Mereka sengaja dibuang pihak kolonial karena kiprahnya yang dipandang dapat mengganggu kemapanan politik, kepentingan ekonomi, dan kelangsungan kekuasaan kaum penjajah. Partai yang mereka bikin, tulisan yang disebarkan lewat majalah dan pamflet, ormas yang didirikan, serikat yang digalang dan atau kelompok diskusi yang mereka gerakkan dilihat sebagai embrio yang bisa menjelma bola salju dan suatu saat dapatmenyuntikkan keberanian massa untuk mempertanyakan hak-haknya yang dirampas, tanahnya yang diambil, dan martabat dirinya yang dihinakan sebagai inlander.
Politik etis yang jadi kebijakan Hindia Belanda pada titik tertentu menjadi senjata makan tuan. Perjuangan bergeser tidak dilakukan lagi lewat mobilisasi massa dengan pedang terhunus seperti zaman Pangeran Diponegoro, tetapi beralih pada kekuatan pikir. Keberanian bukan lagi diekspresikan dengan parang tajam, tetapi ketajaman pena yang disebarkan kepada khalayak, pada gelora pidato di lapangan yang berisi seruan untuk kritis terhadap lingkungan sekitar.
Politik etis telah menggeser peran "serdadu" yang dahulu diandalkan dapat mengusir penjajah dan ternyata hanya bisa gigit jari, diambil alih perannya oleh bangsawan pikir. Tentu saja yang dilakukan adalah strategi kebudayaan: bikin penerbitan, partai, perserikatan, menggalang buruh dan petani, menghidupkan kelompok diskusi, dan seterusnya.
Inilah zaman ketika kaum intelektual, kiai, dan pemikir mengambil peran penting menggagas Indonesia merdeka. Suatu zaman di mana manusia pergerakan tampil ke gelanggang dengan imajinasi politik yang kuat. Datang bukan sekadar intelektual yang cakap mengutip pendapat orang, tetapi mereka bergulat dengan otentisitas pikiran yang digali dari dengus napas massa yang diperjuangkan, dipadupadankan dengan setumpuk literasi yang selalu mereka diskusikan penuh gairah.
Dalam ranah kebudayaan digelar "polemik kebudayaan" yang masyhur itu.Di pusaran ini juga Bung Karno menawarkan tesis yang memadukan antara Islam, marxisme, dan sosialisme, dan kemudian ketika jadi presiden direvisi menjadi Nasakom. Hatta dan Sjahrir menyampaikan gagasan sosialisme. Tan Malaka mengusung komunisme yang bisa berjabat tangan dengan pan islamisme.Muso melempar komunisme radikal. Natsir menawarkan gagasan islamisme yang disenyawakan dengan demokrasi atau jauh sebelumnya raja tanpa mahkota yang menjadi soko guru kaum pergerakan HOS Tjokroaminoto menganggit sosialisme Islam sebagai antitesa komunisme tulen yang dipromosikan SI kiri-nya Semaun.
Mereka bukan sekadar melempar wacana murahan, tetapi semua itu dituangkan dalam kitab yang dibikin sendiri seperti jejaknya dapat kita baca hari ini. Kitab yang tidak saja melambangkan kekuatan nalar, keluasan bacaan, tetapi juga ijtihad yang dilakukannya menarik sehingga islamisme, komunisme, sosialisme, dan marxisme yang ditawarkannya itu berbeda dengan penggagas awalnya.
Dibuang
Tentu saja kaum bangsawan pikir itu pada akhirnya harus mendapatkan risiko dari semua tindakan politiknya: diajukan ke meja pengadilan. Tidak sedikit yang tidak diadili, tetapi langsung dilemparkan ke tempat pengasingan yang jauh dari Batavia dan pusat-pusat kota lainnya.
Politik pengasingan berangkat dari sebuah asumsi bahwa karena mereka membahayakan, maka harus dijauhkan dari massanya, mesti dipisahkan dari rakyatnya yang selama ini menjadi pembaca dan pendengar "provokasinya". Harapannya, khalayak kemudian kehilangan induk semangnya, tidak lagi memiliki pemimpin yang menjadi rujukan politiknya.
Di sinilah kemudian sejarah mencatat tempat-tempat yang pernah disinggahi manusia pergerakan dan para aktivis partai pra-kemerdekaan. Sebut saja Cipinang, Sukamiskin, Boven Digoel, Ende, atau jauh ke Colombia Sri Lanka dan ke Cape Town, Afrika Selatan, seperti dialami Syekh Yusuf al-Makassari.
Panggung perlawanan
Namun, apa hendak dikata, pembuangan itu tak membuat manusia pergerakan ciut nyalinya. Keberanian malah kian berkobar dan nafsu perlawanan makin menggelora.Pengasingan itu, dalam istilah Hilmar Farid, justru jadi semacam "medali kepahlawanan" yang mempererat persatuan, baik di kalangan pergerakan maupun dengan massa rakyat tertindas.
Secara tidak langsung, pengasingan itu dipandang rakyat sebagai bentuk heroisme. Alih-alih terpisahkan dari roh massanya, hubungandengan rakyat yang dibela malah semakin kukuh. Hubungan itu tak lagi diwujudkan dalam perjumpaan fisik, tetapi justru dalam relung jiwa, dalam roh, dalam imajinasi kemerdekaan yang telah jadi kesepakatan bersama.
Maka, tidak heran kalau Hatta, Sjahrir, Bung Karno, dan lain-lain, ketika di pengasingan alih-alih dihinggapi rasa frustrasi malah seolah terpompa semangatnya. Dengan kepala jernihdi pengasingan Ende (1934-1938), Soekarno banyak melakukan renungan dan membuat tulisan menarik seputar religiositas. Dilakukannya debat penuh minat tentang keislaman dengan A Hassan. Posisi hujjah yang diambil Bung Karno jelas: yang ditampilkan seharusnya bukan abu Islam, melainkan api Islam; umat Islam jika ingin maju harus selekasnya menanggalkan watak taklid dan memuji takhayul. Substansi keislaman itu adalah berpikir rasional.
Demikian juga Hatta. DiBoven Digoel, ia malah berceramah seputar filsafat dan ilmu pengetahuan. Coba bayangkan betapa uniknya di pengasingan Hatta mengajarkan filsafat! "Kuliah-kuliah"-nya itu kemudian dibukukan, Alam Pikiran Yunani, yang sampai kini dapat kita baca.
Tentu saja Tan Malaka adalah contoh lain, bukan saja menjadi manusia buangan yang dilempar ke pulau yang masih ada di garis khatulistiwa, bahkan nyaris separuh hidupnya dihabiskan di luar Tanah Air yang dibelanya. Menjadi manusia pelarian yang tidak henti diburu polisi rahasia Hindia Belanda karena tindakan revolusionernya. Malah kitab buah tangannya sendiri diberi judul, Dari Penjara ke Penjara. Lebih tragis lagi kelak dipenjarakan oleh kawan seperjuangannya dalam sebuah kemelut politik yang kusut.
Kalau hari ini banyak politisi masuk penjara, para pejabat digiring ke tahanan, pimpinan partai mendekam di balik terali besi, tentu masalahnya bukan tersebab karena kokoh mempertahankan prinsip. Pokok soalnya karenaIndonesia merdeka yang diwariskan kaum pergerakan bukan dikelola secara amanah, melainkan dijadikan ajang bancakan untuk memperkaya diri dengan cara hina-dina. Kalau dahulu selepas dipenjara, dengan kepala tegak mendapatkan kesempatan jadi pejabat dan tak henti dielu-elukan masyarakat, hari ini seusai menjabat mereka digelandang ke penjara dan tak henti jadi cemooh massa. Sayang, sekarang pemenjaraan initak menjadikanpolitik yang bikin jera. Koruptor disergap satu, tumbuh seribu.
ASEP SALAHUDIN, DEKAN DI FAKULTAS SYARIAH IAILM PESANTREN SURYALAYA DAN DI FAKULTAS SENI DAN SASTRA UNPAS, BANDUNG
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 14 Mei 2016, di halaman 6 dengan judul "Politik Pengasingan".

Tidak ada komentar:
Posting Komentar