Pada 2 Desember 2015, dengan penerbangan pertama, saya mengantar jenazah ayah saya menggunakan Lion Air JT 0196 dari Jakarta ke Banda Aceh, transit di Bandara Internasional Kualanamu, Sumatera Utara. Namun, akibat keteledoran Lion Air, jenazah ayah saya tertinggal (menurut pihak Lion Air) di Kualanamu.
Peristiwa tak menyenangkan ini terjadi karena kesalahan pengetikan (input) kode penerbangan. Keluarga baru mengetahui hal ini saat pesawat mendarat di Bandara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh. Padahal, segala prasyarat, dokumen serta pengarantinaan jenazah yang diminta maskapai, sudah kami penuhi. Kami juga sudah memenuhi permintaan agar jenazah siap di bagian kargo empat jam sebelum jadwal keberangkatan pesawat.
Akibat kejadian ini, jenazah ayah saya terlambat untuk dimakamkan. Apa pun alasan petugas saat itu tidak dapat kami terima. Jenazah adalah manusia yang sebelumnya pernah hidup, bukan sekadar barang. Kami sekeluarga sangat marah dan kecewa atas kejadian tersebut.
Tidak hanya itu, dalam penerbangan itu, beberapa anggota keluarga kami memiliki nomor bangku sama dengan penumpang lain (double seats). Padahal, kami sudah cukup bersabar atas pelayanan yang sangat lamban ketika proses pendaftaran masuk (check-in).
Kami ingatkan kepada masyarakat untuk berhati-hati dan semoga pengalaman ini tidak terulang kepada orang lain.
CUT NYAK INSEUN FARADENA
Kompleks Bir, Menteng Dalam, Tebet, Jakarta Selatan
Kecewa Program Latihan Kebugaran
Saya pelanggan baru pusat kebugaran Celebrity Fitness (Celfit) di Mal Central Park, Jakarta Barat. Saya mulai menjadi anggota pada 26 September 2015, dengan minimal kontrak setahun.
Karena belum paham teknik-teknik gimnastik (gym), saya menerima tawaran mengikuti program latihan dengan pelatih pribadi (personal trainer/PT). Maka, saat pertama kali mendaftar, selain membayar biaya administrasi dan bulanan yang relatif mahal, saya juga membayar biaya keikutsertaan program PT yang sangat mahal.
Namun, setelah program latihan berjalan dua bulan, terbukti bahwa para pelatih pribadi Celfit tidak profesional dan berulang kali mengecewakan pelanggan. Meski pelatih saya yang pertama, Iwan, sudah diganti PT lain bernama Eko, kualitas layanan sama buruknya.
Salah satunya terjadi pada 18 Desember 2015. Hari itu pukul 13.00, ketika menanyakan hak saya atas jadwal latihan, Eko menjawab dengan mengucapkan kalimat kasar, mengancam, dan menantang saya. Ketika hal itu saya bicarakan bertiga bersama manajer bernama Lusi, Eko tetap bersikukuh tidak mau meminta maaf. Ia malah kembali mengucapkan kata-kata kasar di depan manajernya, yang tidak bertindak apa pun meski saya sudah menunjukkan bukti yang dikirim via layan pesan singkat (SMS).
TIMOTHY
Jalan Greenvile Raya, Tanjung Duren, Jakarta Barat
Klaim Asuransi
Pada 17 Oktober 2015, saya mengirim perabot rumah beserta sebuah sepeda motor besar (Harley-Davidson) memakai jasa PT ESL. Barang kiriman diterima pada 29 Oktober 2015, tetapi kondisi sepeda motor rusak.
Dalam rincian biaya pengiriman terdapat biaya asuransi sebesar Rp 510.000 yang juga sudah saya bayar. Namun, ketika saya mengajukan klaim terhadap PT ESL, tidak kunjung ada tanggapan sampai saya mengirim surat ini pada 20 Desember. Saya merasa sangat tertipu dan dirugikan PT ESL.
M SIDIK
Jalan Buahbatu Dalam II,
BANDUNG
Nomor Telepon Tertukar
Pada 16 Desember 2015, telepon saya mendadak tidak dapat dipakai. Ternyata, nomor telepon rumah saya tertukar dengan milik orang lain. Saya sudah mengadukan hal ini ke sentral layanan pelanggan PT Telkom lewat telepon 147 dan mendapat nomor laporan IN1166729.
Namun, sampai surat ini ditulis, 21 Desember, telepon masih belum diperbaiki. Saya sudah berulang kali menanyakan lewat sambungan 147 dan selalu dijawab bahwa perbaikan akan segera dilakukan.
Saya merasa sangat terganggu karena banyak telepon tak dikenal yang masuk. Dengan ini saya juga menyatakan keberatan atas biaya pemakaian telepon oleh orang lain selama masa tertukarnya nomor ini.
Mohon Telkom segera memperbaiki telepon saya.
MARIO SAMUEL
Jalan Gili Sampeng Ujung 42 Kebon Jeruk , Jakarta Barat
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 8 Januari 2016, di halaman 7 dengan judul "Surat Kepada Redaksi".

Tidak ada komentar:
Posting Komentar