Cari Blog Ini

Bidvertiser

Jumat, 05 Juni 2015

Kehidupan Terpencil di Ende (surat pembaca)

Pada April 2015 saya berada di sebuah desa terpencil di Flores, tepatnya di Kampung Kekai'i, Desa Rhandotonda, Nuabosi, Ende. Sebulan penuh saya hidup bersama warga di sana. Banyak pemandangan yang membuat saya prihatin.

Salah satunya adalah permukiman delapan keluarga di lokasi yang sangat berat untuk keleluasaan dan mobilitas mereka. Cuma berjalan 1-12 meter di halaman mereka, kita langsung bertemu dengan jurang. Yang memiliki jamban hanya dua keluarga.

Jurang dan tebing mengitari mereka. Seorang yang berusia 80-an tahun terjatuh, pinggang dan tangannya patah. Kini ia cacat dan sulit berjalan. Ya, mereka tak bisa menjangkau pelayanan kesehatan dari pemerintah. Pemerintah pun tak mau tahu kondisi masyarakat terpencil.

Anak-anak tidak bisa bermain bebas. Ibu hamil dengan susah payah melewati lintasan yang sempit, apalagi sambil menjunjung kayu bakar, makanan dari kebun, atau air dari pancuran. Sedikit saja mereka keliru atau lalai, pasti jatuh ke jurang. Bersama permukiman lain di kawasan tersebut yang terlihat mulai padat, Kampung Kekai'i tampaknya menjadi sasaran warga untuk bermukim di sana pada masa depan.

Akhir Juni hingga Juli 2015 ini saya akan ke sana lagi dengan salah satu misi menata lingkungan itu agar lebih ramah pada ibu hamil, balita, dan manula. Hingga kini saya belum memiliki dana membiayai misi itu.

ANTONIUS TONGGO, GRIYA TAMAN SARI II BLOK M/4, SRIMARTANI, PIYUNGAN, KABUPATEN BANTUL, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 5 Juni 2015, di halaman 7 dengan judul "Surat kepada Redaksi ".


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger