Cari Blog Ini

Bidvertiser

Rabu, 14 Mei 2014

TAJUK RENCANA: Simbolisasi Waisak 2014/2558 (Kompas)

Buddha menawarkan kedamaian. Dalam konteks pemilu presiden yang mengerucut pada Joko Widodo dan Prabowo Subianto, tawaran damai dan menentang kekerasan dapat momentum.
Ditempatkan dalam satu nampan, kedua sosok capres itu terlihat berseberangan. Masing-masing menawarkan simbol. Yang satu sosok kelemahlembutan, kesederhanaan, jauh dari simbol jawara. Yang lainnya sosok kegagahan, keunggulan, lekat dengan mental menang perang. Keduanya antitesis sosok presiden petahana. Yang satu simbol "mengembalikan kekuasaan sebagai milik rakyat". Yang lainnya simbol ketegasan, kecekatan, dan ambisi.

Dengan ajakan melakukan revolusi mental, Joko Widodo mengambil posisi tegas. Dia tidak menawarkan kekerasan otoritatif, tetapi kelembutan, kesadaran diri; perubahan mindset dan gaya hidup. Tidak sekali gebrak, tetapi butuh waktu dan perjuangan bersama, yang dengan sendirinya berdampak lebih luas dan berkesinambungan. Koalisi tidak berarti transaksi, tetapi kerja sama.

Simbol kelemahlembutan, kesederhanaan menjadi kontradiktif dengan dunia perang. Revolusi mental sebagai perubahan kultural menjadi ilusi yang dilecehkan. Politik sebagai perkara suci Aristotelian membenarkan pesan Hannah Arendt, dalam politik tak ada kejujuran, tetapi kebohongan.

Dengan simbol menantang dan menyindir, kurang lebihnya nafsu dua ayam jago siap berlaga, komplementer dengan simbol kegagahan, kegarangan, siap merebut kemenangan. Dalam praksis politik, memasuki medan perang, bukan revolusi mental yang dibutuhkan, melainkan kesiapan merebut kemenangan.

Kondisi ilustratif yang mungkin berlebihan itulah yang kita hadapi ketika umat Buddha di Indonesia merayakan Hari Waisak 2558, Kamis, 15 Mei besok. Mengaktualisasi perayaan keagamaan dengan ruh kedamaian dan nirkekerasan berseberangan dengan kondisi riil kita. Ada jurang lebar antara harapan dan realitas sehari-hari, apalagi ketika berurusan dengan menang atau kalah, hidup atau mati, sekarang atau kapan lagi.

Simbolisasi keagamaan dalam hal ini Buddha, rujukan kedamaian dan nirkekerasan, terdengar sayup-sayup. Sebab, cara kerja intrinsik pertempuran (baca: pilpres) adalah menabuh gendang bertalu-talu agar demi memenangi perang. Yang tersisa adalah harapan, jauhkan konsep dan tindakan menghalalkan kekerasan, apalagi menempatkan rakyat sebagai tumbal merebut kursi kekuasaan.

Jati diri agama tidak bisa memaksakan secara fisik, pun untuk simbol yang ditawarkan. Sifatnya mempersilakan, semacam ajakan revolusi mental yang diketukkan terus. Semangat itu yang ditawarkan Buddha Gautama (623-543 SM), yang semula bernama Siddharta setelah memperoleh penerangan sempurna tahun 588 SM bergelar Buddha Gautama. Aktualisasi simbol kelemahlembutan dan anti kekerasan takkan pernah surut. Selamat Hari Waisak 2014/2558 bagi yang merayakan!

Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000006604244
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger