Seorang pemuda yang tak peduli dengan kemewahan serba fantastis dalam pernikahannya layaknya seorang "pangeran" negeri ini. Seandainya dia seorang pemuda yang suka hal-hal glamor dan pamor, mungkin dia akan mencari gedung prestisius sebagai tempat pernikahannya. Namun, dia sangat berbeda dengan kebanyakan anak pejabat yang memanfaatkan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi atau anak artis yang memanfaatkan siaran ulang TV yang bisa berlangsung berbulan-bulan dan membuat masyarakat jenuh hingga muak.
Kemandirian tampak ketika dia berusaha mempersiapkan sendiri segala sesuatunya untuk pernikahannya dari perencanaan dan pelaksanaan, seperti undangan, katering, video, hingga busananya (Kompas, 10/6). Kesederhanaannya juga sangat terlihat jelas ketika dia mempersunting sang istri yang berasal dari keluarga sederhana nan bersahaja.
Gibran adalah lulusan dari Singapura dan Australia. Itulah cinta sejati yang tak mengenal status dan bungkus. Sangat lain dengan pemuda yang, jika statusnya "darah ningrat", akan mencari pasangan dari "keluarga darah biru".
Sifat yang sungguh patut ditiru oleh para pemuda: kesederhanaan dan kemandirian. Sebagai seorang pemuda yang usianya persis sebaya dengan Gibran, saya terdorong meniru kedua karakteristik Gibran ini.
Semoga para pemuda lainnya juga dapat memetik hal-hal positif yang ada dalam diri sahabat kita ini.
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 15 Juni 2015, di halaman 7 dengan judul "Surat kepada Redaksi".

Tidak ada komentar:
Posting Komentar