidupan yang diwarnai konflik akan menimbulkan suasana hati yang selalu diliputi kecurigaan, ketidakpercayaan, ketakutan, kemarahan, dan berbagai bentuk pikiran negatif lainnya.

Suasana seperti itu membuat hidup kita terpecah belah dan saling terpisah dalam pertentangan. Padahal, kehidupan kita, baik dalam keluarga maupun bersama tetangga, bahkan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara perlu dibangun dalam kerukunan untuk menjaga keutuhan. Keutuhan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara menjadi sarana bagi tercapainya kehidupan sejahtera dan bahagia.

Buddha mengatakan, empat hal yang dapat menimbulkan suasana kerukunan hidup: berderma, berbicara santun, melakukan hal yang bermanfaat, dan tahu menempatkan diri. Berderma atau menolong orang yang memerlukan bantuan akan menimbulkan suasana persahabatan. Sebab, pada hakikatnya, saling menolong akan meringankan bahkan mengatasi kesusahan hidup.

Berbicara santun akan menyenangkan orang lain dan menimbulkan sikap saling menghormati. Penghargaan bagi setiap keberadaan manusia akan memanusiakan hidup setiap manusia. Dengan melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi orang lain, permusuhan akan
sirna. Yang ada hanya kemanfaatan dan kebaikan bersama.

Tahu menempatkan diri berarti menjaga diri agar tidak melakukan hal-hal yang buruk. Semua itu akan mendekatkan jarak sikap hati antarmanusia. Itulah hal-hal yang dapat menimbulkan persaudaraan antar-sesama manusia.

Keutuhan
Kepada siapa pun yang memperoleh kesuksesan, terutama dalam pemilu saat ini, Buddha mengingatkan, pelajarilah caracara untuk mendapatkan persatuan.

Marilah menciptakan hidup rukun dengan kepedulian, kerendahan hati, melakukan hal-hal yang bermanfaat, dan tahu menjaga diri dalam kebaikan, khususnya kepada mereka yang gagal, agar mereka tetap merasa berguna untuk membangun bangsa dan negara.

Kemajuan bangsa dan negara tentu melibatkan seluruh masyarakat Indonesia, tanpa kecuali.

Semoga kerukunan hidup masyarakat menjadi dasar bagi keutuhan bangsa dan negara demi menyongsong masa depan yang lebih baik dan lebih bahagia. Buddha mengatakan, berbahagialah mereka yang dapat hidup rukun, berbahagialah mereka yang dapat mempertahankan keutuhan.

Bhinneka Tunggal Ika, meskipun berbeda-beda pandangan, sesungguhnya kita memiliki kesamaan sikap, yaitu mempertahankan keutuhan bangsa dan negara Indonesia.

Selamat hari raya Trisuci Waisak 2558/2014 bagi seluruh umat Buddha Indonesia. Semoga berkah Waisak melimpah dalam kehidupan kita, hidup bahagia lahir dan batin.

Bhikkhu Jotidhammo MahatheraKetua Umum Sangha Theravada Indonesia

Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000006590358
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger