Cari Blog Ini

Bidvertiser

Jumat, 07 Agustus 2015

Waspadai Yayasan Penyalur Asisten//Urat Malu Sudah Putus//Adu Domba (Surat Pembaca Kompas)

Waspadai Yayasan Penyalur Asisten

Saya menulis ini agar keluarga-keluarga lain berhati-hati, tidak mengambil penjaga bayi (babysitter) ataupun asisten rumah tangga di Yayasan Nanda Agency di Jalan Pengantin Ali Nomor 71, Ciracas, dengan kontak Pak Hany Sasongko.

Sebelum Lebaran, kami mengambil asisten rumah tangga untuk menjaga anak. Kebohongan berlangsung sejak awal. Namanya Anita, dikatakan umur 18 tahun. Ketika ditanya langsung, belum 18 tahun. Katanya sudah pengalaman kerja dua tahun, ternyata belum.

Janjinya juga tidak pulang selama Lebaran. Meski kami berencana memberi izin pulang H+/-5, dia sudah berencana pulang H+/-8. Setelah ditegur, ia menyanggupi pulang sesuai izin kami.

Menjelang Lebaran, dia pulang ke yayasan dengan dijemput kurir yayasan. Katanya akan pulang bersama-sama menggunakan travel langganan yayasan.

Waktu pulang, dia tidak muncul lagi dan tidak bisa dihubungi. Berikutnya kami mendapat kabar bahwa selama Lebaran ia ternyata tak pulang.

Kami mencoba menghubungi Pak Hany. Ia menjawab tidak tahu. Sejak itu, ponselnya dimatikan. Kami tidak pernah mendapat pengganti meski ada garansi empat bulan tiga kali ganti dan tidak ada pengembalian uang administrasi 30-50 persen sesuai perjanjian. Kami benar-benar merasa tertipu yayasan ini.

TRI HARTATI

Cakung, Jakarta Timur


Urat Malu Sudah Putus

Apa yang dipertontonkan elite politik sungguh memprihatinkan. Semua kritik, keluhan masyarakat, dan fakta tidak dipedulikan, ibarat pepatah anjing menggonggong kafilah terus berlalu. Terlebih menjelang pilkada serentak.

Nafsu keserakahan mengejar kekuasaan dipertontonkan kepada masyarakat dengan tampilnya sejumlah narapidana korupsi sebagai calon kepala daerah. Walaupun UU memberi peluang, dari sudut etika sungguh menyesakkan dada.

Beberapa pakar mengatakan, nilai-nilai keutamaan hidup, seperti kontrol diri, kejujuran, budaya malu, dan kesederhanaan, kini sulit lahir dari partai dan kader-kadernya. Mereka hanya mengejar kekuasaan dengan mengarahkan segala pencitraan. Ujung-ujungnya tentu saja uang.

Begitu mudahnya parpol mendukung calon yang terkait korupsi. Begitulah kalau asas kepatutan dan etika diabaikan. Rusaklah bangsa ini yang sudah susah payah dibangun para pahlawan.

SUSANTO JOSEPH

Penduduk Sah Tangerang Selatan, Cipayung, Ciputat


Adu Domba

Saya tertarik membaca artikel opini "Penetapan Panglima TNI" oleh Sayidiman Suryohadiprojo (Kompas, 17/6).

Di situ diuraikan bagaimana pergantian panglima-panglima TNI di era Soekarno, Soeharto dan Susilo Bambang Yudhoyono. Termasuk perubahan struktur/organisasi di kalangan ABRI—TNI/AD, TNI/AL, dan TNI AU, serta Kepolisian masa lalu.

Pada alinea kelima ditulis "penyusunan menimbulkan dampak politik yang kurang menguntungkan karena digunakan untuk mengadu domba angkatan satu dengan yang lain, yang rupanya secara sadar atau tidak juga persiapan bagi terjadinya G30S pada 30 September 1965".

Menjadi pertanyaan, siapakah orang yang secara sadar atau tidak mempersiapkan G30S?

Buat saya, G30S adalah peristiwa besar yang mengubah sejarah perjalanan bangsa. Oleh karena itu, meluruskan sejarah terjadinya G30S mutlak perlu.

Mudah-mudahan penjelasan Bapak Sayidiman Suryohadiprodjo tentang hal tersebut bisa menjadikan terang peristiwa besar yang terjadi 50 tahun lalu, yang sampai sekarang masih gelap dan penuh misteri.

HARSOKO SOEDIRO

Pondok Gede Housing, Bekasi 17414

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 7 Agustus 2015, di halaman 7 dengan judul "Surat Kepada Redaksi".


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger