Bukan itu saja, jumlah yang meninggal akibat penyakit itu pun bertambah menjadi 10 orang. Warga Korsel pun mengecam pemerintah karena lalai dalam menangani penyebaran MERS. Menanggapi kecaman itu, Presiden Park Geun-hye segera menggelar rapat darurat dengan para pejabat Kementerian Kesehatan dan pakar kesehatan guna merencanakan strategi karantina. Untuk menunjukkan keseriusan pemerintah, Park Geun-hye menunda keberangkatannya ke Amerika Serikat untuk bertemu Presiden Barack Obama.
Virus MERS di Korsel ditularkan pertama kali oleh seorang laki-laki berusia 68 tahun yang baru pulang dari Timur Tengah, 20 Mei lalu. Virus itu kemudian tersebar melalui empat fasilitas medis yang dikunjunginya. Petugas medis dan pasien lain tertular. Hampir 3.500 orang yang bersinggungan dengan penderita MERS telah dikarantina di bawah pengawasan khusus.
Mobilitas manusia yang tinggi dan mendunia membuat penyebaran penyakit menular dari satu wilayah ke wilayah yang lain, dari satu negara ke negara yang lain, sulit untuk dihindari. Jika situasinya sudah sampai mengancam keamanan dan keselamatan warga yang berkunjung ke wilayah atau negara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) akan mengeluarkan peringatan perjalanan (travel warning).
MERS merebak di Arab Saudi tahun lalu. Namun, karena Pemerintah Arab Saudi dianggap dapat menangani dan melokalisasi penyakit itu, WHO tidak mengeluarkan peringatan perjalanan.
Dalam keadaan seorang warga negara lain tertular dan membawa penyakit itu kembali ke negara asalnya, apa yang dilakukan Korsel sudah tepat. Orang-orang yang sudah tertular MERS dirawat dan diupayakan untuk disembuhkan di fasilitas medis khusus. Adapun orang-orang yang bersinggungan dengan penderita MERS dikarantina hingga dinyatakan bersih.
Sebagai negara yang banyak penduduknya berkunjung ke Arab Saudi, baik untuk menjalani ibadah haji, umrah, maupun sebagai tenaga kerja, kesiapsiagaan Indonesia terhadap MERS tidak pernah kendur.
Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan M Subuh mengatakan, pihaknya telah meminta langkah kewaspadaan kantor kesehatan untuk mencegah MERS di 13 pintu masuk internasional, terutama bagi penumpang yang datang dari Arab Saudi dan Korsel. Selain itu, 100 rumah sakit rujukan di seluruh Indonesia, serta dua laboratorium penelitian di Jakarta dan Surabaya, juga disiagakan. Itu sebabnya, masyarakat tidak perlu merasa resah, apalagi panik.
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 13 Juni 2015, di halaman 6 dengan judul "Penderita MERS Terus Bertambah".

Tidak ada komentar:
Posting Komentar