Cari Blog Ini

Sabtu, 14 Mei 2016

Koreksi Surat-surat Kartini//Tanggapan JD.ID//Teks Pidato (Surat Pembaca Kompas)

Koreksi Surat-surat Kartini

HarianKompas, Senin (25/4) di halaman 12, memuat tulisan "Kartini dan Literasi, Menyejarah Lewat Jejak Pikiran dan Perbuatan". Di situ disebutkan, terdapat 361 pucuk surat Kartini dan adik-adiknya yang disimpan di KITLV, Belanda. Disebutkan juga, pada 1911 diterbitkan kumpulan 115 surat Kartini kepada Rosa Manuela Abendanon-Mandri atau Ny Abendanon.

Dua hal di atas kurang benar. Terdapat 361 nomor dokumen meliputi surat-surat Kartini dan kerabatnya (empat adik perempuannya: Roekmini, Kardinah, Kartinah, dan Soematri; kakaknya Sosrokartono; ayahnya: Sosroningrat, dan suaminya: Djojoadiningrat) yang ditujukan kepada Ny Abendanon dan atau suaminya. Di samping itu, ada juga sejumlah foto Kartini dan kerabatnya, foto-foto lain, serta dokumen yang berhubungan dengan Kartini. Termasuk juga yang bersangkutan dengan pengumpulan dana di Belanda untuk sekolah bagi anak perempuan di Indonesia yang disebut Kartinifonds dan dokumen Van Deventer Stichting (lihat "KITLV inventaris 33 H1200").

Pada 1911 terbit kumpulan surat-surat Kartini yang disensor dengan judul Door Duisternis Tot Licht oleh JH Abendanon, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Armijn Pane dengan judulHabis Gelap Terbitlah Terang. Buku yang pada 2008 dicetak untuk ke-24 kali dan dikenal luas di Indonesia ini, memuat surat-surat Kartini kepada Ny Abendanon dan suaminya, juga kepada 12 teman korespondensinya yang lain, yang terkenal, antara lain, Stella Zeehandelaar dan Tn/Ny van Kol.

Surat-surat asli yang tersimpan di KITLV, Universitas Leiden, hanya yang ditujukan kepada Ny Abendanon dan suaminya. Surat-surat lain tidak diketahui keberadaannya. Keterangan ini saya dapat dari Jan van Rosmalen, pejabat KITLV Leiden. Surat-surat lengkap, tanpa sensor, diterbitkan di Belanda pada 1986 dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Sulastin Sutrisno pada 1989 dengan judul Kartini, Surat-Surat Kepada Ny RM Abendanon dan Suaminya.

HARSONO SUTEDJO, JL AKALIPA BLOK C, KEMANG PRATAMA 3, BEKASI 17114

Catatan Redaksi:

Terima kasih atas koreksi dan informasi Anda.

Tanggapan JD.ID

Harian Kompas, 3 Mei 2016, telah memuat surat dari Bapak Bram D Hudion yang beralamat di Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Isinya keluhan terhadap layanan kami. Sehubungan dengan itu, kami menyampaikan tanggapan sebagai berikut.

Pihak JD.ID setelah menerima pengembalian (retour) Xiaomi Band dari Bapak Bram pada 19 April. Begitu menerima barang tersebut, JD.ID langsung mengecek untuk mencari masalahnya.

Ternyata alat tersebut dapat berfungsi dengan normal. Karena itu, barang kami kirim kembali kepada yang bersangkutan. Pada 25 April, kami mendapatkan konfirmasi bahwa konsumen sudah menerima kembali barang pesanannya dengan baik. Dengan demikian, masalah dianggap sudah selesai.

SWARNA YUDA, CUSTOMER SERVICE MANAGER JD.ID

Teks Pidato

Ketika mengikuti upacara bendera pada Senin, 2 Mei 2016, di SMA Negeri 24 Bandung, pembina upacara membacakan teks pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan terkait peringatan Hari Pendidikan Nasional. Beberapa hal terdengar kurang pas di telinga saya sebagai seorang pegiat bahasa.

Penasaran dengan isi pidato, selepas upacara saya menghampiri pembina upacara dan memohon izin melihat teks pidato itu. Ternyata ada beberapa kesalahan bahasa di sana.

Pertama, kesalahan penulisan SWT yang menggunakan huruf kapital semua setelah kata Allah, di awal dan akhir pidato.

Kedua, terdapat tiga kata ijinkan, padahal mestinya izinkan.

Ketiga, pada naskah pidato itu tak semua huruf pertama pada awal kalimat menggunakan huruf kapital.

Keempat, penggunaan kalimat yang tak efektif. "Dunia saat ini adalah dunia yang sangat berbeda dengan dunia beberapa dekade lalu". Terdapat tiga kata duniadalam satu kalimat. Ini merupakan pemborosan kata dan kalimat pun tak efektif. Kalimat itu bisa diringkas menjadi"Dunia saat ini sangat berbeda dengan beberapa dekade lalu."

Kalimat lain yang tak efektif adalah,"Setiap anak lahir sebagai pembelajar, tumbuh sebagai pembelajar". Kalimat bisa diubah menjadi "Setiap anak lahir dan tumbuh sebagai pembelajar."

Saya tak bermaksud mencari kesalahan dalam naskah pidato Mendikbud Anies Baswedan, tetapi ini sekadar koreksi agar tak terdapat kesalahan bahasa dalam pidato selanjutnya. Ada baiknya pidato menteri dikoreksi terlebih dahulu oleh ahli bahasa sebelum disebarluaskan.

KAMIL MUBAROK, PEMERHATI BAHASA, KETUA SANGGAR BUDIDAYA LINGUISTIK, UPI BANDUNG

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 14 Mei 2016, di halaman 7 dengan judul "Surat Kepada Redaksi".


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger