Perubahan seperti apa yang diharapkan terjadi di Kuba setelah kunjungan Paus? Paus Fransiskus adalah Paus ketiga yang pernah mengunjungi Kuba. Pada tahun 1998, Paus Yohanes Paulus II mengunjungi negeri itu dan Paus Benediktus XVI mengunjungi Kuba pada tahun 2012.
Hasil kunjungan dua Paus itu—Yohanes Paulus II dan Benediktus XVI—adalah konsesi pemberian visa kepada para misionaris dan dinyatakannya Hari Natal dan Paskah sebagai hari libur nasional. Hal tersebut penting karena sejak Revolusi Kuba (1959) yang membawa Fidel Castro ke puncak kekuasaan, praktik kehidupan beragama dilarang di negeri itu.
Meski ada perubahan di Kuba setelah kunjungan Paus Yohanes Paulus II dan Paus Benediktus XVI, Gereja tetap tidak dapat sepenuhnya menyelenggarakan pendidikan, mengoperasikan sekolah-sekolah, atau membangun tempat ibadah yang baru. Kegiatan pelayanan sosialnya pun dibatasi dan tetap dimonopoli pemerintah.
Sekarang, saat Paus Fransiskus berkunjung ke Kuba dalam perjalanannya ke Amerika Serikat, situasi sudah berbeda, sudah berubah. Fidel Castro tidak lagi berkuasa. Ia digantikan adiknya, Raul Castro. Dunia pun sudah berlari demikian cepat. Hal itu memaksa Kuba, kalau tidak ingin ketinggalan oleh gerakan perubahan dan kemajuan dunia, harus berubah pula.
Paus Fransiskus adalah tokoh yang memberikan andil besar dalam perubahan di Kuba. Dialah, lewat diplomasi "proaktif"-nya, meminjam istilah yang digunakan Menteri Luar Negeri Vatikan Kardinal Pietro Parolin, yang memperantarai pendekatan dan kemudian pemulihan hubungan diplomatik antara Kuba dan AS, Juli lalu.
Sejak lama, Gereja menyerukan pencabutan embargo oleh AS terhadap Kuba serta menekan Havana agar membebaskan para tahanan politik. Menurut berita, sebelum kunjungan Paus Fransiskus, Kuba membebaskan lebih dari 3.500 tahanan. Dulu, sebelum kunjungan Paus Yohanes Paulus II, Kuba membebaskan 300 tahanan, termasuk 101 tahanan politik, dan sebelum kunjungan Paus Benediktus XVI, Kuba membebaskan 2.900 tahanan. Januari lalu, ketika tercapai kesepakatan pemulihan hubungan AS dan Kuba, dibebaskan 53 tahanan politik.
Akan tetapi, tentu, kita berharap tidak berhenti di sini. Yang lebih penting lagi adalah dipulihkannya hak-hak sipil, kebebasan politik, kebebasan bersuara, kebebasan berkumpul, dan kebebasan menentukan pendapat dari rakyat Kuba yang selama ini dihilangkan. Dengan demikian, kunjungan Paus Fransiskus dapat dirasakan oleh seluruh rakyat Kuba, siapa pun mereka kembali menjadi manusia seutuhnya, manusia yang bermartabat.
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 22 September 2015, di halaman 6 dengan judul "Memaknai Kunjungan Paus ke Kuba".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar