Baru-baru ini diberitakan, sejumlah pemain timnas muda Indonesia lolos seleksi dan diterima menjadi Bintara TNI AD. Ini angin segar buat pemain, korban utama pembekuan PSSI dan hukuman skorsing dari FIFA.
Banyak pemain muda berbakat mencari pekerjaan lain di luar sepak bola agar dapat menyambung hidup. Ada yang menjadi artis sinetron, tukang bakso, pengemudi ojek, dan lain-lain. Maka, pilihan dan diterimanya mereka menjadi prajurit TNI cukup melegakan karena sesuai karakter pemain timnas yang harus disiplin dan bekerja sama.
Masuknya para pemain timnas muda ke TNI merupakan fenomena menarik di tengah kekhawatiran akan nasib mereka akibat situasi buruk persepakbolaan karena ulah para elite, sementara pemain menjadi korbannya.
Kabar ini menggembirakan, apalagi pihak TNI AD akan memberi kesempatan latihan teratur serta mengizinkan apabila mereka diperlukan bergabung kembali ke timnas tanpa kehilangan status sebagai prajurit TNI. Sungguh kebijakan yang patut diacungi jempol.
Ada baiknya para pemain diizinkan ikut seleksi masuk kepolisian yang juga sesuai dengan karakter olahraga.
ARIES MUSNANDAR, SRIGADING DALAM, MALANG
Lingkar Roda Daoed Joesoef
Saya tertarik pada tulisan opini "Kemajuan dan Keselamatan" yang ditulis oleh Bapak Daoed Joesoef (Kompas, 14 September 2015). Tulisan tersebut menyinggung bidang matematika tentang garis tengah (diameter) dan lingkaran. Agar tetap berbobot, saya hendak meluruskan salah satu kalimat terkait definisi "pi" pada tulisan itu.
Berikut kutipan kalimat yang saya maksud. "Penciptaan benda yang disebut 'roda' dan pemikiran mengukur 'pi' (n), yaitu perbandingan antara garis tengah dan lingkaran roda, membuat satu lompatan besar di tingkat kecepatan".
Sebenarnya simbol pi adalah p bukan huruf n, yang nilainya merupakan perbandingan antara keliling lingkaran dan garis tengahnya.
Salam hormat.
MUSTAR, MPD BTN AURA K4 NO 1 PALLANGGA, GOWA, SULAWESI SELATAN
Catatan Redaksi
Terima kasih atas koreksi Anda. Kesalahan ada pada kami karena sistem komputer di Redaksi saat itu belum diset untuk mengenali simbol-simbol.
Minyak di Jalan Tol
Jalan tol adalah jalan berbayar yang harusnya menjamin pemakai jalan aman dan selamat.
Tanggal 9/9/2015 sekitar pukul 15.00 kami menabrak bagian kiri belakang mobil boks warna kuning yang tiba-tiba melintang di depan kami, padahal kecepatan kurang dari 40 km per jam.
Saat itu ada mobil besar terbalik di bagian kiri jalan tol, lebih kurang 200 meter dari Pintu Tol Pulogadung dan sedang ditangani polisi dan petugas.
Kami melambat karena kami selalu menurunkan kecepatan lewat cekungan tersebut. Di depan kami ada mobil boks warna kuning dengan jarak cukup karena bisa melihat ban belakangnya.
Tiba-tiba mobil boks terputar, menabrak pengaman, dan melintang jalan karena tergelincir minyak di jalan tol. Kami terpaksa ke kanan sedikit dan terjadilah tabrakan. Kap kanan dinding robek. Namun, ini risiko kecil sebab jika saya banting kanan banyak bisa ditabrak kendaraan besar lain di jalur kanan.
Sopir mobil boks mengatakan ini bukan salahnya. Ini akibat ada tumpahan minyak. Setelah itu sopir mobil boks dan temannya melarikan diri.
Keesokannya pukul 10.00 kami melapor di kantor Jasa Marga, samping Pintu Tol Pulogadung. Malam sebelumnya, kami menelepon 80880123, melaporkan ada tumpahan minyak, diterima Saudara Putera.
Dari kantor Jasa Marga kami diarahkan ke kantor polisi Jalan Tol Cakung. Di sana kami dilayani petugas polisi Purwadi, Bakit, dan Tedy. Kami juga diminta melapor ke Kebon Nanas.
Sekitar pukul 11.00 hadir Saudara Triyono W, petugas jalan tol, yang mencatat nomor SIM dan HP. Namun, kami tidak ke Kebon Nanas karena sebagai dosen ada ujian mahasiswa.
Usul saya, buatlah prosedur pelaporan yang jelas jika ada kasus seperti ini. Siapa yang bertanggung jawab?
ALBERT DAANDEL, JL CENDANA X, JAKASAMPURNA, BEKASI
Pernyataan Positif
Pertengahan September ini, masyarakat gembira mendengar akan dimulainya era baru dalam mengatasi kemacetan di Jakarta dengan keluarnya kebijakan percepatan pembangunan perkeretaapian di sejumlah daerah (Keppres 98 dan 99 Tahun 2015).
Maka, kami kecewa dengan pertemuan para ahli di bidang transportasi yang hanya mengemukakan "...yang seharusnya...".
Rakyat mengharap solusi positif dan kreatif, bukan wacana.
SUTARJO, JAKARTA SELATAN
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 22 September 2015, di halaman 7 dengan judul "Surat Kepada Redaksi".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar