Cari Blog Ini

Bidvertiser

Selasa, 09 Juni 2015

TAJUK RENCANA: G-7, Ukraina, dan Pemanasan Global (Kompas)

Kanselir Jerman Angela Merkel mengangkat isu pemanasan global dalam Konferensi Tingkat Tinggi G-7 di Jerman yang dimulai Senin (8/6).

Isu pemanasan global itu diangkat di tengah-tengah bumi makin panas, dengan suhu di Arab Saudi diperkirakan mencapai 60 derajat celsius saat Ramadhan.

Kelompok G-7 merupakan kumpulan tujuh negara industri maju yang terdiri dari Amerika Serikat, Inggris, Italia, Jepang, Jerman, Kanada, dan Perancis. Sebelum ini juga dikenal kelompok G-8 yang menyertakan Rusia selain ketujuh negara di atas. Namun, sejak Rusia menganeksasi Crimea tahun lalu, tak ada lagi gaung G-8.

Tentang pemanasan global, Kanselir Jerman telah berhasil mengajak mantan Presiden AS George W Bush untuk ikut memerangi pemanasan global dalam KTT G-8 di Pantai Baltik tahun 2007. Kali ini, seperti dikabarkan Reuters, perlawanan terhadap upaya itu diperkirakan akan muncul dari Jepang dan Kanada dalam Konferensi Paris yang akan digelar akhir tahun ini.

Menurut Merkel, jika kesepakatan untuk membatasi kenaikan suhu rata-rata global 2 derajat dari suhu era pra-industri tidak bisa dicapai, Konferensi Paris bisa dikatakan tidak sukses.

Kita sendiri di Indonesia merasakan bahwa suhu udara rata-rata sekarang ini makin panas, dan hal ini juga dialami oleh banyak negara lain. Di India, bulan lalu gelombang panas dikabarkan menewaskan lebih dari 1.500 orang.

Topik lain yang jadi pembahasan hangat di KTT kali ini adalah seruan untuk mempertahankan sanksi terhadap Rusia, kecuali kalau Presiden Vladimir Putin bersedia mematuhi kesepakatan yang dicapai di ibu kota Belarus, Minsk, 12 Februari lalu, guna menghentikan pertempuran antara pasukan Pemerintah Ukraina dan separatis pro-Moskwa di Ukraina timur.

Kanselir Merkel menegaskan, pelonggaran sanksi terhadap Rusia—yang dampaknya juga dirasakan negara-negara Uni Eropa—bergantung pada Rusia dan tingkah lakunya di Ukraina. Presiden AS Barack Obama menegaskan, G-7 harus tegak melawan agresi Rusia.

Selain Ukraina dan pemanasan global, para pemimpin negara G-7 juga membahas masalah yang dihadapi Yunani. Yang cukup menarik, di hari kedua KTT, pemimpin G-7 juga akan mengajak pemimpin Nigeria, Tunisia, dan Irak untuk membahas ancaman kelompok militan. Hal ini dimaksudkan untuk mengembangkan pemahaman G-7 terhadap negara-negara lain di luar kelompok ini.

Yang juga tidak kalah menarik adalah adanya minat di antara pemimpin G-7 untuk mengangkat masalah Laut Tiongkok Selatan. Diharapkan dari KTT yang berlangsung di Kota Kruen, dekat perbatasan Jerman dengan Austria, ini bisa menghasilkan komitmen yang nyata bagi permasalahan yang dihadapi dunia.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 9 Juni 2015, di halaman 6 dengan judul "G-7, Ukraina, dan Pemanasan Global".


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger