Produk domestik bruto (PDB) triwulan III-2015 tumbuh 4,73 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan II sebesar 4,67 persen, tetapi lebih rendah dari pertumbuhan triwulan III-2014 sebesar 4,92 persen dan perkiraan Bank Indonesia sebesar 4,85 persen.
Perbaikan pertumbuhan tersebut tetap memunculkan harapan bahwa upaya pemerintah memberi hasil meskipun menuntut kerja ekstra keras untuk memenuhi target pemerintah tahun ini, yaitu 5,2 persen.
Merespons pelambatan pertumbuhan ekonomi yang terlihat sejak triwulan I, pemerintah telah mengeluarkan rangkaian paket deregulasi perekonomian. Deregulasi berupa penyederhanaan perizinan dan insentif perpajakan untuk menarik investasi dunia usaha. Pemerintah juga tetap mempertahankan disiplin fiskal, yaitu defisit transaksi berjalan 3 persen dari produk domestik bruto sesuai ketentuan undang-undang APBN.
Sumber pertumbuhan ekonomi kuartal III adalah belanja pemerintah, terutama untuk sektor infrastruktur. Konsumsi masyarakat yang menyumbang lebih separuh PDB nasional justru melambat, terutama di sektor ritel.
Pertumbuhan kuartal III memperlihatkan, belanja pemerintah saja tidak cukup menggerakkan roda ekonomi. Apalagi, untuk tahun 2016 pemerintah ingin pertumbuhan lebih tinggi, yaitu 5,3 persen. Ekonomi perlu tumbuh kencang untuk menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kemakmuran rakyat.
Meskipun pemerintah masih akan terus menderegulasi berbagai peraturan, dunia usaha tetap menunggu langkah nyata implementasinya. Perekonomian sebagian adalah tentang persepsi sehingga kepastian keputusan pemerintah akan dilaksanakan menjadi penting.
Ketidakpastian muncul, antara lain, karena kegaduhan politik di antara anggota kabinet ataupun antara eksekutif dan legislatif. Bukan tanpa sebab Presiden Joko Widodo memerintahkan menteri-menterinya tidak saling berbantahan terbuka dan mematuhi keputusan yang diambil dalam sidang kabinet serta rapat terbatas para menteri.
Dalam bayang-bayang perekonomian tahun 2016 belum akan banyak berubah daripada tahun ini, stimulus berikut diharapkan dari penurunan suku bunga kredit. Namun, Bank Indonesia masih akan mempertimbangkan kerentanan rupiah menghadapi gejolak pasar uang dunia.
Harapan rakyat adalah terpenuhinya berbagai kebutuhan dasar. Meskipun pertumbuhan ekonomi belum setinggi sasaran, kita berharap hal itu dapat dikompensasikan pada pertumbuhan berkualitas, antara lain penciptaan lapangan kerja dan pemerataan kemakmuran.
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 7 November 2015, di halaman 6 dengan judul "Ekonomi Perlu Tumbuh Lebih Tinggi".

Tidak ada komentar:
Posting Komentar