Cari Blog Ini

Bidvertiser

Selasa, 16 Juni 2015

TAJUK RENCANA: MERS dan Dampak Politiknya (Kompas)

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) meminta Pemerintah Korea Selatan mengambil langkah lebih tegas untuk mengendalikan virus MERS.

Peringatan WHO di atas menggarisbawahi seriusnya masalah. Tim ahli WHO sebelumnya melakukan penyelidikan bersama pejabat Korsel selama empat hari dan menyimpulkan bahwa merebaknya Sindrom Pernapasan Timur Tengah (MERS) lebih luas dan lebih kompleks dibandingkan dengan kejadian serupa di bagian lain dunia. Sebagaimana dilaporkan The Wall Street Journal (15/6), Korsel harus bersiaga menghadapi lebih banyak kasus MERS dalam pekan-pekan mendatang.

Namun, tim WHO menyatakan, kemungkinan meluasnya penyakit ini ke komunitas lebih luas dan menjadi epidemi kecil. Pemantauan berkelanjutan merupakan hal kritikal mengingat luas dan kompleksnya masalah.

Minggu (14/6), otoritas kesehatan Korea mengumumkan kematian ke-15 orang dengan MERS, pria berusia 61 tahun, dan 7 orang yang terkena infeksi virus ini. Dengan itu, kasus MERS yang dikonfirmasi naik menjadi 145, terbesar di luar Arab Saudi, tempat virus ini ditemukan tahun 2012.

Di luar itu, merebaknya MERS di Korsel menimbulkan dampak politik, ditandai dengan merosotnya popularitas Presiden Park Geun-hye. Pemimpin yang diperkirakan akan menjadi sosok tangguh ternyata kurang beruntung. MERS muncul sekitar setahun setelah tenggelamnya feri yang menewaskan 340 orang, sebagian besar remaja.

Di saat popularitasnya merosot, pengamat politik mempertanyakan kepemimpinannya, di saat negara dikepung berbagai persoalan, ekonomi yang lesu, sistem pensiun nasional yang perlu dirombak, serta ancaman nuklir dan rudal dari Korea Utara.

Menurut Direktur Institut Kepemimpinan Kepresidenan Choi Jin, seperti dikutip International New York Times, Senin (15/6), Presiden dinilai terlalu lamban, terlalu tertutup, untuk menyampaikan pesan kepada rakyatnya.

Kita sepandangan bahwa ujian kepemimpinan adalah bagaimana memutuskan dan bertindak di saat krisis. Untuk MERS, Presiden Park ditunggu kepemimpinannya.

Namun, di sisi lain, alangkah cepat dan banyaknya ujian tersebut dan waktu tak bisa ditawar. Ketika lebih dari 4.800 warga Korsel diobservasi untuk gejala MERS, dan lebih dari 2.900 sekolah ditutup, keadaan memang membutuhkan kepemimpinan yang cepat tanggap.

Sejauh ini, kita mengagumi Korsel karena prestasi yang diraihnya di bidang industri yang didukung sains dan teknologi. Industri otomotifnya maju pesat. Korsel juga memesona dunia dengan pelbagai industri kreatifnya.

Dalam konteks MERS, semua kecanggihan Korsel diuji, apakah ia juga mumpuni menanggulanginya. Kita berharap, otoritas kesehatan Korsel bisa melakukan langkah terbaik, di bawah kepemimpinan Park Geun-hye.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 16 Juni 2015, di halaman 6 dengan judul "MERS dan Dampak Politiknya".


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger