Cari Blog Ini

Bidvertiser

Rabu, 10 Juni 2015

TAJUK RENCANA: Tekanan terhadap Saham dan Rupiah (Kompas)

Indeks saham dan nilai tukar kembali di zona merah, dengan tergelincirnya IHSG di bawah 5.000 dan rupiah mendekati Rp 13.400 per dollar AS pekan ini.

Argumen bahwa pelemahan lebih diakibatkan oleh dampak eksternal sementara fundamen ekonomi dalam negeri tetap solid, semakin kehilangan pijakannya, khususnya dengan mulai tergelincirnya sejumlah indikator makroekonomi, perbankan dan sektor riil. Baru tiga pekan lalu, Standard & Poor's menaikkan peringkat utang RI menjadi layak investasi, menjadikan tiga lembaga pemeringkat terkemuka dunia seluruhnya menempatkan surat utang RI dalam peringkat layak investasi. Peringkat yang menunjukkan RI tujuan investasi sangat direkomendasikan.

Namun, apa yang terjadi? Beberapa hari terakhir, aksi jual asing terus melanda pasar modal dan pasar uang, membuat IHSG yang sempat mencapai level tertinggi pada pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla kembali terpuruk hingga 4.800, terpangkas sekitar 5 persen hanya dalam sehari dan 10 persen sejak awal 2015. Arus modal keluar sejak awal Maret sekitar Rp 20 triliun, jauh melampaui arus modal masuk.

Rupiah juga terus mencatat level terendah baru sejak krisis finansial tahun 1998 menjadi salah satu mata uang berkinerja terburuk di Asia. Year to date, rupiah sudah melemah 6,71 persen. Imbal hasil surat utang negara pun meningkat.

Perkembangan dramatis di pasar finansial beberapa hari terakhir ini menjadi lonceng bahaya bagi kita. Mengapa berbagai langkah yang diupayakan tak mampu membendung pelemahan ini? Faktor eksternal memang masih memainkan peran terbesar pelemahan. Penguatan dollar AS dan rencana kenaikan suku bunga AS membuat dana global kembali bergerak ke AS, membuat pasar saham dan nilai tukar negara berkembang tertekan. Namun, faktor di dalam negeri juga berperan. Termasuk pelambatan pertumbuhan ekonomi domestik. Di luar itu, ada peningkatan kebutuhan dollar untuk bayar utang luar negeri, dividen dan repatriasi aset, serta naiknya kebutuhan impor menjelang Ramadhan, termasuk minyak untuk perkuat stok BBM. Tekanan inflasi juga meningkat, khususnya pangan, menjelang puasa.

Ada kesan otoritas semakin kehilangan momentum mengendalikan pergerakan rupiah saat ini. Otoritas dianggap lambat mengantisipasi, sementara berbagai insentif kebijakan untuk yang diambil belum berdampak di lapangan.

Situasi turbulensi di pasar dan reaksi berbagai pengamat saat ini menunjukkan ada perbedaan persepsi dalam membaca situasi yang ada. Gejolak, jika tak diantisipasi, bisa meluncur ke krisis, tetapi otoritas sejauh ini melihat situasi masih terkendali dan belum perlu langkah seperti relaksasi fiskal dan moneter untuk melonggarkan tekanan yang ada.

Kita berharap perkembangan global segera membaik dan di dalam negeri ada langkah lebih tegas dan sigap untuk menenangkan pasar, membalikkan sentimen negatif yang ada, mengembalikan stabilitas ekonomi secara keseluruhan dan mencegah meluasnya ketidakpercayaan.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 10 Juni 2015, di halaman 6 dengan judul "Tekanan terhadap Saham dan Rupiah".


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger