Kesepakatan Geneva, bulan lalu, antara Ukraina, Rusia, AS, dan Uni Eropa—menciptakan proses de-eskalasi dan menghindari konfrontasi—boleh dikatakan mati sebelum tumbuh. Presiden Rusia Vladimir Putin terang-terangan menyatakan bahwa kesepakatan itu tidak dapat dilanjutkan setelah tentara Ukraina menyerang Slavyanks, Ukraina timur, dan Odessa, sebuah kota pelabuhan di Laut Hitam.
Akan tetapi, pertanyaannya adalah apakah Kiev bisa sepenuhnya disalahkan karena mengirimkan tentaranya ke Slavyanks dan Odessa untuk, menurut istilah mereka, "menumpas gerakan separatis?" Mereka, gerakan bersenjata di kedua tempat tersebut, menyebut dirinya "pro Rusia". Apakah Kiev harus diam saja dan membiarkan gerakan di wilayah yang mayoritas penduduknya etnis dan berbahasa Rusia itu melepaskan diri, padahal secara legal masih bagian Ukraina?
Satu hal yang perlu dilihat kembali adalah pengambilalihan Crimea oleh Rusia, Maret lalu, telah membangkitkan semangat wilayah-wilayah Ukraina bagian timur yang beretnis Rusia dan berbahasa Rusia untuk melepaskan diri dari Kiev, ibu kota Ukraina. Sulit bagi Kiev, juga Barat, untuk tidak menuding Kremlin sebagai kekuatan yang ada di balik gerakan separatis itu. Tentu Kremlin menolak mentah-mentah tudingan tersebut.
Akan tetapi, sulit pula bagi Rusia untuk membuang tudingan itu begitu saja. Sejarah menceritakan, Ukraina menjadi bagian Rusia selama berabad-abad, sampai akhirnya merdeka setelah Uni Soviet ambruk. Selama ini Ukraina juga merupakan mitra ekonomi Rusia. Karena itu, Rusia berkeinginan memasukkan Ukraina ke dalam Eurasian Union, semacam kerja sama ekonomi yang akan dibentuk pada Januari 2015 bersama Kazakhstan, Belarus, dan Armenia. Langkah itu perlu dilakukan supaya Ukraina tidak jatuh ke tangan Barat, masuk Uni Eropa.
Ukraina juga memainkan peran penting dalam perdagangan energi Rusia. Sebanyak 80 persen pengiriman gas dari Rusia ke pasar lewat Ukraina. Selain itu, Ukraina juga pasar utama gas Rusia. Yang lebih penting lagi Ukraina, secara militer, adalah negara penyangga Rusia dan menjadi pangkalan armada Laut Hitam Rusia.
Dari berbagai aspek itu jelas bahwa tidak mungkin mencari solusi atas Ukraina tanpa melibatkan Rusia. Segala embargo serta sikap tegas Barat dan AS tidak akan membuahkan hasil. Pertama, karena kepentingan-kepentingan Rusia di atas; kedua, Rusia ingin menunjukkan bahwa mereka negara besar, tidak takut menghadapi Uni Eropa dan AS. Karena itu, dialog dan dialog untuk membangun kepercayaan antarpihak menjadi syarat utama.
Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000006470221
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tidak ada komentar:
Posting Komentar