Cari Blog Ini

Bidvertiser

Selasa, 11 Agustus 2015

TAJUK RENCANA: Teknologi dan Perekonomian Kita (Kompas)

Penerbangan perdana pesawat N-250 tanggal 10 Agustus 1995 menjelang perayaan Tahun Emas RI menandai kemajuan Indonesia di bidang teknologi.

Tahun ini, kita memperingati peristiwa itu—yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Teknologi Nasional—juga menjelang kita memperingati 70 tahun kemerdekaan RI. Apakah yang dapat kita refleksikan dari Hakteknas tahun ini? Ada banyak jika kita memang bangsa pembelajar.

Pencapaian kemampuan di bidang teknologi patut membuat kita sebagai negara berkembang bangga, yang antara lain diwujudkan dalam pemasangan kontrol fly-by-wire di pesawat N-250. Sempat ditanyakan, benarkah putra-putri bangsa sanggup merancang pesawat? Semua terjawab dengan penerbangan pesawat berjuluk Gatotkaca ini.

Tokoh di balik kesuksesan Gatotkaca, saat itu Menristek BJ Habibie yang juga pemimpin IPTN, menegaskan, jika diberi kesempatan, bangsa Indonesia bisa mencapai prestasi tinggi, termasuk di bidang aeronautika.

Sayang, Gatotkaca tak bisa melaju. Hantaman krisis ekonomi tahun 1997-1998 ikut membuyarkan impian dirgantara Indonesia. Bukan saja Gatotkaca dan IPTN yang lalu meredup, melainkan juga industri strategis lain, dan lebih dalam komitmen kita terhadap sains dan teknologi.

Kini, di bidang dirgantara, kita masih melihat upaya kebangkitan, seperti diperlihatkan oleh program N-219 dan R-80 yang divisikan sebagai versi mutakhir N-250.

Kita sedih, impian besar tersebut, yang bahkan sudah menjadi visi Presiden Soekarno beberapa tahun setelah Indonesia merdeka, tak melaju seperti kita cita-citakan. Kita prihatin, kita masih belum memberi perhatian cukup besar pada riset, pada sains dan teknologi. Anggaran riset yang hanya 0,08 persen dari PDB memperlihatkan rendahnya prioritas iptek dalam pembangunan nasional.

Hal itu kita beri perhatian karena sudah jelas buktinya, dalam perjalanan bangsa-bangsa di dunia, bangsa yang maju adalah yang unggul ipteknya. Sebaliknya, bangsa yang meremehkkan iptek dan terus asyik membangun dengan mengandalkan sumber daya alam tak hanya terus tertinggal, tetapi juga akan dikutuk oleh lingkungan yang rusak.

Sejauh ini, ekonomi Indonesia—yang sudah dicanangkan untuk berkarakterknowledge-based atau berbasis pada pengetahuan—masih belum beranjak dari ekonomi konsumsi. Tak ada inovasi ristek yang secara berarti membantu ekonomi nasional, khususnya di bidang pangan dan energi. Sebagian besar kebutuhan domestik masih diimpor meski sejak era pemerintahan Presiden Joko Widodo dimulai sembilan bulan silam, didengungkan Trisakti, yang salah satunya menyerukan kemandirian ekonomi.

Iptek, seperti dipraktikkan bangsa Amerika, Eropa, Jepang, dan terakhir Korea, telah memberikan kemakmuran dan kejayaan pada perekonomian mereka. Akankah kita masih mau hidup terseok-seok, khususnya di bidang perekonomian, karena mengabaikan iptek?

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 11 Agustus 2015, di halaman 6 dengan judul "Teknologi dan Perekonomian Kita".


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger