Cari Blog Ini

Bidvertiser

Rabu, 14 Mei 2014

TAJUK RENCANA: Akankah Rusia Tergoda Lagi (Kompas)

Dengan sengaja judul ulasan pendek ini bernada bertanya. Hal tersebut berangkat dari perkembangan terakhir di Ukraina bagian timur.
Menurut berita yang tersiar, juga diberitakan oleh harian ini kemarin, kaum separatis pendukung Rusia di dua wilayah Ukraina bagian timur—Donetsk dan Luhansk—hari Minggu lalu mengadakan referendum. Referendum yang oleh pemerintah Kiev dan juga Barat dinilai ilegal, dimaksudkan untuk menanyai rakyat apakah mereka memilih tetap bergabung dengan Kiev (Ukraina) atau membentuk pemerintahan sendiri atau bergabung dengan Rusia?

Sudah bisa diduga bahwa hasilnya—meskipun tidak bisa dikonfirmasi karena memang tidak ada pemantau pemilu diizinkan ada di sana—rakyat di dua wilayah itu memilih meninggalkan Kiev dan membentuk pemerintahan sendiri, bahkan ingin bergabung dengan Rusia. Hasil referendum yang tidak bisa dikonfirmasi itu memang meyakinkan, 96,2 persen penduduk Luhansk memilih membentuk pemerintahan sendiri dan sikap yang sama dinyatakan oleh 89,07 penduduk Donetsk. Bahkan, mereka juga menginginkan bergabung dengan Rusia.

Reaksi dari Kiev dan Barat sudah bisa diduga juga, yakni tak mengakui referendum dan hasilnya itu. Kiev tentu dengan tegas mengatakan bahwa kedua wilayah itu adalah bagian dari Ukraina, walaupun mayoritas dari 6,6 juta penduduknya adalah etnis Rusia. Yang menarik adalah reaksi Moskwa: menghormati hasil referendum itu.

Apakah arti pernyataan Moskwa itu? Bukankah sebelumnya Presiden Rusia Vladimir Putin meminta agar kedua wilayah itu mengurungkan niatnya untuk menggelar referendum? Tetapi, mengapa setelah referendum digelar Moskwa memberikan angin dengan menyatakan menghormati hasil referendum? Apakah itu bukan berarti bahwa Rusia mendukung tindakan dua wilayah itu untuk memisahkan diri dari Kiev (ibu kota Ukraina)?

Wajarlah pertanyaan seperti itu mengemuka saat ini. Kita semua masih ingat, setelah penduduk Crimea melakukan referendum pada bulan Maret lalu dan memilih memisahkan diri dari Kiev, Moskwa menyambuat baik dan bahkan menerima keinginan Crimea menjadi bagian dari Rusia dengan berbagai alasan dan pertimbangan.

Apakah kisah Crimea akan berulang? Bahwa Rusia sangat menginginkan kedua wilayah itu menjadi bagiannya tidak bisa ditutup-tutupi. Akan tetapi, sepertinya Rusia kini menginginkan kebijakannya "merangkul kembali wilayah-wilayah beretnis dan berbahasa Rusia" berhasil, tetapi tanpa harus mengeluarkan biaya, termasuk meningkatkan permusuhannya dengan Barat.

Karena itu, Moskwa akan lebih bersikap "pasif" menunggu inisiatif keputusan penduduk Donetsk dan Luhansk. "Bukan salah kami kalau mereka meninggalkan Kiev dan pergi ke Moskwa," begitu kira-kira sikap Rusia.

Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000006605979
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger