Bantahan itu disampailkan Menteri Imigrasi Australia Scott Morrison yang berkunjung ke Kolombo, Sri Lanka, Rabu (9/7). Ia menanggapi tuduhan NA Nilantha, salah seorang dari 41 pencari suaka Sri Lanka yang dipulangkan ke negara asalnya, bahwa petugas Bea dan Cukai Australia memperlakukan mereka tidak manusiawi.
"Mereka memaksa kami berlutut, menyeret kami, dan memegang leher kami," ujar Nilantha. Salah seorang pencari suaka lain mengatakan, "Kami tidak diperbolehkan berbicara satu sama lain." Ada banyak lagi keluhan yang dilontarkan pencari suaka. Berurusan dengan pencari suaka bukanlah hal mudah. Bagi negara yang menjadi tujuan antara saja, sudah merepotkan. Apalagi bagi negara yang menjadi tujuan akhir pencari suaka.
Pencari suaka itu mempertaruhkan segalanya, termasuk nyawa, untuk meninggalkan negara asalnya. Tentunya sangat sulit bagi pencari suaka menerima jika mereka dipulangkan kembali ke negara asalnya. Apalagi jika pemulangan kembali itu terjadi pada saat mereka telah sampai di negara yang menjadi tujuan akhir perjalanan mereka. Dalam situasi seperti itu, sangat sulit bagi kita untuk menilai siapa yang salah dan siapa yang benar. Persoalannya sangat kompleks karena itu tidak dapat dilihat secara hitam putih.
Dalam kaitan itulah, kita berharap, agar ketika berinteraksi dengan pencari suaka, dari negara mana pun mereka, Australia melakukannya dengan cara-cara yang sangat manusiawi sehingga tidak dengan mudah dapat dituduh melakukan tindakan yang tidak manusiawi.
Khusus mengenai pencari suaka asal Sri Lanka, persoalannya masih akan berlanjut. Ini mengingat selain 41 pencari suaka asal Sri Lanka yang dipulangkan melalui operasi rahasia dengan Sri Lanka, akhir pekan lalu, masih ada 153 pencari suaka asal Sri Lanka lain yang tertahan di Australia.
Australia adalah negara yang berdaulat. Itu sebabnya, Australia berhak menentukan permintaan suaka siapa yang akan diterima dan ditolak. Apalagi, juga tidak mudah menentukan apakah para pencari suaka itu benar-benar pencari suaka atau hanya imigran gelap. Pemerintah Sri Lanka menegaskan bahwa para pencari suaka itu dilatarbelakangi oleh alasan ekonomi. Namun, lembaga pejuang hak asasi manusia berdalih, pencari suaka itu ingin keluar dari Sri Lanka karena tidak ingin disiksa, diperkosa, atau tindak kekerasan lain yang dilakukan oleh militer.
Kita tidak ingin ikut dalam kerumitan yang dihadapi Pemerintah Australia. Namun, seperti telah disinggung di atas, kita berharap, Australia menangani para pencari suaka itu secara lebih manusiawi.
Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000007781912
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tidak ada komentar:
Posting Komentar