Cari Blog Ini

Bidvertiser

Jumat, 07 Agustus 2015

TAJUK RENCANA: ASEAN dan Rivalitas di Asia Timur (Kompas)

Asia, terutama kawasan Asia Timur—dalam hal ini termasuk juga Asia Tenggara—makin menjadi mandala pertarungan dua kekuatan besar dunia.

Perkembangan geostrategis dan geoekonomis telah menjadikan kawasan Asia Timur mengalami perubahan- perubahan penting. Itu antara lain karena kawasan tersebut merupakan kawasan yang sekarang ini paling stabil dan menjanjikan dibandingkan dengan kawasan lain di dunia.

Bisa kita bandingkan dengan kawasan Timur Tengah, yang tidak habis dirundung malang karena persaingan dan konflik antarnegara, dan persaingan negara besar, serta belakangan munculnya kelompok bersenjata yang menyebut dirinya Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS). Kawasan Afrika pun, meski sering disebut sebagai kawasan yang menjanjikan di masa depan, belum selesai dengan urusannya sendiri: ada konflik etnis, agama, dan juga penyakit.

Kondisi di kawasan Asia Timur, khususnya Asia Tenggara, oleh Kishore Mahbubani, disebut sebagai kawasan yang mengalami mukjizat. Kawasan yang pernah mengalami perang—Perang Indochina dan Kamboja dengan korban yang demikian banyak—mampu menjelma menjadi kawasan yang sangat dinamis dan tumbuh. Itu antara lain, bahkan terutama, terjadi setelah kelahiran ASEAN. Negara- negara ASEAN mampu menjaga kawasan yang bebas dari perang, menyelesaikan setiap persoalan secara damai, dan membangun kerja sama yang memungkinkan terjadinya pertumbuhan ekonomi.

Fakta di lapangan seperti itulah yang telah menjadikan kawasan Asia Timur—Asia Tenggara—sebagai mandala interaksi kepentingan negara-negara luar kawasan dan negara-negara kawasan. Tidak aneh karenanya kalau terjadi persaingan atau kompetisi pengaruh dari negara-negara besar di kawasan. Sebut saja persaingan pengaruh antara Tiongkok dan Amerika Serikat, yang kian hari kian terasa. Juga perlu disebut rivalitas antara Tiongkok dan Jepang, yang tidak bisa ditutupi lagi.

Salah satu hal yang bisa menjadi sumber rivalitas adalah penguasaan akses dan supremasi maritim di dua kawasan laut strategis, yakni Samudra Hindia dan Laut Tiongkok Selatan. Kedua laut tersebut memiliki kekayaan sumber daya alam yang sangat besar. Selain itu, menjadi jalur laut penting. Kedua hal tersebut menjadikan kedua laut itu memiliki nilai strategis penting.

Munculnya sengketa di Laut Tiongkok Selatan, di antara negara-negara di kawasan pun, tidak terlepas dari nilai strategis laut tersebut. Pada titik ini, tentu peran ASEAN, kebersatuan ASEAN, kesolidan ASEAN, dan makin dewasanya ASEAN menjadi sangat penting. Hal itu untuk mencegah, atau paling tidak mengurangi, potensi terjadinya persaingan tidak sehat di antara kekuatan besar yang pada gilirannya justru akan merugikan ASEAN.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 7 Agustus 2015, di halaman 6 dengan judul "ASEAN dan Rivalitas di Asia Timur".


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger