Hasil kajian Bank Indonesia memperlihatkan, perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional disebabkan faktor eksternal. Jatuhnya harga komoditas di pasar global menyebabkan perekonomian di daerah penghasil komoditas, seperti Sumatera dan Kalimantan, ikut melambat.
Efek ikutannya adalah turunnya permintaan produk manufaktur yang kebanyakan berada di Jawa. Hal ini terpantau Bank Indonesia melalui, antara lain, penyaluran kredit yang melambat pada April 2015 dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya. Sejak Januari hingga Mei 2015 sudah 40.000 karyawan industri sepatu dan alas kaki serta industri tekstil dan produk tekstil melakukan pemutusan hubungan kerja. Seperti disebutkan Menteri Perindustrian, perlambatan pertumbuhan terutama pada industri berorientasi pasar dalam negeri.
Pasar internasional bagi komoditas belum menunjukkan tanda perbaikan. Pada saat bersamaan tanda-tanda perbaikan ekonomi dalam negeri Amerika Serikat memperbesar kemungkinan segera normalnya kebijakan moneter bank sentral negara itu. Hal tersebut memperbesar kemungkinan keluarnya dana asing dan semakin memperlemah nilai tukar rupiah.
Konsekuensi dari situasi tersebut adalah mendorong konsumsi domestik sebagai penyumbang lebih separuh produk domestik bruto nasional. Karena itu, segala hal yang dapat memperkuat konsumsi dalam negeri harus menjadi perhatian. Pertama-tama secepatnya merealisasikan belanja pemerintah sebagai insentif fiskal. Perlu upaya khusus dan segera membantu pemerintah daerah hingga desa membuat rencana kerja. Hal lebih mendesak adalah sinkronisasi peraturan pemerintah dan menteri-menteri agar kebijakan dapat dilaksanakan.
Salah satu hambatan dalam proyek infrastruktur dan perumahan rakyat adalah ketersediaan lahan. Walaupun didukung undang-undang, pembebasan lahan tetap harus berhati-hati, jangan sampai menimbulkan kegaduhan tidak perlu di masyarakat.
Kedua, pemerintah harus memiliki peta daerah dan besar produksi pangan yang akurat agar distribusi berjalan lancar menjelang bulan puasa dan Lebaran. Dalam jangka menengah, mewaspadai kemungkinan terjadinya musim kemarau lebih kering karena fenomena iklim El Nino.
Pelemahan nilai tukar akan sangat membantu eksportir, tetapi pada saat sama meningkatkan harga produk industri berbahan baku impor dan memperlemah daya beli masyarakat. Yang terpenting, jangan ada kesan pemerintah panik. Keputusan tergesa-gesa tanpa mempelajari akar persoalan akan memperburuk situasi. Saat ini dunia usaha memerlukan insentif, seperti tarif listrik yang lebih ekonomis dan sistem perpajakan yang tidak menimbulkan kesan memburu mereka yang sudah taat bayar pajak.
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 8 Juni 2015, di halaman 6 dengan judul "Bekerja Gegas dan Terukur".

Tidak ada komentar:
Posting Komentar