Cari Blog Ini

Bidvertiser

Jumat, 12 September 2014

Tajuk Rencana: Putusan AS atas NIIS (Kompas)

Genderang perang ditabuh semakin keras oleh Amerika Serikat terhadap kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah yang dinilai semakin berbahaya.
Dalam pidato yang ditunggu-tunggu, Presiden AS Barack Obama, hari Rabu lalu, secara tegas menyatakan akan mengejar militan Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS). AS akan meningkatkan dan memperluas serangan udara terhadap NIIS, yang dikategorikan sebagai teroris. Gaung pidato Obama membesar karena disampaikan persis sehari sebelum perayaan peringatan 13 tahun atas serangan teroris spektakuler tanggal 11 September 2001 di New York dan Washington.

Sorotan atas pidato Obama juga bertambah karena ia secara eksplisit memerintahkan serangan terhadap militan NIIS bukan hanya di wilayah Irak, melainkan juga di Suriah. Perintah serangan udara terhadap Suriah menjadi pergunjingan tersendiri karena Presiden Obama selama ini terkesan enggan melakukan intervensi militer terhadap negara Timur Tengah itu, yang selama tiga tahun terakhir terguncang oleh pergolakan politik.

Sangat berbeda dalam kasus Libya, reaksi pemerintahan Obama tampaknya tidak cepat terpancing melakukan intervensi terhadap perang saudara di Suriah, yang telah meminta korban lebih dari 200.000 orang dalam tiga tahun terakhir. Kesan AS menahan diri semakin kelihatan ketika tidak mengambil tindakan keras terhadap Pemerintah Presiden Suriah Bashar al-Assad yang menggunakan senjata kimia dalam menghadapi rakyatnya sendiri.

Segera terlihat begitu kontras sikap AS terhadap gerakan NIIS, yang ingin mendirikan negara teokratis di antara wilayah Irak dan Suriah. Gerakan militan NIIS benar-benar merepotkan Pemerintah Irak, yang sedang kesulitan dalam bidang sosial ekonomi dan terutama keamanan. Ambisi NIIS mendirikan negara teokratis sungguh menakutkan karena menggunakan kekerasan, teror, peledakan bom, dan pembunuhan. Ribuan orang tewas akibat keganasan kaum militan NIIS, sementara pasukan keamanan pemerintah kurang berdaya.

Gerakan NIIS, yang menciptakan tragedi kemanusiaan dan kekacauan politik, tidak hanya mengancam eksistensi negara-bangsa Irak dan Suriah, tetapi juga menciptakan kecemasan meluas di kawasan Timur Tengah ataupun di berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia. Pemerintah dan sejumlah organisasi kemasyarakatan besar Indonesia telah melarang NIIS.

AS dan sejumlah negara Timur Tengah sedang menggalang kerja sama untuk mematahkan NIIS. Tantangannya sangatlah rumit. Dunia, misalnya, sudah belasan tahun berjuang melawan Al Qaeda, tetapi belum juga tuntas. Sementara beberapa negara Afrika, seperti Nigeria dan Somalia, terus diguncang gerakan militan yang terkait jaringan Al Qaeda. Ancaman NIIS tak kalah menakutkan.

Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000008831171
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger